Oleh : WIZTIAN YOETRI
// forumsumbar //
PRESS Emblem Campaign (PEC) merilis kabar duka. Sedikitnya 127 jurnalis meninggal akibat Covid-19 di berbagai negara. Diduga mereka meninggal lantaran minimnya perlindungan saat bertugas.
Lebih rinci, Sekretaris Jenderal PEC, Blaise Lempen menjelaskan wilayah terdampak bagi jurnalis tersebut adalah, Amerika Latin sedikitnya 62 jurnalis, diikuti Eropa 23 Jurnalis, Asia dengan 17 Jurnalis, Amerika Utara 13 Jurnalis dan Afrika dengan 12 Jurnalis.
Peru merupakan negara jumlah tertinggi, 15 jurnalis, Brazil dan Meksiko 13 jurnalis dan 12 jurnalis dari Ekuador. Sebanyak 12 jurnalis dari Amerika Serikat, delapan jurnalis dari Rusia dan Pakistan. Disusul Inggris, Banglades, Bolivia, Kamerani, Dominika, Prancis, India, Italia, Spanyol, Aljazair, Kolombia, Mesir, Swedia, Austria, Belgia, Kanada, Iran, Jepang, Maroko, Nikaragua, Nigeria, Afrika Selatan, Togo, Zimbabwe. Semua negara tersebut memiliki data jurnalis yang tewas akibat Covid-19.
Data dari PEC di atas bisa jadi akan sangat detail jika semua lembaga dan organisasi media di dunia melaporkan keadaan masing-masing. Angka dari NGO yang bermarkas di Jenewa ini dipastikan akan meningkat tajam.
Sementara itu, di Indonesia, hasil riset Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran mengungkapkan 45,92 persen wartawan mengalami gejala depresi di tengah wabah Covid-19. 57,14 persen mengalami kejenuhan umum. Semoga tak ada relis jurnalis meninggal akibat Covid-19.
Lebih rinci, hasil riset CEDS mengungkapkan 47,3 persen depresi dialami wartawan laki-laki, 43,90 wartawati. Sedangkan menurut usia, wartawan berusia 21-30 lebih memiliki gejala depresi 52, 8 persen dibandingkan usia 31-40 tahun, 44,19 persen, dan 41-50 tahun, 25 persen.
Gejala depresi dialami di antaranya sulit memusatkan pikiran, merasa tertekan, lebih berat mengerjakan, ketakutan, tidur gelisah, merasa kesepian. Gejala ini bisa meningkat ke taraf lebih berbahaya bila tidak ditanggulangi secepatnya.
Selalu Awas
Ketua Umum PWI, Atal S. Depari mengingatkan agar awak media bekerja dengan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Tingkat kewaspadaan tak boleh dikendurkan dalam meliput di lapangan, bagaimanapun juga, pekerja media termasuk yang paling rentan terjangkit selain tenaga medis.
Peringatan dari data-data yang dirilis di atas tak perlu ditakuti tetapi harus dipelajari. Apalagi bagi wartawan daerah, dengan kondisi yang serba terbatas. Semua orang tentunya terdampak pandemi ini, begitu juga jurnalis. Menjaga diri itu hal utama dalam menjalani tugas.
Beberapa waktu lalu ada berita lokal, agar perhatian pemerintah juga menyasar wartawan daerah yang terdampak pandemi. Hal ini tentunya terlebih dahulu menjadi perhatian bagi lembaga pers tempat para jurnalis bernaung, serta organisasi pers yang harus memerhatikan anggotanya. Pemerintah tentunya punya perhatian secara umum terhadap masyarakat terdampak.
Pers daerah sangat terdampak tentunya. Di tengah disrupsi media massa sekarang, lembaga pers profesional haruslah memperkuat sinergi para pekerja di tengah pandemi ini. Organisasi pers yang ada, harus pula membicarakan persoalan anggota-anggotanya.
Kini media-media online tumbuh subur, sayangnya belum ada laporan lembaga pers tersebut sudah mampu memberikan kesejahteraan terhadap pekerjanya. Organisasi pers harus kritis terhadap lembaga pers khususnya media online, agar posisi tawar para jurnalis benar-benar setara dengan kepentingan publik dari profesi yang diembannya.
Bila hal ini dibicarakan dengan seksama tentunya tak perlu ada suara meminta perhatian terhadap pemerintah daerah yang tentunya sedang ketar-ketir menghadapi wabah ini. Sebab secara filosofis kehadiran pers sebagai pilar demokrasi yang mengkritisi dan sosial kontrol terhadap pemerintah. Artinya tidak ada jalur sedikitpun untuk meminta perhatian. Pers harus mengurus dirinya sendiri, jika ingin merdeka dalam menyuarakan kebenaran. Pers berdiri di antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif, begitulah idealnya.
Pada banyak diskusi tentang pers, sering diungkapkan anjuran agar para jurnalis memilih lembaga pers yang sehat dan mampu menyejahterakan. Pekerja media terus menambah kapasitas dalam hal kemampuan, integritas, kualitas, sehingga bisa bersaing dan layak digaji sesuai dengan kinerjanya. Temuan di lapangan, sering sekali begitu banyak jurnalis hebat tetapi berada di lembaga pers yang tidak sehat, sebaliknya juga ditemukan jurnalis yang buruk tetapi bekerja di lembaga pers yang sehat. Namun demikian, jurnalis yang punya kapasitas bagus biasanya akan selalu mendapat tempat sedangkan jurnalis yang berkinerja buruk selalu terhanyut keadaan.
Kini dengan kondisi yang kian mengkhawatirkan, pandemi Covid-19 yang kian hari menunjukkan angka terjangkit yang mengerikan, sudah waktunya pers daerah membenahi membenahi diri. Melalui lembaga pers dan organisasi pers, para jurnalis memikirkan masa depan bersama. Angka yang direlis PEC dan CEDS di atas bukanlah sekadar angka-angka, tetapi menyangkut nyawa. Sebelum semua terlambat, bersegeralah merapatkan barisan.**
Penulis adalah Wartawan Senior
Sumber :
Tulisan yang sama sudah dimuat di TERAS UTAMA, Harian Padang Ekspres, Sabtu 6 Juni 2020























