
KALIMANTAN TENGAH, forumsumbar — Di tengah bentang hutan rawa gambut Kalimantan, perjalanan lima hari membawa Faaiz Naufal Syahputra pada sebuah pemahaman yang melampaui pengalaman menjelajahi taman nasional. Di Sebangau, ia melihat secara langsung bahwa keindahan alam yang dinikmati hari ini hanya akan tetap ada apabila manusia bersedia mengambil bagian dalam menjaganya.
Pada 8–12 September 2026, Faaiz bergabung sebagai relawan dalam Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Perjalanan tersebut mempertemukannya secara langsung dengan salah satu persoalan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi: bagaimana menjaga hutan, ekosistem gambut, keanekaragaman hayati, dan potensi wisata alam di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Bagi Faaiz, Sebangau bukan sekadar lokasi kegiatan. Sebagai mahasiswa bidang Pariwisata yang tengah menjalani magang di Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, pada lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan realitas konservasi di lapangan.
Di titik inilah persoalannya menjadi lebih luas.
Ketertarikan terhadap wisata berbasis alam terus berkembang. Semakin banyak orang ingin meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan untuk kembali mendekat kepada hutan, sungai, gunung, dan berbagai bentang alam lainnya. Namun, di balik kecenderungan tersebut muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: bagaimana manusia dapat terus menikmati alam tanpa perlahan kehilangan alam yang ingin dinikmatinya?
Pertanyaan itu menjadi nyata di Sebangau.
Hutan rawa gambut bukan sekadar lanskap hijau yang menarik untuk dikunjungi. Di balik vegetasinya terdapat ekosistem kompleks yang menopang kehidupan berbagai spesies dan memiliki nilai ekologis yang melampaui batas geografis kawasan. Ketika ekosistem tersebut menghadapi tekanan, termasuk ancaman kebakaran hutan dan lahan, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah destinasi wisata, tetapi juga keberlanjutan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.
Karena itu, Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut menjadi lebih dari sekadar perjalanan memasuki kawasan konservasi. Bagi para relawan, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk memahami satu prinsip mendasar: perlindungan hutan tidak dimulai ketika api telah terlihat.
Pencegahan dimulai jauh sebelumnya melalui pengetahuan, perubahan perilaku, komunikasi lingkungan, keterlibatan masyarakat, serta kesediaan generasi muda untuk ikut mengambil bagian.
“Berada langsung di Taman Nasional Sebangau mengubah cara saya melihat wisata alam. Kita datang karena keindahannya, tetapi setelah memahami apa yang ada di balik kawasan ini, kita menyadari bahwa menikmati alam juga membawa tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Faaiz, melalui keterangan persnya, Minggu (13/9/2026)
Pengalaman tersebut mempertemukan dua dunia yang selama ini dipelajarinya: pariwisata dan konservasi.
Dalam paradigma pariwisata konvensional, keberhasilan sebuah destinasi sering dikaitkan dengan jumlah kunjungan, daya tarik, pengalaman wisatawan, serta manfaat ekonomi yang dihasilkan. Namun, bagi kawasan konservasi terdapat ukuran keberhasilan yang lebih fundamental: apakah alam yang menjadi alasan wisatawan datang masih tetap terjaga setelah mereka pergi?
Bagi Faaiz, pertanyaan tersebut menjadi salah satu pelajaran penting yang dibawa pulang dari Sebangau.
Wisata alam seharusnya tidak menempatkan taman nasional hanya sebagai latar belakang sebuah perjalanan. Sebaliknya, pengalaman wisata dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pengunjung kepada ekosistem, keanekaragaman hayati, ancaman lingkungan, serta tanggung jawab manusia terhadap kawasan yang dikunjunginya.
Dengan cara pandang tersebut, wisatawan tidak harus berhenti sebagai konsumen pengalaman. Mereka dapat menjadi bagian dari mata rantai konservasi.
Gagasan ini memiliki relevansi khusus bagi generasi muda. Di era ketika sebuah foto, video, dan cerita perjalanan dapat berpindah dari satu layar ke ribuan layar dalam waktu singkat, pengalaman dari sebuah taman nasional memiliki peluang untuk bergerak jauh melampaui batas kawasan.
Bagi Faaiz, ruang tersebut sekaligus menghadirkan tanggung jawab baru bagi anak muda.
Cerita mengenai taman nasional tidak cukup berhenti pada narasi tentang betapa indahnya sebuah tempat. Publik juga perlu mengetahui mengapa kawasan tersebut penting, ancaman apa yang dihadapinya, siapa yang bekerja menjaganya, dan apa yang dapat dilakukan masyarakat agar keberadaannya tetap bertahan.
Dalam konteks tersebut, komunikasi juga menjadi bagian dari konservasi.
Satu foto dapat membuat seseorang tertarik mengenal sebuah taman nasional. Satu cerita dapat membuat seseorang memahami ancaman yang dihadapinya. Sementara satu pengalaman yang dibagikan dengan cara yang tepat dapat menggerakkan lebih banyak orang untuk peduli.
Keterlibatan Faaiz dalam Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut juga menunjukkan bahwa pengalaman magang dapat bergerak melampaui rutinitas pekerjaan administratif. Pengetahuan mengenai pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam yang diperolehnya selama berada di lingkungan Kementerian Kehutanan menemukan konteks nyata ketika ia berhadapan langsung dengan kawasan konservasi.
Sebangau memperlihatkan sebuah paradoks dalam wisata alam: manusia ingin semakin dekat dengan alam, tetapi kedekatan itu hanya dapat terus dinikmati apabila manusia memahami batas dan tanggung jawabnya terhadap alam.
Karena itu, masa depan wisata alam Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa menarik sebuah destinasi dapat dipromosikan kepada wisatawan. Masa depannya juga ditentukan oleh seberapa kuat konservasi ditempatkan sebagai fondasi dalam setiap bentuk pemanfaatannya.
Ketika rangkaian Jelajah Taman Nasional Peduli Karhut berakhir pada 12 September 2026, Faaiz meninggalkan Sebangau dengan sesuatu yang tidak dapat diukur melalui jumlah kilometer yang ditempuh ataupun banyaknya dokumentasi yang berhasil dibawa pulang.
Ia membawa sebuah perspektif.
Bahwa mahasiswa dapat mengambil bagian dalam persoalan lingkungan. Bahwa wisatawan dapat berubah menjadi penyampai pesan konservasi. Bahwa generasi muda dapat membantu membuat persoalan hutan terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dan bahwa menjaga taman nasional tidak selalu harus dimulai dengan sebuah tindakan besar.
Kadang-kadang semuanya bermula dari sebuah perjalanan: seseorang datang karena ingin melihat alam, kemudian pulang karena merasa memiliki alasan untuk ikut melindunginya.
Bagi Faaiz Naufal Syahputra, perjalanan dari dunia akademik, pengalaman magang di Kementerian Kehutanan, hingga hutan rawa gambut Sebangau akhirnya mempertemukan satu gagasan yang sama pariwisata dan konservasi bukanlah dua kepentingan yang saling berhadapan. Keduanya harus berjalan bersama apabila wisata alam ingin tetap memiliki masa depan.
Dan dari Sebangau, perjalanan itu meninggalkan sebuah pesan yang sederhana, tetapi universal:
Kita mungkin datang ke taman nasional untuk menemukan keindahan alam. Namun, hanya dengan menjaganya kita dapat memastikan bahwa generasi setelah kita masih memiliki alam yang sama untuk ditemukan.
(R/FNS)






















