PADANG, forumsumbar-— Anggota DPR RI asal Sumbar II, Hj Nevi Zuairina dalam kesempatan memberikan amanat dan pesan kepada Pengurus Pusat PII Wati di bawah organisasi pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) menyampaikan peran penting tokoh perempuan dalam membangun dan membentuk bangsa Indonesia hingga saat ini.
Tokoh-tokoh perempuan yang telah mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara ini, tertempa baik fisik dan jiwanya sejak di usia muda dengan penuh tekanan dan tantangan kehidupan mulai dari masa penjajahan hingga mengisi kemerdekaan.
Acara yang dilangsungkan dalam bentuk webinar ini merupakan acara nasional yang dihadiri oleh Kader Pelajar Putri/PII Wati se Indonesia yang digelar Sabtu (31/7).
Nevi Zuairina sebagai putri kelahiran Sumbar turut hadir secara penuh pada pembukaan rangkaian Hari Lahir Nasional PII Wati ke 57 tersebut.
Salah satu dinamisator pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa adalah para pelajar puteri yang di tengah tuntutan berilmu pengetahuannya, namun tidak melupakan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Di masa lalu, kita mengenal para tokoh pejuang wanita yang di usia muda mereka sudah peduli terhadap nasib rakyat dan berkontribusi kepada bangsa. Dan saya selalu tertarik dengan perjuangan Rohana Kudus. Sedikit ingin saya sampaikan bahwa beliau adalah pejuang wanita yang mendapat gelar Pahlawan Nasional dari dunia jurnalistik dan kepeduliannya terhadap kaum perempuan”, tutur legislator Sumbar ini.
Politisi PKS ini mengingatkan kembali, akan adanya surat kabar Soenting Melajoe yang terbit pertama kali pada 10 Juli 1912 yang diperuntukkan bagi perempuan di seluruh tanah Melayu, bahkan sampai menjangkau Malaka dan Singapura.
Dalam salah satu artikel berjudul “Perhiasan Pakaian”, Rohana membahas keterampilan perempuan dalam menjahit dan merangkai manik-manik atau hiasan untuk pakaian yang bisa dijual. Rohana mengajak para perempuan untuk berbisnis dengan modal keterampilan menghias baju.
“Salah satu pelajaran yang kita ambil dari perjuangan pahlawan kita di masa lampau adalah, betapa mereka meskipun seorang perempuan, tapi mampu mandiri secara ekonomi, Kuat cara berpikirnya dan kemampuan yang luar biasa dalam menyebarkan ide dan gagasannya,” imbuh Nevi.
Di zaman sekarang, lanjutnya, para pemuda putri Indonesia, mesti mampu berupaya berjuang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan pada tatanan masyarakat sesuai dengan porsinya masing-masing.
Saat ini, terang Nevi, negeri tercinta ini masih dilanda pandemi yang terus berkembang dan belum tahu sampai kapan selesainya. Banyak aktivitas produktif kita di berbagai sektor jadi terhambat bahkan terhenti.
“Namun bukan berarti kita berdiam dan menunggu situasi normal kembali. Kita harus bersatu dan bersama-sama dalam menghadapi pandemi ini. Sangat banyak hal yang bisa dilakukan oleh pelajar puteri dalam berbagi manfaat dengan yang lain,” tukas Nevi.
Setidaknya ada 2 hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk adaptasi gerakan pelajar puteri. Yang pertama menumbuhkan jiwa wirausaha, dan yang kedua, menjalankan peran sebagai agent of control.
Anggota DPR RI yang duduk di Komisi VI ini mengatakan, di tengah aktivitas belajar yang masih menggunakan metode online, kita bisa sambil terus mengembangkan kapasitas diri untuk berwirausaha.
Kewirausahaan melalui UMKM mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional.
“Pandemi menghantam perekonomian, dan penguatan basis wirausaha akan menjadi jalan keluar dari permasalahan pelik ekonomi bangsa,” kata Nevi.
Nevi berpesan, perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda khususnya para pelajar puteri, untuk mulai mempersiapkan diri dalam memasuki dunia usaha, tanpa meninggalkan dunia akademiknya. Apalagi perkembangan teknologi saat ini begitu pesat yang apabila mampu dipadukan dengan dunia wirausaha, tentu akan semakin membuat anak-anak muda tertarik untuk menekuni dan mengembangkan ide-ide kreatif kolaboratifnya.
Selain itu, tambahnya, para pemudi yang tergabung dalam PII Wati mesti mampu menjalankan perannya sebagai agent of control yaitu sebagai pengawas atas hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Fungsi ini menjadi sangat penting dilakukan demi merespon gejala-gejala sosial maupun kebijakan-kebijakan pemerintah (eksekutif) yang dirasa tidak sesuai dengan perkembangan dan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat, maupun mengkritik dan mendorong legislatif untuk bisa menjalankan fungsi kedewanan.
Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan bermasyarakat dan menyikapi kebijakan-kebijakan publik yang diberlakukan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera.
“Teknologi Komunikasi dan Informasi saat ini bisa sangat berguna, dan secara bersamaan bisa sangat merusak. Pemanfaatan teknologi untuk menyampaikan kritik dan saran, hendaklah kita bijak dalam bersosial media. Sangat penting bagi siapa saja untuk tidak menyebar berita yang belum jelas kebenaran nya, apalagi bohong (hoaks). Sehingga peran pelajar puteri dalam mengkritik dan mengawasi kinerja pemerintah selalu dalam koridor konstruktif, solutif, dan kreatif. Semoga melalui Refleksi Hari Lahir Korps PII Wati yang ke-57 ini, bisa menjadi batu loncatan pelajar puteri dalam melakukan relevansi gerakan dalam menghadapi tantangan global ditengah pandemik yang belum berkesudahan”, tutup Nevi Zuairina.
(Rel/nzvoice)























