JAKARTA, forumsumbar —Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap semua sektor ekonomi. Saat ini banyak pengusaha yang
mengeluhkan penurunan omzet yang cukup signifikan. Dalam kondisi seperti ini pelaku usaha dituntut untuk kreatif dan inovatif guna menjaga geliat usahanya.
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan berkaca ke belakang, satu abad silam Flu Spanyol mengguncang dunia, dan tidak ada negara yang luput dari serangannya. Pandemi influenza itu membunuh jutaan orang. Flu Spanyol membunuh sekitar 2 sampai 20 persen penderita yang terinfeksi.
“Korban manusia dalam pandemi 1918-1919 jelas sangat dahsyat. Jumlah korban tinggi karena sangat sedikit pengetahuan tentang virus, dampaknya, dan langkah-langkah pengendalian yang efektif saat itu,” ujar Yuliandre saat menjadi pemateri dalam kegiatan diskusi berbasis digital dengan tema “Membangun Usaha di Tengah Pandemi dan Membangun Ekonomi Pasca Pandemi”, Sabtu (9/5).
Pernah menjabat Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) 2017-2018, Yuliandre menilai banyak ekonom telah memperingatkan bahwa efek dari penyebaran Covid-19 ini yang mengarahkan kebijakan tindakan lockdown di seluruh dunia akan mempercepat orang-orang kehilangan pekerjaan, hal ini sudah terlihat dalam angka pengangguran di beberapa negara. Pandemi Covid-19 terhadap kegiatan ekonomi telah menyebabkan banyak lembaga memangkas perkiraan pertumbuhan mereka terhadap ekonomi global.
“Resiko terhadap kesehatan semakin tinggi dan secara ekonomi akan mempengaruhi pada tingkat produktivitas, biaya perawatan yang tinggi akibat banyaknya yang terdampak, pelemahan ekonomi akibat dari pandemi Covid-19 terjadi merata hampir di seluruh dunia merupakan beberapa dampak virus corona terhadap perekonomian global,” tutur Yuliandre
Merujuk data-data yang ada dari Dana Moneter Internasional (IMF), Andre sapaan akrabnya mengatakan penilaian ekonominya diikuti secara luas, memperkirakan ekonomi global menyusut 3% tahun ini. Dibutuhkan penanganan yang serius dan kebijakan yang tegas dan tepat sasaran untuk menyelesaikan krisis ekonomi tersebut.
Andre mengungkapkan akan selalu ada peluang yang hadir dalam setiap kondisi, termasuk wabah sekalipun. Kuncinya berada pada kejelian pelaku usaha dalam mengindentifikasi tren, perkembangan, kebutuhan, dan keinginan pasar.
Perkembangan Revolusi Industri 4.0 pun menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi, tidak hanya sumber daya manusia yang mumpuni dalam penguasaan tekonologi dan digital. “Untuk itu di tengah pandemi ini para pelaku bisnis harus bisa melakukan strategi bertahan dan bisa menangkap peluang yang ada. Tujuannya jelas, yaitu agar bisnisnya tetap bisa bertahan,” harapnya
Selama masa pandemi ini, tambah Andre, terjadi pergeseran kebutuhan di dalam masyarakat. Kebanyakan orang cenderung akan mengesampingkan hal-hal sekunder. Memberikan potongan harga untuk semua produk adalah salah satunya.
Melihat upaya yang dilakukan dalam prespektif komunikasi, ia merasakan bahwa keputusan membeli konsumen ditentukan oleh logika sebesar 20% dan emosional sebesar 80%. Oleh karena itu, para pebisnis perlu untuk memaksimalkan aspek emosional pembeli, misalnya dengan mendonasikan sebagian keuntungan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia, Syafii Efendi mengatakan Covid-19 ini wajib disikapi dengan penuh kreativitas pelaku usaha dalam menyikapi suasana keterbatasan.
Dampak dari pandemi Covid-19 dirasakan berbagai pihak. Bisnis menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup besar dan bahkan mengalami krisis di tengah pandemi ini. “Untuk itu, perlu dilakukan beberapa strategi pemasaran agar bisa bertahan di tengah krisis ini,” ucap Syafii.
Syafii mengungkapkan masa pandemi virus corona ini, pemasar harus cepat beradaptasi seiring dengan diberlakukannya social distancing. Karena sudah pasti sangat mempengaruhi perubahan besar dalam tren perilaku konsumen dalam berbelanja. Penjualan daring jadi andalan ketika masyarakat berdiam diri di rumah dan membeli segala kebutuhan melalui internet.
“Maksimalkan semua layanan daring dan jangan lupa buat aplikasi atau platform yang mudah diakses oleh konsumen. Sebagai alternatif, bergabunglah ke berbagai e-commerce untuk memperluas lapak dagangan di dunia maya,” pungkas Syafii Efendi.
(Syahrul)























