JAKARTA, forumsumbar —Semangat pemuda Indonesia pasca Sumpah Pemuda terus menggelora sampai saat ini. Pemuda merupakan tonggak pembangunan negara, di tangan pemudalah bangsa Indonesia bisa bebas dari kungkungan imperialis.
Demikian disampaikan Sekretaris Jendral (Sekjend) Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia (IPPMI) Syurya Muhammad Nur, M.Si, Rabu (2/12), melalui rilisnya ke forumsumbar.com.
“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, kata Syurya menirukan ucapan legendaris yang disampaikan Bung Karno.
Oleh karena itu, lanjutnya, peran pemuda sangat di perlukan sekali, khususnya pada saat ini, di dalam derap pembangunan.
Menurutnya pemuda itu harus; pertama, Bersatu, dimana pemuda Indonesia terutama pemuda yang hidup di rantau, yang keluar dari kampungnya untuk meningkatkan taraf hidupnya dan keluarganya. Pemuda yang dirantau harus bersatu dengan para perantau lainnya, yang tergabung di organisasi perantauan dan terutama organisasi pemuda yang di rantau.
“Dalam hal ini hadirnya Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia (IPPMI) merupakan wadah berhimpun bagi para pemuda Minang di rantau dan tetap mengedepankan persatuan,” ujarnya.
Pemuda Minang harus bersatu dalam membangkitkan batang nan taradam demi kemajuan kampuang. Bersatu membangun kampung dari rantau merupakan hal keharusan bagi pemuda di rantau, minimal mengharumkan nama kampung di rantau dengan prestasi dan kemampuan pemuda tersebut di rantau.
Kemudian, kedua; Bangkit, yakni
pemuda Minang harus bangkit, seperti yang sudah disampaikan mambangkikan batang nan tarandam. Membangkitkan sesuatu yang terendam untuk menuju kampung yang lebih baik.
“Pemuda kampung jangan hanya diam di kampungnya, sebagaimana filosofi di Minang bahwa anak muda laki-laki minang terutamanya harus keluar dari rumahnya, harus di surau, dan pandai bersilat,” imbuhnya.
Dalam hal ini, kata Syurya, filosofi ini sangat dipakai sekali ketika pemuda Minang keluar dari kampungnya untuk meningkat taraf hidupnya dan keluarganya.
“Teringat saya dengan film Marantau. Nah itulah kurang lebih filosofinya. Bangkit jiwanya dengan semangat tinggi, akan membangkitkan taraf hidup kampungnya,” tukasnya.
Kemudian, ketiga, Jaya; maka ketika pemuda Minang di rantau sudah bersatu untuk membangun nagarinya atau kampungnya, bangkit jiwanya akan membangkitkan perekonomian kampungnya dan selanjutnya akan menuju hidup kejayaan di hari ke depan demi kampungnya.
(Rel/Candra)






















