
PADANG, forumsumbar — Di tengah derasnya arus hiburan digital, dari film hingga konten streaming, tetapi teater panggung yang ditonton langsung tetap hadir dengan kekuatan yang tak tergantikan. Menghadirkan interaksi nyata dan resonansi emosional yang mendalam.
Fauzul el Nurca, seniman multitalenta, sekaligus pendiri Studio Sangkaduo, dua hari lagi, yakni hari Jumat, 15 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, bertempat di Gedung Dinas Kebudayaan Sumbar, akan menampilkan monolog berjudul “Sang Jenderal”.
Menurut Fauzul, monolog ini lebih dari sekadar tontonan. Cerita “Sang Jenderal” ini menggali sisi manusiawi dari kekuasaan, loyalitas, dan kerentanan.
“Saya ingin menampilkan sisi manusia di balik gelar dan atribut. Setiap pangkat membawa tanggung jawab, tapi juga kerentanan, keraguan, dan kebutuhan akan loyalitas,” ujar Fauzul el Nurca, Rabu (13/8/2025).
Fauzul memulai perjalanan seninya sejak 1982, menorehkan karya di teater, sastra, dan seni rupa Sumbar.
Pada 1989, ia mendirikan Studio Sangkaduo, singkatan dari Sang Kerja Kreatif, filosofi Fauzul untuk terus menghasilkan karya bermakna.
Selain sebagai sutradara, Fauzul juga dikenal sebagai penulis, penyair, dan editor berbagai antologi puisi.
Tahun 2025, pengakuan resmi dari Dewan Kesenian Jakarta menegaskan posisinya sebagai penyair berkontribusi penting di dunia seni dan budaya.
Diaktakan Fauzul, awalnya “Sang Jenderal” ditulis sebagai drama dua tokoh pada 2019. Untuk pementasan kali ini, Fauzul menyesuaikannya menjadi monolog tunggal yang menampilkan satu aktor memerankan tiga karakter berbeda.
“Keputusan ini bukan sekadar pertimbangan teknis. Ini tantangan artistik untuk menyampaikan kerumitan karakter secara mendalam,” ujarnya.
Latihan intens menekankan penguasaan gestur, intonasi, dan emosi. Setiap gerak dan kata dirancang agar penonton merasakan pergulatan batin sang jenderal secara nyata.
Cerita berpusat pada Sang Jenderal, seorang tentara berpangkat tinggi, yang menghadapi dilema moral dan emosional. Dengan Likolah Patuik, bawahannya yang setia sekaligus tukang urut, sebagai cermin emosinya.
Konflik antara kepercayaan, loyalitas, dan ketakutan digambarkan sedemikian realistis sehingga penonton dapat merasakan ketegangan psikologis tokoh secara langsung.
“Cerita ini universal. Siapapun yang memiliki tanggung jawab pasti pernah menghadapi pertaruhan antara otoritas dan kepercayaan pada orang lain,” tambah Fauzul.

Di era digital, hiburan bisa dikonsumsi secara cepat dan instan. Fauzul menekankan bahwa teater langsung menawarkan pengalaman berbeda, dimana energi penonton dan aktor mengalir bersama, menciptakan pengalaman kolektif yang tak tergantikan. Integrasi teknologi, seperti streaming pementasan dan interaksi daring pasca pertunjukan, memperluas jangkauan audiens tanpa mengurangi esensi pengalaman langsung.
Pementasan ini melibatkan tim profesional: Dadang Leona – Manajer Panggung. Tusriadi & Bambang Art – Videografi & Dokumentasi. Joni Wahid – Artistic Director. Efrizal YE – Pencahayaan dan Hasnawi Hasan – Musik
“Setiap elemen saling mendukung untuk menghadirkan suasana batin sang jenderal. Suara, cahaya, dan gerak panggung membentuk pengalaman utuh bagi penonton,” tegas Fauzul.
Fauzul mengajak seluruh masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga komunitas seni, untuk hadir dan merasakan langsung energi panggung.
“Mari bersama-sama menyelami emosi karakter, berdialog melalui pengalaman langsung, dan membuat pengalaman ini hidup dan bermakna,” katanya.
Monolog “Sang Jenderal” membuktikan bahwa teater panggung tetap vital dan relevan, mampu menggerakkan emosi serta kesadaran kritis penonton. Akting mendalam, filosofi karakter kompleks, dan estetika panggung yang memukau akan membawa penonton pulang dengan pengalaman reflektif yang jarang ditemui di hiburan digital.
Catat tanggalnya:, Jumat, 15 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, di Gedung Dinas Kebudayaan Sumbar, Jl Samudera, Padang
Bawa keluarga, sahabat, atau komunitas Anda. Rasakan energi panggung, dan jadilah bagian dari dialog kemanusiaan yang hidup.
(Leni Marlina)























