
Si Bengal
Karya: Ilhamdi Sulaiman
ORANG-ORANG mengenalnya sebagai Si Bengal.
Bukan karena ia lahir dari keluarga yang kekurangan kasih sayang atau tumbuh di gang sempit yang mengajarkan kekerasan sejak kanak-kanak. Sebaliknya. Rumahnya luas. Halamannya dipenuhi pohon-pohon yang selalu berbuah ketika musim datang. Ayahnya seorang pejabat. Ibunya perempuan terpelajar yang pernah bekerja sebagai notaris di Jakarta. Di rumah itu, uang bukan perkara yang harus dipikirkan setiap pagi.
Namun, kemapanan tidak pernah menjamin seorang anak mengenal arah.
Sejak kecil ia menyukai kecepatan. Ketika anak-anak lain masih mengejar layang-layang di pematang sawah, ia telah memaksa mengendarai sepeda motor. Kakinya belum benar-benar panjang menyentuh pijakan, tetapi rasa takut memang tak pernah lahir bersamanya.
“Turun! Kau bisa celaka!” teriak seseorang.
Anak itu justru tertawa.
Beberapa tahun kemudian, ia diam-diam belajar menyetir mobil. Bantal diselipkan di punggung agar tubuhnya cukup tinggi melihat jalan. Mobil melaju tertatih keluar halaman, lalu kembali dengan bemper penyok. Bukannya kapok, ia malah penasaran ingin mencobanya lagi.
Sejak itulah nama itu melekat.
Si Bengal.
Nama yang mula-mula terdengar seperti gurauan, lalu berubah menjadi kekhawatiran.
Masa remaja datang bersama kebiasaan baru. Malam-malam menjadi lebih panjang. Gelas-gelas berisi alkohol berpindah tangan. Tawa terdengar keras, tetapi selalu berakhir sunyi ketika ia pulang menjelang dini hari.
Aneh.
Di tengah rumah yang serba cukup, ia justru merasa ada ruang kosong yang tak pernah mampu diisi.
Tak ada yang benar-benar memahami kegelisahannya. Bahkan dirinya sendiri tidak.
Ia hanya merasa harus berlari. Semakin cepat. Semakin jauh. Seolah ada sesuatu yang mengejarnya, padahal tak pernah ada siapa pun di belakangnya.
Hingga suatu sore, seorang lelaki bertubuh kurus dengan sorot mata tajam menghentikan langkahnya di sebuah latihan teater.
“Kau pernah bermain teater?” tanyanya.
Ia menggeleng.
“Tapi wajahmu menyimpan banyak cerita.”
Kalimat itu terdengar ganjil.
Selama ini orang mengenalnya karena kenakalannya. Baru kali itu ada seseorang yang melihat sesuatu yang lain dalam dirinya.
Lelaki itu adalah Wisran Hadi.
Ia tidak berkhotbah. Tidak pula menasihati panjang lebar. Ia hanya berkata, “Kalau keberanianmu hanya dipakai menantang jalan raya, kau akan habis sebelum usiamu matang. Cobalah menantang panggung. Di sana kau akan belajar melawan dirimu sendiri.”
Kalimat itu menempel di kepalanya berhari-hari.
Beberapa malam kemudian ia datang ke latihan.
Panggung yang semula asing perlahan berubah menjadi tempat paling jujur yang pernah dikenalnya. Di sana ia boleh marah tanpa memukul siapa pun. Boleh menangis tanpa dianggap lemah. Boleh menjadi raja, pengemis, pembunuh, bahkan orang gila, lalu pulang sebagai dirinya sendiri.
Teater mengubah alkohol menjadi keringat.
Mengubah kemarahan menjadi dialog.
Mengubah kebengalan menjadi energi.
Ia mulai membaca naskah. Mengenal penyair. Berdiskusi hingga larut malam. Dunia yang selama ini hanya dipenuhi suara mesin kendaraan berganti dengan bunyi kata-kata yang pelan-pelan membentuk jiwanya.
Tetapi hidup belum selesai memberinya pelajaran.
Bahkan pelajaran yang paling penting baru menunggunya beberapa tahun kemudian, ketika sebuah penghargaan sebagai aktor mempertemukannya dengan seorang lelaki bernama Prof. Mursal Esten.
Tahun itu panggung sedang ramah kepadanya.
Namanya mulai dikenal. Dari satu pementasan ke pementasan lain, ia menemukan dirinya tumbuh bersama tepuk tangan. Orang-orang mulai menyebutnya aktor berbakat. Sebuah penghargaan singgah di tangannya. Untuk pertama kali ia merasa berhasil mengalahkan masa lalunya.
Ia berjalan dengan dada sedikit lebih tegak.
Barangkali, pikirnya, beginilah rasanya menjadi seseorang.
Beberapa hari setelah penghargaan itu diterimanya, seorang pegawai datang menghampiri.
“Pak Mursal ingin bertemu.”
Ia mengangguk. Tak ada sedikitpun rasa gentar. Bukankah ia baru saja memenangkan sebuah penghargaan?
Pintu ruang kerja itu terbuka perlahan.
Di balik meja sederhana, Prof. Mursal Esten mengangkat wajah dari setumpuk buku. Tidak ada senyum yang berlebihan. Tidak pula sambutan yang membuat seorang aktor merasa sedang dipuji.
“Masuk, Boy.”
Ia duduk.
Hening.
Jam dinding terdengar lebih keras daripada biasanya.
Prof. Mursal Esten menatapnya lama. Tatapan seorang guru yang seakan tidak sedang melihat wajah muridnya, melainkan sedang membaca hari-hari yang belum terjadi.
“Kau senang mendapat penghargaan itu?”
Ia mengangguk.
“Tentu, Pak.”
“Itu bagus.”
Kalimat itu menggantung.
Lalu, dengan suara yang tenang, lelaki itu berkata,
“Boy… sehebat-hebat apa pun kau bermain teater, setinggi apapun namamu nanti sebagai seniman, tanpa pendidikan yang baik, akan ada ruang-ruang yang tak bisa kau miliki. Akan ada forum-forum yang tak akan benar-benar mendengarkanmu.”
Ia menunduk.
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada kritik pertunjukan mana pun yang pernah diterimanya.
Selama ini ia mengira panggung adalah tujuan.
Ternyata panggung hanyalah salah satu jalan.
“Kau mau kuliah?” tanya Prof. Mursal Esten.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi ia seperti mendengar pintu besar dibuka perlahan.
Kuliah?
Tak pernah sungguh-sungguh dipikirkannya.
Ia terlalu sibuk mengejar pertunjukan, latihan, perjalanan, dan keyakinan bahwa bakat saja sudah cukup.
Prof. Mursal Esten bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela, lalu berkata tanpa menoleh,
“Seniman tidak cukup hanya pandai merasakan. Ia juga harus pandai berpikir. Kalau tidak, orang hanya akan memintamu bermain. Mereka tidak akan pernah memintamu berbicara.”
Kalimat itu menghantam sesuatu yang selama ini tersembunyi dalam dirinya.
Ia tiba-tiba teringat masa-masa ketika orang hanya mengenalnya sebagai Si Bengal.
Dulu ia menantang jalanan.
Kini rupanya ia sedang ditantang oleh kehidupan.
Keluar dari ruangan itu, matahari terasa berbeda.
Langkahnya pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak ingin segera pergi ke panggung.
Ia ingin pergi ke perpustakaan.
Di halaman Taman Budaya, angin menggoyangkan daun-daun tua. Dari kejauhan terdengar suara latihan teater. Suara yang selama ini dianggapnya sebagai tujuan akhir, kini terdengar seperti panggilan untuk memulai perjalanan yang baru.
Di tangannya masih ada penghargaan itu.
Tetapi di kepalanya telah tumbuh sesuatu yang jauh lebih berharga.
Sebuah kesadaran.
Bahwa tepuk tangan akan berhenti ketika lampu panggung dipadamkan.
Sedangkan ilmu akan tetap menyala, bahkan ketika seluruh penonton telah pulang.
Hari itu, Si Bengal tidak kehilangan kebengalannya.
Ia hanya mengubah arah pemberontakannya.
Kini ia memilih memberontak terhadap kebodohan.
Kuliah ternyata jauh lebih sunyi daripada panggung.
Di ruang pertunjukan, ia mengenal sorot lampu dan tepuk tangan. Di ruang kuliah, ia berhadapan dengan buku-buku, teori, dan keheningan yang menuntut kesabaran.
Hari-hari pertama tidak mudah.
Bukan karena ia merasa terlambat belajar.
Melainkan karena sebagian orang merasa ia datang terlalu cepat.
Namanya telah lebih dahulu dikenal sebelum ia duduk sebagai mahasiswa. Pementasan-pementasannya telah berkeliling ke berbagai kota. Tulisan tentang kerja artistiknya pernah dibaca banyak orang. Tanpa disadarinya, sebagian dosen telah menjadikan pertunjukan-pertunjukannya sebagai bahan diskusi di ruang kuliah.
Suatu hari, setelah perkuliahan usai, seorang dosen memanggilnya.
“Boy, jangan salah paham.”
Ia mengangguk.
“Saya sebenarnya grogi mengajar kamu.”
Ia tersenyum kecil, mengira itu gurauan.
Namun dosen itu melanjutkan dengan wajah sungguh-sungguh.
“Bagaimana saya mengajar orang yang pementasannya justru saya pelajari untuk menjelaskan teater kepada mahasiswa? Saya takut keliru berbicara.”
Ia tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya ia merasa penghargaan yang selama ini dibanggakannya justru menjadi beban.
Di kesempatan lain, seorang dosen berkata hampir serupa.
“Kamu tetap harus kuliah. Tetapi izinkan saya jujur, saya merasa sedang mengajar seseorang yang lebih banyak pengalaman panggung daripada saya.”
Kalimat-kalimat itu tidak membuatnya besar kepala.
Sebaliknya.
Ia semakin sering memilih duduk di bangku paling belakang.
Ia mencatat lebih banyak daripada berbicara.
Jika dosen menjelaskan teori, ia mendengarkan seperti anak kecil yang baru belajar mengeja. Baginya, pengalaman dan ilmu bukanlah dua hal yang saling mengalahkan. Pengalaman membuat seseorang memahami kenyataan, sedangkan ilmu membuatnya mampu menjelaskan kenyataan itu kepada orang lain.
Ia teringat ucapan Prof. Mursal Esten.
“Seniman tidak cukup hanya pandai merasakan. Ia juga harus pandai berpikir.”
Kini ia memahami maksud kalimat itu.
Panggung telah memberinya pengalaman.
Universitas sedang memberinya bahasa untuk menerangkan pengalaman itu.
Malam-malamnya kembali panjang. Kali ini bukan karena alkohol, melainkan karena buku-buku yang terbuka hingga dini hari. Ia membaca naskah drama, filsafat, kritik sastra, antropologi, dan sejarah kebudayaan. Sedikit demi sedikit ia menyadari bahwa setiap pementasan bukan sekadar tontonan, melainkan juga cara manusia membaca zamannya.
Barangkali, pikirnya, inilah bentuk kebengalan yang paling dewasa.
Tidak lagi menentang orang lain.
Melainkan menentang diri sendiri.
Tahun-tahun berlalu seperti pergantian dekor di atas panggung.
Orang masih memanggilnya Boy. Sebagian masih mengingat julukan lamanya Si Bengal. Tetapi mereka tak lagi mengucapkannya dengan nada khawatir. Julukan itu telah berubah makna.
Ia tetap keras kepala.
Tetapi kini keras kepala untuk membaca sebelum berbicara.
Keras kepala untuk berlatih ketika orang lain merasa cukup.
Keras kepala mempertahankan teater sebagai ruang kejujuran, ketika banyak panggung berubah menjadi sekadar tontonan.
Sesekali, ketika berdiri sendirian di panggung yang kosong setelah penonton pulang, ia teringat dua lelaki yang mengubah arah hidupnya.
telah menunjukkan bahwa keberanian bukanlah memacu kendaraan di jalan raya, melainkan berani membongkar isi hati sendiri di atas panggung.
Dan telah mengajarkannya bahwa bakat tanpa ilmu akan cepat dipuji, tetapi mudah dilupakan. Ilmu memberi akar kepada bakat, sehingga ia mampu bertahan menghadapi musim apa pun.
Ia sering bertanya dalam hati, bagaimana jadinya hidup ini jika pada hari itu ia tidak datang ke latihan teater? Bagaimana jika ia tidak pernah mengetuk pintu ruang kerja Prof. Mursal Esten? Mungkin julukan Si Bengal tetap melekat, tetapi hanya sebagai cerita tentang seorang anak yang pandai menghamburkan masa depan.
Syukurlah hidup memilih jalan yang lain.
Kini ia percaya, setiap manusia memang memiliki kebengalannya masing-masing. Ada yang kalah olehnya. Ada pula yang menjadikannya tenaga untuk bergerak.
Ia memilih yang kedua.
Karena sesungguhnya, yang harus ditaklukkan bukanlah jalanan, bukan pula orang lain.
Melainkan diri sendiri.
Maka, jika hari ini seseorang masih memanggilnya Si Bengal, ia hanya akan tersenyum.
Sebab ia tahu, julukan itu bukan lagi alamat kenakalan, melainkan penanda sebuah perjalanan: dari seorang anak yang mengira kebebasan adalah melakukan apa saja, menjadi seorang manusia yang memahami bahwa kebebasan sejati adalah mampu memilih jalan yang benar, meskipun jalan itu jauh lebih sukar.
Lampu panggung perlahan padam.
Tepuk tangan telah lama usai.
Namun di dalam dirinya, pesan dua guru itu tetap menyala lebih terang daripada lampu mana pun yang pernah menerangi wajahnya di atas pentas.
Dan selama cahaya itu masih ada, Si Bengal tak pernah benar-benar meninggalkan panggung. Sebab panggung sesungguhnya bukanlah lantai kayu yang dipijak para aktor, melainkan kehidupan itu sendiri.
Ah, si bengal itu ternyata aku.
Jakarta, 2 Juli 2026























