PADANG, forumsumbar —Untuk menumpahkan kegundahan hatinya terhadap ketidakadilan, ketimpangan dan kemunafikan, budayawan dan juga seniman yang merupakan koreografer internasional Ery Mefri melakukannya dengan berbisik.
Berkata secara perlahan-lahan, yang terus disampaikan oleh Ery Mefri dengan “Kamis Berbisik” di laman fesbuknya, itulah cara seorang “sufi”, atau “maha guru” di dalam mengkritisi keadaan. Kalau yang lain, mungkin sudah berteriak keras, tak karuan.
Bisik Ery Mefri merupakan kecintaannya yang amat dalam terhadap Minangkabau. Ia bebas melakukan otokritik, dan siapapun yang menggerus dan mengganggu Minangkabau, jiwa Ery memberontak.
Permasalahan perkataan Puan Maharani tempo hari ternyata mengusik keminangan Ery. Apalagi dengan adanya para pembela dan pengambil muka dari tokoh-tokoh Sumatera Barat. Ery pun berbisik secara spesial.
“Buat Para Petinggi Negeri ini. Kalian mungkin boleh bicara Sumatera Barat dari sudut pandang Perantau tapi jangan lupa dengan Sumatera Barat sebagai bagian sekaligus adanya di Ranah Minangkabau. Mestinya kalian paham. Mulutmu Harimaumu!” bisik Ery.
Kemudian beragam masalah menjadi bisik Ery, mulai dari persoalan pergerakan seniman di Sumatera Barat yang timpang akibat birokrasi, sampai kepada otokritik terhadap persoalan-persoalan budaya Minangkabau.
Di masa pandemi Covid-19 ini, sepertinya Ery Mefri agak alergi dengan yang namanya berkesenian dengan virtual. Mudah-mudahan pandemi cepat berakhir, dan akan kita saksikan kembali karya-karya koreografi Ery, dari hasil perenungan panjang, di Ladang Tari Nan Jombang Dance Company (NJDC) miliknya.
Tapi sementara itu, kalau dulu tiap tanggal 3 di awal bulan bisa kita lihat pementasan, sekarang dinikmati dulu setiap Kamis, bisik dari Ery Mefri.
(Ika)























