Ery Mefri: Banyak Orang Minang Mengidap Psikologi Orang Kalah

PADANG, forumsumbar —Budayawan Minang, yang merupakan Maestro Tari Internasional, Ery Mefri mengatakan bahwa memahami Minangkabau tak cukup berlabel keturunan dan lahir di Ranah Minang saja, ditambah deretan gelar lebih panjang dari nama yang disematkan di dada ditambah dengan sekian penghargaan dari segala penjuru dunia.

Lanjutnya, kalau mau diakui jadi orang Minang apakah mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi tanpa membawa kekuasaan dan gelar yang di Ranah Minang, itu tak berguna karena disini: “Alam Takambang Jadi Guru”.

Setahunya, secara umum selama ini baru mampu dan punya keberanian memilih orang yang sudah diukur duluan untuk dibawa duduk semeja tanpa pernah berani mengajak orang yang belum terukur untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di tengah Galanggang yang sama atau dimana kata bisa dijawab dan disanggah.

“Baiknya pembicara dan yang pandai bersuara mulailah sembunyi-sembunyi untuk bercermin diri,” tegas Ery, seperti dilansir di status fesbuknya, Selasa (6/4).

Di Minangkabau sesalah dan sejelek apapun keluarga atau orang kampung, menurut Ery akan selalu dibela dan dilindungi di muka umum.

“Baru di rumah atau di kampung sendiri mereka akan dihajar, dimarahi malahan kalau perlu diusir dari kampung dan dibuang secara adat,” tukas pendiri Ladang Tari Nan Jombang, kelahiran Saniangbaka, Solok, 62 tahun yang lalu.

Marentaknya Ery, disebabkan sebelum siang Minggu 4 April 2021 untuk kesekian kalinya dugaan sekalian kekuatirannya dikuatkan dengan kehadiran sebuah kiriman wawancara, pembicaraan 2 orang berjudul: Banyak orang Minang mengidap psikologi orang kalah. “Hebat, namun yang pasti!” ucapnya.

Di awal statusnya itu, Ery menulis secara lugas bahwa diamnya Minangkabau mungkin dianggap berbeda, kesunyiannya menimbulkan ngilu entah datang dari mana, kelembutan riaknya tak mampu diraba, anginnya entah datang dari mana terus membuat gelisah beberapa pihak yang sangat ingin mengukur kedalaman air agar isinya terlihat nyata, menjadikan semua ingin mengusik dengan segala cara.

Ketenangan yang tak terpancing isu dan pelemahan memaksa pihak tertentu memakai tangan dari dalam balai-balai adat guna mengopok kemufakatan. “Racun itu datangnya sudah dari dapur rumah gadang. Tubo itu bersemayam di tiang balai adat nagari,” pungkasnya.

Dan sepertinya pandangan Ery mengenai hal ini akan berlanjut, sebab diakhir statusnya, ditulis: Bersambung.

 

(Ika)