
Oleh: Marlia Novita
(Pengelola Laboratorium Pendidikan (PLP)
UPT. Laboratorium Sentral Unand)
SETIAP kegiatan praktikum di laboratorium tentu menghasilkan limbah. Di banyak laboratorium, limbah sering dianggap sebagai sisa kegiatan yang tidak lagi memiliki nilai guna.
Namun, di Laboratorium Biologi Dasar UPT Laboratorium Sentral Universitas Andalas (Unand), limbah tanaman dari kegiatan praktikum justru dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan.
Pada Praktikum Biologi Dasar menggunakan berbagai jenis tumbuhan sebagai objek pengamatan, mulai dari daun-daunan, bunga, buah, hingga tanaman pangan seperti jagung dan kedelai.
Setelah praktikum selesai, sisa tanaman tersebut menumpuk menjadi limbah padat organik. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat menimbulkan bau dan mengganggu kebersihan lingkungan laboratorium.
Berangkat dari kondisi tersebut, dilakukan upaya sederhana namun bermanfaat melalui pengolahan limbah tanaman menjadi pupuk kompos dengan bantuan EM4 sebagai dekomposer.
Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik laboratorium, tetapi juga mendukung konsep laboratorium berkelanjutan dan peduli lingkungan.
Proses pembuatan kompos dimulai dengan memilah limbah tanaman hasil praktikum, kemudian memotongnya menjadi ukuran kecil sekitar 2–5 cm agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
Limbah tersebut lalu dicampurkan dengan larutan EM4 yang dibuat dari fermentasi nasi basi, air cucian beras, dan gula pasir. Campuran ini selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah kompos dan dipantau secara berkala setiap minggu.
Selama proses pengomposan, terjadi perubahan yang cukup signifikan pada kondisi limbah tanaman. Pada minggu pertama, bahan mulai membusuk dan muncul jamur putih sebagai tanda aktivitas mikroorganisme.

Memasuki minggu ketiga dan keempat, warna bahan berubah menjadi cokelat kehitaman, bau mulai hilang, dan tekstur semakin hancur menyerupai tanah. Pada akhir proses, kompos yang dihasilkan memiliki warna gelap, tidak berbau, dan suhu mendekati suhu ruang sebagai tanda kompos telah matang.
Selain mudah dilakukan, metode ini juga memiliki biaya yang relatif murah karena memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar.
Penggunaan EM4 membantu mempercepat proses dekomposisi sehingga pengomposan dapat berlangsung lebih efektif. Hasil akhirnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk tanaman di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Upaya pengolahan limbah organik ini menjadi contoh bahwa laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi pengelolaan lingkungan.
Melalui kegiatan sederhana seperti pengomposan, sivitas akademika dapat belajar menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai Pengelola Laboratorium Pendidikan (PLP), peran aktif dalam pengelolaan limbah laboratorium menjadi bagian penting dalam mendukung terciptanya lingkungan kampus yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Diharapkan inovasi ini dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai laboratorium pendidikan lainnya, sehingga limbah organik tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang bermanfaat. *)

UPT. Laboratorium Sentral Unand. (Foto : Dok)






















