
Oleh: Jumiarti Agus
(Presiden Internasional ACIKITA)
BANYAK sekarang orang Indonesia pergi ke luar negeri untuk magang. Di antaranya yang favorit itu adalah ke negara Jepang. Mencermati itu, penulis yang selama ini hidup di Jepang, memberikan saran sebaiknya ke Jepang jangan hanya sekadar jadi pemagang, “money oriented” yang kerja fisik dan buruh kasar. Sebaiknya ke Jepang itu untuk menuntut Ilmu.
Kalau tujuan pergi ke Jepang untuk menuntut ilmu (bersekolah), maka insyaAllah potensi diri akan meningkat, bahkan bisa menjadi generasi Habibie untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
Bila harus pulang ke Indonesia, umumnya mereka bekerja pada jalur profesional. Jadi manager di berbagai perusahaan Jepang. Jadi peneliti dengan posisi yang jauh lebih baik, ketimbang jabatan saat akan berangkat ke Jepang. Bahkan ada yang jadi menteri dan jabatan sejajar menteri. Dan ini terjadi pada umumnya alumni dari universitas di Jepang.
Rata-rata para alumni Tokyo Institute of Technology –yang merupakan almamater penulis– sudah pada jadi professor di berbagai universitas di Indonesia. Memegang posisi penting di universitas.
Makanya, penulis menyarankan orangtua di Indonesia bisa mengarahkan anak-anaknya untuk memilih jalur kanan bila ingin berangkat ke Jepang. Jalur kanan yakni; menuntut ilmu, jalur profesional. Jangan pilih Jalur kiri, dengan bekerja di sektor tanpa keahlian dan hanya kerja fisik (buruh kasar).
Testimoni Jalur Kiri/Jalur Magang yang Sedih
Berikut penulis kutip sebuah penuturan melalui akun FB kanankiriwaw yang bercerita tentang pengalaman seseorang yang sudah pulang ke Indonesia yang masuk ke Jepang jalur magang (jalur kiri);
3 tahun magang di Jepang bisa bayar hutang, kuliahin adik, beli tanah, dan bangun rumah sederhana. Sepertinya udah sempurna—cita-cita ke Jepang tercapai semua.
Tapi.… fase paling rawan justru setelah pulang.
Teman jadi banyak. Teman yang jauh mendekat. Orang yang gak kenal tiba-tiba jadi teman. Kerjaannya nongkrong, dan aku sering jadi bos bayarin kopi teman-teman. Maklum.… “bos Jepang”
Ada aja yang nawarin kerja sama, investasi, dll. Karena gak punya pengetahuan dan skill, merasa uang banyak, semua diiyain. Ya karena teriming-iming dapet return gede dengan cuma ongkang-ongkang kaki. Kalau bahasa sekarang: “biarkan uang bekerja.” Aseeekkk…
Gak lama, tiba-tiba tabungan habis. Entah hilang ke mana. Investasi mandek, usaha juga mandek… bangkrut. Setelah itu baru bingung mau ngapain. Perlahan teman-teman baru menghilang, dan serasa gak punya masa depan. Wkwkwkwkwk…
Ternyata yang bikin miskin itu bukan gaji kecil… tapi gaya hidup + keputusan bodoh.
Kesalahan-kesalahan yang aku rasakan setelah pulang magang di Jepang:
1) Merasa uangnya “banyak banget”, jadi hidupnya ikut kebablasan. Di Jepang kita kebiasa pegang yen, pulang-pulang lihat rupiah jadi “wah gede”.
Akhirnya muncul pola: “sekali-sekali lah…”
Padahal “sekali-sekali” itu kalau diulang… jadi kebiasaan.
2) Saat masih di Jepang, nggak bikin rencana. Cuma mikir: yang penting pulang dulu. Aku dulu juga gitu. Harusnya sebelum pulang udah ada minimal 1 rencana jelas: mau kerja apa, usaha apa, atau skill apa yang mau dijual.
3) Salah pilih ‘pamer’ duluan daripada ‘aman’ duluan. Ini paling halus tapi paling bahaya. Beli ini itu biar terlihat sukses… tapi lupa bikin fondasi: dana darurat, investasi, atau modal usaha.
Intinya… Jepang itu bisa bikin kita “jadi”, tapi habis pulang bisa bikin kita “habis” kalau gak siap. Kalau kamu sekarang masih di Jepang, atau baru pulang… jangan ulangi kesalahanku ya
Kamu pernah ngalamin yang mana? nomor 1, 2 atau 3? Atau ada yang lain?
Cerita di kolom komentar ya. Siapa tahu bisa jadi pelajaran yang lain
Kalau kamu pernah/lagi di fase ini, follow dulu ya. Aku bakal lanjut seri “hidup setelah pulang dari Jepang” biar gak salah langkah.
#magangjepang #tokuteiginouindonesia #kerjakejepang
Datanglah ke Jepang Sebagai Student
Penuturan di atas adalah nyata, bahwa mereka yang masuk ke Jepang untuk tujuan bekerja pada sektor non profesional (tanpa keahlian), tidak mempunyai tambahan ilmu dan keahlian semasa bekerja di Jepang.
Sungguh disayangkan, padahal ada banyak tempat untuk meningkatkan potensi diri di Jepang. Andaikan memilih jalan untuk bersekolah datang ke Jepang, baik di dalam kampus, maupun di luar kampus, karena di kampus sungguh tersedia beragam informasi untuk para student asing, yang bisa dipilih sesuai minat kita masing-masing.
Ada beragam kesempatan seminar dan internasional conference untuk menambah link dan pertemanan untuk meningkatkan potensi diri.
Di samping itu juga beragam manfaat dan fasilitas yang diterima oleh student, baik dari pemerintah, kampus dan masyarakat.
Sungguh sangat nyaman, bila datang ke Jepang sebagai student.
Kami di ACIKITA sejak sebelum berdirinya ACIKITA sudah sering menjamin dan membantu anak bangsa yang ingin lanjut studi ke universitas di Jepang, karena kami ingin banyak yang bisa merasakan kesempatan untuk menuntut ilmu di berbagai universitas di Jepang.
Sejak 2018, mendeklarasikan berdirinya Sekolah Persiapan Lanjut Studi ke Jepang, kami mempunyai kurikulum untuk mempersiapkan anak-anak kita untuk masuk universitas di Jepang, baik untuk S1, S2 dan S3.
Semuanya kami lakukan untuk kemajuan putera puteri bangsa Indonesia, untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
Bila dibandingkan dengan bangsa Jepang, kita jauh kalah dari mereka, yang punya expert di berbagai bidang. Buktinya saja, hingga saat ini, belum ada dari anak bangsa yang menjadi Nobel Prize, sementara orang Jepang sudah lebih dari 30 orang yang mendapatkan Nobel Prize.
Kemajuan suatu bangsa, kuncinya ada pada sistem pendidikan. Dan di sinilah ACIKITA memegang peranan, kami punya disain sistem pendidikan nasional bangsa Indonesia. Agar kita bisa menjadi negara yang maju, aman, damai dan sejahtera.
“Berjuang bersama membangun bangsa, melalui perjuangan pada bidang pendidikan, mari kita memutus rantai masalah bangsa.” Ini adalah motto kami di ACIKITA.
Semoga Allah bantu selalu perjuangan kami di ACIKITA. Aamiin YRA
Sekilas ACIKITA
ACIKITA adalah organisasi yang didirikan oleh anak bangsa yang berkarya (akademisi) di Tokyo Institute of Technology pada tahun 2006 dengan tujuan untuk memajukan Indonesia melalui perjuangan pada bidang pendidikan, karena pendidikan adalah akar kemajuan bangsa.
Visi ACIKITA itu; “Berjuang bersama membangun bangsa melalui bidang pendidikan untuk memutus rantai masalah bangsa.”
Salah satu fokus perjuangan di ACIKITA adalah mencetak generasi Habibie, maknanya generasi masa depan bangsa yang mempunyai keahlian spesifik, cinta tanah air, dan punya moral yang baik.
Dan untuk mencapai tujuan ini maka sejak 2018, ACIKITA membuka Sekolah Persiapan Lanjut Studi ke Jepang (PTU-ACIKITA/ School of Preparation to Enter University in Japan).
Program ini dibuat karena terdapatnya perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan di Jepang, sehingga para pelaku pendidikan/orangtua siswa tidak memahami bagaimana seluk-beluk untuk bisa diterima seleksi beasiswa Jepang dan masuk universitas di Jepang.
ACIKITA telah mendisain kurikulum khusus untuk siswa dan mahasiswa Indonesia yang ingin lanjut studi S1/S2/S3 ke universitas di Jepang. Dimana, generasi muda Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, dapat bergabung menjadi murid PTU ACIKITA. *)























