
Oleh: Divia Putri Zen
(Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Padang)
DI NAGARI Koto Rajo Kabupaten Pasaman, tepatnya Jorong VII Batu Tinggi, ada sebuah tradisi turun temurun yaitu Molomang Padi Nak Tebik.
Molomang Padi Nak Tebik ini adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh warga setempat sebagai bentuk rasa syukur dan dipercaya dapat membawa kesuburan bagi tanaman padi.
Dalam tradisi ini, para petani melakukan acara memasak beras ketan di dalam bambu pada saat padi berusia dua setengah bulan, tepatnya saat padi mulai berbuah.
Tradisi Molomang Padi Nak Tebik ini umumnya dilaksanakan oleh orang yang bertani atau mempunyai sawah dan yang memasak lomang tersebut adalah kaum ibu-ibu.
Tradisi molomang ini dilaksanakan 3-4 kali dalam setahun, sesuai dengan berapa kali para petani bersawah.
Kegiatan bertanam padi warga setempat juga dilakukan secara serentak. sesuai dengan informasi dan arahan yang disampaikan oleh niniak mamak setempat.
Molomang Padi Nak Tebik dilakukan ketika padi sudah berusia dua setengah bulan, tepatnya ketika padi mulai berbuah. Niniak mamak setempat berdiskusi terlebih dahulu untuk membicarakan kapan akan dilaksanakannya molomang dan setelah terjadinya kesepakatan barulah diumumkan kepada masyarakat bahwa acara molomang akan dilaksanakan pada hari yang sudah disepakati.
“Pernah waktu itu ada sekelompok warga yang tidak ikut melaksanakan tradisi molomang ini, padinya tidak berbuah dengan baik dan tentunya hasil panennya sangat buruk,” tutur Lilis (54), salah seorang warga Jorong VII Batu Tinggi.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan jam 4 menjelang subuh. Padi dimasak di dalam bambu, lubang di dalam bambu dialasi dulu dengan daun pisang, lalu beras ketan yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam bambu bersamaan dengan santan dan sedikit garam.
Ketika lomang sudah masak ujung lomang tersebut diambil dan dipisahkan untuk ditaburi di sawah yang tadinya mulai berbuah.
Tidak hanya ibu-ibu, anak-anak juga menyaksikan acara memasak lomang tersebut. Di waktu menjelang matahari terbit anak-anak biasanya berkumpul bersama dengan seusianya untuk maraton pagi sehingga pada acara molomang lah anak-anak mempunyai kesempatan untuk maraton pagi.
Tradisi molomang dilanjutkan setelah salat Maghrib. Pada sore harinya niniak mamak mengumumkan agar masyarakat setempat ikut berdoa bersama di masjid setelah Maghrib dengan membawa satu bambu lomang yang tadinya sudah dimasak.
Masyarakat yang hadir di masjid berdoa untuk keselamatan padi yang mulai berbuah. Doa dipimpin oleh imam. Setelah berdoa dilanjutkan dengan makan lomang bersama.
Tradisi Molomang Padi Nak Tebik ini menjadi bukti bahwa masyarakat Nagari Koto Rajo masih sangat menghargai dan menjalankan tradisi turun temurun yang ada. Tidak hanya tradisi Molomang Padi Nak Tebik, tradisi turun-temurun lainnya juga masih tetap dilakukakan warga setempat. *)























