PADANG, forumsumbar —Sumbar harus maju, seirama dengan semakin majunya daerah sekitar. Untuk mempercepat hal itu, secara bersama-sama dan dengan kesadaran penuh, perubahan mindset (pola pikir) harus dilakukan. Bacalah segala sesuatu itu dengan aura positif terlebih dahulu.
Demikian disampaikan Dirut PT Semen Padang Yosviandri saat diskusi dengan Jaringan Pemred Sumbar (JPS), Rabu (19/2) di Els Coffe cafe di kawasan Jl. Nipah Padang, dimana Yosviandri didamping Komisaris Khairul Jasmi, Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Oktoweri dan diskusi santai ini dipandu oleh Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PTSP Nur Anita Rahmawati.
Lebih lanjut Yosviandri menyentil anggapan PT Semen Padang itu sokuguru ekonomi Sumbar. “Kalau itu terus dikoarkan, justru membuat potensi yang lain Sumbar tidak tergarap, padahal potensi itu banyak sebenarnya,” ujar putra Padang itu, yang cukup piawai berbaur dengan pers.
Bahkan, katanya, dalam setiap kata tulisan di medsos atau WAG mestinya jangan diputus dulu sebelum selesai, karena ketika sesuatu sudah viral, sementara substansinya datang belakangan, susah mengembalikan ke fakta sebenarnya. “Saya yakin JPS mampu menjadi penyampai kabar yang proporsional dan profesional yang independen,” ujar Yosviandri.
Bahkan pro kontra Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 7 persen bukan sesuatu yang sulit. “Terpenting mau dan semua stakeholder satu visi, jangan belum apa-apa di-bully. Untuk menumbuhkan PE 7 persen, mindset Minangkabau harus kita usahakan bersama untuk mengubahnya. Jika tidak, maka ke depan bisa saja Sumbar semakin tergilas oleh kemajuan zaman,” kata Yosviandri.
Yosviandri menekankan begitu sudah ada keputusan maka itu harus dijalankan, berapa pun berat di-bully atau dicerca media sosial. “Kita harus paham dari segi geografis memang Sumbar kurang menguntungkan buat investasi, tapi hal itu tertolak oleh PT Semen Padang karena dijadikan tantangan, terbukti semen sebagai industri besar tetap survive dan beri keuntungan, karena mampu mengembangkan networking dan bisnis turunan selain produksi semen tok,” ujar Yosviandri.
Yosviandri menekan PT Semen Padang tetap memiliki koor bisnis mengikuti market global. “Etentitas bisnis tetap kita pertahankan dengan tidak meninggalkan aura Semen Padang sebagai pabrik tertua di Asia Tenggara yakni 1910, tapi pasar modern tentu mengikuti tren yang digariskan PT Semen Indonesia,” ujarnya.
Bagi PT Semen Padang kesatuan visi dalam mengemban amanat tugas menjadi indikator produksi dan punya share market yang luas sangat dibutuhkan. “Kita siap dikritik untuk konstruktif dan kami percaya media di Sumbar bisa menyampaikan sesuatu itu dengan ‘tabayyun‘ dulu sebelum men-share ke ranah pembaca,” ujar Yosviandri.
Pertemuannya bertajuk silaturahmi tapi sarat pencerahan dengan membahas Sumbar itu untuk memberikan masukan kepada JPS sebelum diadakannya Focus Group Discussion (FGD) Series, 20-22 Februari 2020 di Jakarta, dengan tema besar “Mencari Pemimpin Sumbar ke Depan”.
Mewakili JPS, diskusi yang dibuka Rakhmatul Akbar dengan penyampaian mengenai JPS, dimana JPS merupakan wadah bagi para pemimpin redaksi (Pemred) media cetak, elektronik dan online yang ada di Sumbar untuk bersilaturahmi dan sekaligus sumbang saran serta pemikiran untuk kemajuan Sumbar.
“Bertemu manajemen Semen Padang merupakan hal penting, karena siapa pun tahu selama ini PT Semen Padang merupakan industri utama di Sumbar,” ujar Camaik, demikian biasa ia dipanggil, dan saat ini menjabat Pemred Harian Haluan.
Sementara itu akademisi Unand Ilham Aldelano Azre menilai, dengan market pasar di Sumbar hanya 10 persen dari total produksi, jadi holding PT Semen Indonesia adalah pilihan cerdas yang diambil manajemen PT Semen Padang.
“Bertahan dengan kemandirian seperti minta spin off manajemen, jika itu dilakukan maka PT Semen Padang mundur seperti di era tahun kebangkitan PT Semen Padang yakni 1958 lalu,” ujar Azre biasa dosen FISIP Unand disapa wartawan di Padang. Pasar akan diserbu, sedang
Adrian Tuswandi, owner tribunsumbar.com, mengatakan euphoria masa keemasan pasar semen di Sumbar sudah lewat, sehingga itu keinginan PT Semen Padang pisah dari holding PT Semen Indonesia sebaiknya disimpan saja.
“Pabrikan besar dunia dan regional justru mempergencar networking dan memperluas pasar, kalau Semen Padang spin off manajemen, apa nggak rugi nantinya, pasal lokal Sumbar sudah stag,” ujar Adrian. (Rel)






















