PADANG, forumsumbar —Pilkada Sumbar mulai masuk pada fase membangun komunikasi yang intens, dimana sampai akhir Agustus, parpol sudah harus menyiapkan pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur yang akan didaftarkan ke KPU Sumbar.
Memaknai istilah media sosial (medsos), yakni following artinya mengikuti atau follower pengikut, istilah ini di pilkada bisa disebut mengusung (following) atau cuma mendukung (follower).
Kekinian jelang pendaftaran paslon pilkada ke KPU Sumbar bisa dikatakan tiga paslon sudah di-following (diusung) oleh parpol. Ada empat parpol yang masih antara jadi following atau cukup follower saja, yakni Partai Golkar, Nasdem, PDI Perjuangan dan PKB.
Walaupun PKB sudah mendeklarasikan mengusung pasangan calon Faldo Maldini – Febby Dt Bangso, tapi karena kursi PKB hanya 3, maka belum cukup syarat untuk mendaftar ke KPU Sumbar.
Banyak kalangan di Sumbar menantikan apakah Partai Golkar, Nasdem dan PDI Perjuangan atau mungkin juga PKB, menjadi following atau follower di Pilkada Sumbar?
“Tidak mungkin partai setenar dan sesolid Partai Golkar hanya menjadi follower, atau sekedar ikut-ikutan, di pentas demokrasi Pilkada Sumbar,” ujar Erdi, warga Jati, di sebuah kedai kopi di Jalan Taduah Minggu (26/7).
Banyak kalangan di Sumbar berpendapat, Partai Golkar, PDI Perjuangan dan Nasdem termasuk PKB akan membangun koalisi, karena sama menjadi parpol pemerintahan di pusat.
Tiga paslon yang dipastikan diusung parpol sampai hari ini : Nasrul Abit-Indra Catri (Partai Gerindra: 14 kursi). Mahyeldi-Audy (PKS-PPP dengan total 14 kursi). Terus hari ini Mulyadi-Ali Mukhni (Demokrat-PAN dengan total 20 kursi). Faldo-Febby (PKB dengan 3 kursi).
“Itu parpol yang menjadi following, atau pengusung di Pilkada Sumbar 2020, jika tidak ada ‘gempa politik besar’ jelang pendaftaran ke KPU Sumbar September nanti,” ujar kolumnis politik Sumbar Novrianto, Minggu sore di GOR Agus Salim Padang.
Bagaimana dengan Partai Golkar, Partai Nasdem dan Partai PDI Perjuangan, yang infonya masih membuka diri untuk tokoh dan figur maju Pilkada Sumbar?
Partai Golkar sebagai Parpol historis demokrasi dan pemilik suara pemilih tradisionil terbesar di Sumbar, platform Golkar dikenal publik sangat tidak mau sebagai ‘tukang sorak’, atau sebagai follower, pendukung paslon yang telah diusung parpol lain.
“Partai Golkar, apapun bentuk pesta politik sepanjang saya tahu, pasti selalu menjadi sentral politik dan kebijakan di Sumbar. Itu dari dulu hingga sekarang. Partai Golkar selalu mendominasi pesta politik,” ujar Novrianto yang juga Koordinator Forum Wartawan Parlemen Sumatera Barat (FWPSB) ini.
Tapi sampai minggu ini, Partai Golkar buat publik gusar dan bertanya-tanya, kemana bendera tempur ditancapkan parpol tersebut.
Kini publik anggap cukup bagi Partai Golkar sebagai following di pilkada atau menginisiator adanya koalisi mengusung calon, misalnya Faldo-Febby atau ada paslon lain disiapkan Partai Golkar dengan parpol lainnya.
“Tunggu dulu, ada kata bijak di politik yakni last minute, saya yakin Partai Golkar akan membangun koalisi dengan 14 atau 17 kursi di DPRD Sumbar,” ujar Wardi di Jalan Taduah.
Mestinya Partai Golkar, PDI Perjuangan dan Partai Nasdem memperkuat paslon yang dideklarasikan PKB, yakni Faldo-Febby dengan pola adaptasi kehidupan baru yaitu semua parpol adalah following dari paslon Faldo-Febby. Tidak ada yang berjasa terkait ini, dimulai lagi dari nol kilometer.
“Kalau kesepahaman itu terbangun, maka elite PKB, Partai Golkar, Nasdem dan PDI Perjuangan di pusat, yang sering ketemu di Istana Negara tinggal salam kompak berempat maka Faldo-Febby masuk itu barang,” ujar Idrus sambil tersenyum.
Empat parpol ini di Sumbar oleh pemilih sudah dilabel sebagai parpol pendukung Presiden Jokowi dan Wapres Kiyai Ma’ruf Amin. Meyakinkan pemilih bahwa pembangunan Sumbar lima tahun ke depan semakin kencang jika cagub dan cawagub diusung empat parpol ini menang di Pilkada Sumbar Desember nanti.
Diskusi Kedai Kopi jelang sore pun mewanti-wanti PDI Perjuangan yang mesti memikirkan agenda politik jauh ke depan.
“Kalau hanya menjadi follower di Pilkada Sumbar, maka PDI Perjuangan akan kesulitan bersinar di Pemilu dan Pilpres ke depan di Sumbar,” ujar Erdi lagi.
Terus bagaimana pula dengan Partai Nasdem? Banyak kalangan pemilih berharap, untuk Pilkada Sumbar, Nasdem sekali ini, partai dengan founding father-nya Surya Paloh harus memutar otak untuk menancapkan kaki di kekuasaan Provinsi Sumbar.
“Pilihan menjadi following bagi Golkar, PDI Perjuangan dan Nasdem hanya dua, men-take over Faldo-Febby menjadi paslon koalisi, atau mencari paslon baru. Terserah apa nama koalisinya yang pasti pembangunan Sumbar lima tahun ke depan di-backup full oleh pemerintah pusat. Atau sekedar follower dengan menjadi parpol pendukung di Pilkada Sumbar 2020,” ujar Novrianto.
(Rel/Ad)
























