
Oleh: Cinta Dwi Putri Manurung
(Mahasiswa KKN Non Reguler Kebencanaan Kapalo Koto 7)
BENCANA hidrometeorologi telah menjadi kenyataan yang harus dihadapi masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Curah hujan tinggi dalam beberapa waktu yang lalu menyebabkan banjir yang secara langsung mengganggu kehidupan sosial, ekonomi, dan kesehatan warga.
Daerah Batu Busuak, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak tersebut secara nyata. Bencana banjir yang melanda Batu Busuak tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan persoalan kesehatan yang serius bagi masyarakat.
Pascabencana, warga menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih dan sanitasi, perubahan pola aktivitas sehari-hari, serta meningkatnya risiko penyakit menular maupun tidak menular. Selain itu, tekanan psikologis akibat kehilangan dan kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi kesehatan fisik dan mental masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan fisik dan infrastruktur, tetapi juga memerlukan intervensi kesehatan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Menyadari urgensi tersebut, mahasiswa KKN Kebencanaan Non Reguler Kapalo Koto 7 Universitas Andalas (Unand) mengambil peran aktif melalui pelaksanaan program layanan kesehatan bagi warga terdampak bencana di Batu Busuak.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan pengabdian nyata, mahasiswa KKN Kebencanaan Non Reguler Kapalo Koto 7 Unand melaksanakan program layanan kesehatan di Batu Busuak yang dilakukan di Masjid Al-Ikhlas pada tanggal 30 Desember 2025, yang bekerja sama dengan Puskesmas Pauh.
Kerjasama ini memastikan bahwa seluruh kegiatan layanan kesehatan dilakukan sesuai prosedur medis yang standar, serta memberikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat bagi warga terdampak. Dengan dukungan tenaga kesehatan profesional dari Puskesmas, kegiatan ini mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan dan memberikan layanan kesehatan yang komprehensif.
Kegiatan layanan kesehatan ini diikuti oleh sekitar 70 warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang semuanya terdampak langsung oleh bencana hidrometeorologi yang terjadi di Batu Busuak.
Rangkaian pemeriksaan yang diberikan dirancang secara menyeluruh untuk mendeteksi masalah kesehatan yang paling umum pascabencana sekaligus memberikan tindakan preventif yang tepat.
Pemeriksaan dimulai dengan antropometri, yang mencakup pengukuran tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh (IMT). Data antropometri ini menjadi salah satu indikator penting bagi tenaga kesehatan untuk menilai status gizi warga, baik untuk mendeteksi kekurangan gizi maupun risiko obesitas.
Selain itu, pengukuran antropometri juga membantu memahami bagaimana kondisi fisik warga pascabencana dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam beraktivitas sehari-hari, termasuk ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Bagi anak-anak, hasil pengukuran dapat menunjukkan apakah mereka mengalami gangguan pertumbuhan akibat perubahan pola makan pascabencana, sementara bagi lansia, data ini membantu mendeteksi penurunan berat badan atau massa otot yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan komplikasi kesehatan lainnya.
Dengan informasi ini, tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi gizi dan saran pola hidup sehat yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta, sehingga pemeriksaan antropometri tidak hanya bersifat diagnostik, tetapi juga edukatif dan preventif.
Selain itu, warga juga menjalani pemeriksaan gula darah dan kolesterol, yang menjadi indikator penting untuk mendeteksi risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan gangguan metabolisme. Pemeriksaan ini sangat relevan pascabencana, karena kondisi stres, pola makan yang berubah, dan keterbatasan akses terhadap makanan sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan metabolik.
Hasil pemeriksaan ini membantu tenaga kesehatan dalam memberikan saran diet dan gaya hidup yang sesuai dengan kondisi masing-masing peserta, sehingga dapat mencegah komplikasi jangka panjang.
Pemeriksaan tekanan darah (tensi) juga dilakukan untuk memantau risiko hipertensi, yang sering meningkat setelah bencana. Faktor penyebabnya antara lain stres, ketidakpastian pascabencana, perubahan aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak teratur. Dengan memantau tekanan darah secara rutin, warga yang berisiko tinggi dapat segera diberikan edukasi, saran pengobatan, atau rujukan medis bila diperlukan.
Pemeriksaan asam urat dilakukan untuk menilai kesehatan metabolik, khususnya bagi lansia dan warga dengan pola makan tertentu, seperti konsumsi tinggi protein atau makanan olahan. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi risiko gangguan metabolisme yang dapat memicu penyakit sendi atau komplikasi lain.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi pola makan, aktivitas fisik, dan pengobatan yang sesuai agar warga dapat mengelola kesehatannya dengan lebih baik pascabencana.
Sebagai bagian dari layanan kesehatan, warga yang membutuhkan penanganan medis langsung diberikan pengobatan gratis berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Pemberian obat dilakukan dengan pengawasan langsung dari tenaga kesehatan Puskesmas Pauh, sehingga setiap tindakan medis dapat dilakukan secara tepat sasaran, aman, dan sesuai kebutuhan masing-masing warga. Layanan ini sangat penting bagi masyarakat pascabencana, karena akses ke fasilitas kesehatan sering terganggu akibat kerusakan infrastruktur atau keterbatasan biaya.
Program pengobatan ini tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga bertujuan untuk mencegah komplikasi kesehatan yang mungkin muncul setelah bencana, seperti tekanan darah tinggi, gangguan metabolik, atau infeksi ringan yang dapat berkembang menjadi lebih serius.

Dengan pendampingan tenaga kesehatan profesional, warga memperoleh obat yang sesuai dengan kondisi mereka serta diberikan petunjuk penggunaan obat yang benar, sehingga manfaat pengobatan dapat maksimal dan risiko efek samping dapat diminimalkan.
Dalam kegiatan layanan kesehatan ini, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi khusus mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Warga dijelaskan bahwa pemeriksaan seperti antropometri, cek gula darah, kolesterol, tensi, dan asam urat bukan sekadar prosedur medis, tetapi langkah penting untuk mendeteksi dini berbagai risiko penyakit yang dapat muncul pascabencana.
Mahasiswa menekankan bahwa deteksi dini memungkinkan warga mengambil tindakan pencegahan lebih cepat, seperti perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, atau konsultasi medis lebih lanjut, sehingga kesehatan dapat lebih terjaga meskipun akses layanan terbatas.
Mahasiswa KKN Kebencanaan tidak hanya berperan sebagai pelaksana teknis kegiatan, tetapi juga sebagai fasilitator komunikasi antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Mereka membantu proses registrasi, mengarahkan alur pemeriksaan agar berjalan tertib, mendampingi warga selama pemeriksaan, serta mencatat hasil pemeriksaan untuk keperluan dokumentasi dan tindak lanjut.
Pengalaman ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat di wilayah rawan bencana, termasuk penguatan kemampuan koordinasi lapangan, problem solving, serta pengembangan empati sosial.
Dampak kegiatan ini terasa langsung bagi masyarakat. Warga Batu Busuak mendapatkan akses layanan kesehatan yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus informasi dan edukasi untuk menjaga kesehatan mereka pascabencana. Aktivitas ini tidak hanya membantu mendeteksi penyakit lebih awal, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tindakan preventif dan pola hidup sehat.
Di sisi lain, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam pengabdian masyarakat, sekaligus memahami kompleksitas intervensi kesehatan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.
Secara keseluruhan, program layanan kesehatan di Batu Busuak ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa KKN Kebencanaan dan Puskesmas Pauh mampu memberikan dampak positif yang nyata. Kegiatan ini memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko kesehatan pascabencana sekaligus mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam pelayanan publik dan mitigasi bencana.
Dengan pendekatan terpadu yang menggabungkan pemeriksaan kesehatan, pengobatan gratis, edukasi, dan keterlibatan aktif masyarakat, layanan kesehatan ini menjadi model nyata bagaimana pengabdian mahasiswa dapat meningkatkan kualitas hidup warga di wilayah rawan bencana dan memperkuat ketahanan komunitas secara menyeluruh. *)
























