
PADANG, forumsumbar — Jaringan alumni yang kuat merupakan aset berharga bagi perguruan tinggi karena dapat memberikan manfaat bagi semua anggotanya.
“Mereka dapat berbagi peluang kerja, berkolaborasi dalam proyek usaha bersama, dan memperluas jaringan profesional mereka. Ini juga bisa menjadi sumber inspirasi dan dukungan bagi para alumni yang ingin terus belajar dan berkembang,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat menjadi Keynote Speaker di acara Pelantikan dan Raker DPP IKA Unand, Sabtu (31/1/2026), bertempat di Convention Hall Unand, kampus Limau Manis Padang.
Ditambahkan Yuliot bahwa alumni dapat berperan dalam memelihara dan meningkatkan reputasi almamater karena reputasi sangat penting bagi perguruan tinggi.
Alumni yang mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang dapat meningkatkan citra perguruan tinggi dan memberikan bukti bahwa pendidikan yang diterima di perguruan tinggi tersebut memiliki nilai yang tinggi.
“Alumi bisa menjadi pembicara tamu atau mentor, berbagi pengalaman dengan mahasiswa dan memberikan wawasan tentang perjalanan mereka menuju kesuksesan. Memberikan nasehat yang berharga tentang bagaimana menghadapi rintangan, merencakan karier, dan mencapai impian,” ulas alumni Fakultas Peternakan Unand ini.
Menurut Yuliot alumni juga dapat berperan dalam membangun hubungan yang erat antara perguruan tinggi, komunitas dan dunia industri. Alumni dapat menjadi perwakilan almamater dalam berbagai forum dan acara, serta berkontribusi pada pengembangan perekonomian secara luas.
“Kerjasama antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah dan berbagai komunitas dapat menghasilkan proyek yang bernilai ekonomi yang memberikan manfaat kepada semua pihak. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bertumbuhnya berbagai sektor usaha, serta memperkuat tatanan sosial dan budaya,” pungkasnya.

Ungkapkan Kekecewaan
Yuliot Tanjung menilai bahwa belum terlihat peran aktif kampus secara jelas untuk mendukung berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah saat ini, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seharusnya program MBG menjadi perhatian serius dari beberapa fakultas di perguruan tinggi, di antaranya; Fakultas Pertanian, Peternakan, Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Gizi, untuk percepatan implementasi program tersebut.
Pada kesempatan itu, Yuliot Tanjung mengungkapkan kekecewaannya, karena ia sudah membawa program yang ada di Kementerian ESDM, baik untuk kampus maupun pembangunan daerah. Tapi banyak yang tidak jelas keberlanjutannya.

“Seperti program enterpreneurship kampus, yang tidak jelas keberlanjutannya. Kemudian pembangunan PLTMH untuk kampus Unand, karena kurangnya pengawasan dalam pelaksanaan sampai saat ini belum bisa dioperasikan,” ujar pria kelahiran 1963 ini.
“Termasuk juga bantuan peralatan pertanian, taktor, kultivator dan harvester untuk daerah, yang tidak jelas pengoperasiannya. Dan rencana pembangunan Depo Terminal BBM Terpadu di Kabupaten Agam yang masih perlu penetapan lokasi,” tambahnya.
Yuliot berharap persoalan-persoalan seperti ini bisa dicarikan solusinya oleh kampus dan daerah, karena membawa dana pusat ke dearah itu tidak semudah yang dibayangkan.
(Ika)























