
PADANG, forumsumbar —Setelah sukses menggelar acara “75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar” pada minggu lalu, Hamas (Himpunan Media Sumbar) kembali akan mengangkatkan tokoh seniman Ranah Minang yang fenomenal dan menjadi legenda.
“Akhir Februari 2025 ini, atau menjelang puasa Ramadan, kita akan angkatkan almarhum Abrar Yusra, wartawan, penyair, novelis dan penulis biografi Indonesia asal Ranah Minang,” ujar Isa Kurniawan, dari Hamas, Selasa (7/1/2025).

Untuk kelancaran acara, menurut Isa, pihaknya sudah mohon izin kepada keluarga almarhum Abrar Yusra sehubungan dengan akan digelarnya acara “Mengenang Sang Wartawan dan Sastrawan Abrar Yusra”.
“Kita sudah menghubungi anak tertua almarhum Abrar Yusra, yakni Gafrian Abrar yang saat ini tinggal di Bogor,” ujar Isa.
“Alhamdulillah pihak keluarga memberi izin dan berterima kasih dengan akan diangkatkannya acara mengenang almarhum Abrar Yusra,” tambahnya.
Disampaikan Isa bahwa sebelumnya Hamas sudah mengangkatkan tokoh-tokoh seniman Sumbar, atau Ranah Minang, seperti Rusli Marzuki Saria, Hamid Jabbar, Chairul Harun, Upita Agustine/Prof Raudha Thaib, dan terakhir Prof Harris Effendi Thahar.
Gerakan berkesenian dan berkebudayaan ini, kata Isa, merupakan upaya Hamas untuk menghargai para seniman yang sudah mengharumkan nama Sumbar, atau Ranah Minang, di tingkat nasional, bahkan internasional, dengan karya-karya sastra mereka yang fenomenal dan melegenda.
Ke depan, lanjut Isa, tokoh-tokoh seniman lainnya yang akan diangkatkan, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, di antaranya; Leon Agusta, Darman Moenir, Bagindo Fahmi, Wisran Hadi; Syarifuddin Arifin, Ery Mefri, Sastri Yunizarti Bakry, dan banyak lainnya.
Sama dengan acara-acara sebelumnya, pada “Mengenang Sang Wartawan dan Sastrawan Abrar Yusra” akan ada; Orasi Budaya, Testimony Speech, Achievement Award, Bedah Novel dan Parade Baca Puisi.
“Sebelum acara nantinya, Hamas akan berziarah ke pusara almarhum Abrar Yusra di Lawang Matur Kabupaten Agam. Kita sudah minta pihak keluarga untuk menunjukkan dimana pusara almarhum,” tukas Isa.
Isa berharap, mudah-mudahan acara ini bisa memotivasi kaum muda Minang untuk berkarya seperti para seniman tersebut, bahkan kalau bisa melebihi.

Sekilas Abrar Yusra
Abrar Yusra dikenal sebagai wartawan, penyair, novelis dan penulis biografi Indonesia asal Ranah Minang, yang lahir di Lawang Matur, Kabupaten Agam, 28 Maret 1943.
Selama hidupnya, Abrar Yusra banyak menulis buku biografi para tokoh Indonesia seperti Selo Soemardjan, Azwar Anas, Amir Hamzah, AA Navis, serta biografi Hoegeng yang ia tulis bersama Ramadhan KH.
Abrar Yusra pernah menjadi guru di sekolah INS Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman, dan sebelum menjadi penulis biografi, Abrar Yusra dikenal sebagai wartawan.
Sebagai wartawan ia pernah jadi manajer editor selama 9 tahun di Harian Singgalang, Redaktur Pelaksana (Redpel) Harian Singgalang pada 1985-1986, dan pernah juga di Harian Haluan, serta menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1991-1993.
Kumpulan sajak karya Abrar Yusra di antaranya; Ke Rumah-Rumah Kekasih (1975), Siul (1975), Aku Menyusuri Sungai Waktu (1976), dan Jalan-Jalan.
Ia juga menulis novel berjudul Negeri Tanpa Bedil (2001) dan Tanah Ombak (2002), serta menulis cerita anak-anak yang salah satunya berjudul Anak Gerilya (1996).
Novelnya yang berjudul Tanah Ombak meraih penghargaan Hadiah Sastra Mastera (Masyarakat Sastra Asia Tenggara) kategori Karya Kreatif di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tahun 2003.

Biografi yang ditulis Abrar Yusra bersama Ramadhan KH di antaranya Hugeng Polisi Idaman dan Kenyataan (Sinar Harapan, 1995), Komat-Kamit Selo Soemardjan (Gramedia: 1995), Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (biografi AA Navis, Gramedia: 1994).
Pada saat peringatan 50 tahun kematian Amir Hamzah, Abrar Yusra menyusun biografi Amir Hamzah berjudul “Amir Hamzah–Biografi seorang Penyair” yang dibacakan olehnya pada 20 Maret 1996 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Abrar Yusra juga menulis cerita pendek (cerpen) dengan judul Syorga (Horison No. 7/VIII 1973).
Beberapa judul sajak yang ditulisnya antara lain sebagai berikut;
Aku pun Orang yang Datang Kemudian (Horison No. 6/V 1970)
Siul (Horison No. 6/V 1970)
Kita Berpisah. Tinggallah (Basis No. 10/XXI 1972)
Lagi Angin Merintih (Basis No. 10/XXI 1972)
Tiada yang Kembali. Manusia hanya Meninggalkan Jejak (Basis No. 10/XXI 1972)
Manusia Senantiasa Pergi (Basis No. 10/XXI 1972)
Tapi Terdampar Sepi di Tempat ini (Basis No. 12/XXI 1972)
Padang! Hallo, Padang! (Horison No. 2/VIII 1975)
Abrar Yusra meninggal dunia pada 28 Agustus 2015 setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bogor karena penyakit stroke.
Ia meninggalkan 3 orang putra, 1 putri, dan 5 cucu. Jenazahnya dimakamkan di Lawang, Kabupaten Agam, Sumbar.
(Ika)























