JAKARTA, forumsumbar — Anggota Komisi I DPR RI Mayjend (Purn) Sturman Panjaitan mengatakan, dalam percepatan infratruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) harus lah menyasar kepada daerah mayoritas kepulauan.
Dimana daerah terdepan yang ada di Indonesia sangat membutuhkan infrastrukur teknologi informasi dan komunikasi yang mumpuni.
“Setiap elemen masyarakat seharusnya bisa merasakan fasilitas jaringan komunikasi yang baik, terlebih daerah terdepan bangsa kita yang harus mendapat perhatian lebih dari sisi perkembangan infratruktur komunikasi,” kata Sturman.
Menurut purnawirawan TNI Angkatan Laut ini, dirinya sangat mengerti dan paham betul bagaimana situasi dan kondisi daerah yang sering disebut 3 T (terdepan, terluar, dan tertinggal) di Indonesia.
Pihaknya selalu mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan unit Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (Bakti) serta stakeholder lainnya untuk menguatkan infrastruktur komunikasi agar segara terjadinya pemerataan di daerah terluar Indonesia.
“Kami di Komisi I DPR RI, mendesak dan mendorong agar Kementerian Komunikasi dan Informatika memberikan percepatan untuk membangun infratruktur komunikasi yang ada di Kepulauan Riau khususnya,” kata Sturman.
Dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis mengungkapkan, seiring kemajuan teknologi, kebutuhan manusia untuk hidup pun kini bertambah. Tak hanya persoalan makan dan tempat tinggal saja, kebutuhan akan daya dan sinyal internet menjadi sebuah keharusan yang dipenuhi.
“Kita harus akui internet dan sumber daya energi di telepon pintar adalah kebutuhan baru bagi kita semua,” tutur Yuliandre saat menjadi pemateri dalam diskusi berbasis daring yang diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (Bakti) dengan tema “Pemanfaatan TIK oleh Masyarakat sebagai Media Edukasi dan Bisnis” di Jakarta, Kamis (26/11).
Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017-2018 ini menegaskan, imbauan untuk bekerja di rumah selama merebaknya pandemi Covid-19 membuat total unduhan aplikasi penyedia layanan panggilan video dan konferensi Zoom mengalami kenaikan.
Mengutip data dari statiska.com, Yuliandre mengatakan tercatat ada 3,2 juta unduhan baru dari aplikasi tersebut, namun menjadi hal yang perlu diperhatikan adalah segi tingkat keamanan yang harus selalu di waspadai.
“Bagaimana masyarakat Indonesia mengisi hari-harinya dengan platform baru untuk mengisi infratruktur itu, kegiatan ini juga menjadi bagian merajut nusantara,” kata Andre, sapaan akrab mantan Ketua KPI Pusat ini.
Andre mengegaskan, metode daring ini yang seakan sudah menjadi kewajiban agar masuk ke dalam dunia pendidikan, dimana dia melihat ada sekitar 20 persen kenaikan penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan dengan artian 5 dari 10 guru sudah menggunakan komputer dalam proses belajar mengajar.
“Kini kita semua sudah sangat familiar dengan aplikasi Zoom dan YouTube. Kedua aplikasi ini sekarang sudah menjadi ruh kegiatan belajar mengajar dan bisnis yang dilakukan untuk proses pembelajaran,” tutur Yuliandre.
Namun, tidak semudah yang dibayangkan, lebih jauh, Andre menilai dalam metode pembelajaran daring ini juga memiliki banyak tantangan di dalamnya. Bedasarkan hasil riset dan penelitian yang dilakukan oleh Astini (2020) dalam jurnal ilmu pendidikan ini mengungkapkan fakta, dimana ada sekitar 50 persen para pengajar dan murid yang belum pernah melakukan pembelajaran dengan metode daring, dan 25 persen tidak adanya fasilitas pendukung seperti komputer jinjing dan 25 persen belajar hanya menggunakan telepon pintarnya.
“Jadi, pembelajaran melalui daring ini masih memiliki tantangan tersendiri, adapatasi hingga infrastrkur teknologi menjadi sesuatu yang harus diperhatikan,” pungkas Andre.
(Syahrul)






















