Oleh : Wiztian Yoetri
// forumsumbar //
“ALHAMDULILLAH. Dia sudah menemukan lubuk dimana dia lebih banyak bisa berbuat. Media itu tempat dia membangun komitmen intelektualnya. Syukurlah. Sampaikan salam dan selamat dari aku dan keluarga, ya. Terimakasih buat kalian semua. Salam takzim.”
Lepas sudah rindu di hati setelah lama tak berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Rindu itu impas setelah balasan chat whatsapp dari seorang yang pernah menjadi pemimpin, didahulukan selangkah ditinggikan seranting; Bapak Rida K. Liamsi. Tokoh pers dari Pekanbaru penyandang gelar Seniman Perdana. Tempat kami mengadu dan bercerita banyak hal tentang perjalanan mendirikan, membesarkan sebuah badan usaha yang dipercayakannya.
Pernyataan langsung yang berada di alinea awal tulisan ini merupakan balasan beliau setelah saya mengabarkan capaian seorang wartawan yang pernah bergabung bersamanya; Abdullah Khusairi, meraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat. Abdullah Khusairi dan Rida K. Liamsi sesama maniak sebagai pembaca dan penulis sastra. Jika ada pertemuan rapat, biasanya para penulis prosa; sastra cerpen, puisi, novel, akan saling bersilaturrahmi dengan akrab.
Dr. Abdullah Khusairi, MA merupakan tim kerja Harian Pagi Padang Ekspres di generasi kedua yang pernah menjabat Redaktur Pelaksana Edisi Minggu/Wakil Pemimpin Redaksi. Setelah itu ia juga menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Posmetro Padang dan Pemimpin Redaksi Padang-Today.Com. Akhirnya mendapat lubuk, dimana ia bisa banyak berbuat; Jadi tenaga pengajar di almamaternya Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah & Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.
Pengalaman menjadi tim kerja usaha pers di bawah kepemimpinan Rida K. Liamsi sangatlah berharga. Perlu dibagi kepada generasi-generasi baru pada hari ini, yang mau terjun ke industri informasi. Harusnya beliau juga mau berbagi, mengisi waktu kosong, berjalan dari redaksi ke redaksi, dari kampus ke kampus. Ini amal ibadah yang luar biasa, jika saja ia tak sesibuk dulu.
“Mari bersama-sama membesarkan perusahaan ini. Ibarat bertanam, jangan tebang pohon ini, kita akan panen bersama kala ia berbuah lebat. Kalau kalian mampu membesarkan usaha kita ini, biro-biro iklan akan mengandalkan kita. Kita harus kejar target menjadi yang terbaik agar iklan datang dan antri di meja divisi usaha,” ujar penulis Novel Bulang Cahaya (JP Book Surabaya-Yayasan Sagang:2007) ini.
Di tengah suasana rapat yang serius membaca angka-angka dalam neraca usaha, selalu ada kearifan diungkapkan Pak Bos, demikian ia sering kami sapa akrab. Sebagai orang yang pernah di lapangan, wartawan muda pada masanya, wartawan dari Majalah TEMPO pula, beliau menjadi motivator yang ulung.
Peran dan tangan dinginnya dicatat dalam sejarah persuratkabaran di Sumbar. Harian Pagi Padang Ekspres yang kini berkembang dengan anak-anak perusahaannya tak lepas dari motivasi seorang Rida K Liamsi. Kini Harian Pagi Padang Ekspres, memasuki umur 21 tahun. Sebuah surat kabar yang mengusung semangat suara reformasi dari Sumbar. Menjadi sumber informasi yang mendorong kemajuan daerah. Semoga, Harian Pagi Padang Ekspres terus mengusung semangat tersebut di masa depan.
Suatu hari ia pernah bercerita pada masa-masa sulit mengembangkan Harian Pagi Riau Pos, induk usaha industri informasi di Pekanbaru. Pak bos ke Padang untuk cetak. Ia jadi rajin dan akrab dengan Kota Padang. Waktu itu, masih sistem press, cetak manual setiap huruf dengan timah-timah huruf yang disusun dengan hati-hati. Perjuangan seperti itu digambarkan sebagai kebalikan pada masa-masa dimana tenaga-tenaga baru, teknologi-teknologi baru dihadirkan, telah membawa perubahan yang hebat.
Beda zaman, beda tantangan. Tetapi sesungguhnya, daya juang itu tetaplah harus digunakan. Kerja keraslah kalian memenuhi target bersama dalam kebersamaan. Kompak dan solid, ujarnya suatu waktu.
“Sejarah telah menuliskan, Ranaminang adalah pusat peradaban dalam urusan industri informasi. Kalian harus menjaga dan meneruskan itu dengan baik. Jangan sampai sudah didirikan lalu tutup, itu memalukan, tegasnya, dalam sebuah rapat.
Pernyataan-pernyataan beliau terus terngiang, apresiasi yang tinggi dari Pak Bos terhadap daerah-daerah yang pernah dilaluinya di masa-masa sulit, hingga masa pengembangan surat kabar, televisi, media online di bawah induk korporasi Jawa Pos, telah melekat menjadi sebuah kalimat-kalimat motivasi yang hidup dan dapat diingat setiap saat.
Kita sesama awak media yang lain tidaklah bertanding, tapi bersanding. Bersanding untuk menjalankan amanat sebagai pilar keempat demokrasi. Menjadi tempat aspirasi dan inspirasi publik. Jangan pernah kecewakan pembaca, papar penulis buku kumpulan puisi dwibahasa Rose (Sangang: 2013) ini.
Menurut data yang didapatkan secara online, Rida K. Liamsi lahir di Dabo, Singkep, Lingga, Kepulauan Riau tanggal 17 Juli 1943. Mengawali karier sebagai guru sekolah dasar di Kepulauan Riau, pada tahun 1967-1975. Bergiat dalam penulisan sastra dan berita, dan menjadi bagian yang menyatu dengan sejarah dan gairah kesenian di Kota Tanjungpinang dasawarsa 1960-an hingga awal 1980-an. Rida K. Liamsi merupakan kebalikan dari nama asli beliau, yakni Ismail Kadir yang jika dibaca dari belakang akan menjadi Ridak Liamsi, namun pada kata Ridak diberi spasi sehingga menjadi Rida K. Liamsi.
Sebagai jurnalis, ia pernah bekerja di Berita Buana (1972 1973), majalah Tempo (selama 5 tahun), dan surat kabar Suara Karya (5 tahun); semuanya terbit dan berkantor induk di Jakarta. Kemudian dia dipercaya memimpin surat kabar mingguan Genta pada taun 1983, di Pekanbaru. Dalam lingkup komunitas wartawan ini, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau.
Pada tahun 1991, memimpin Riau Pos yang berhasil menjadikan Grup Riau Pos, memimpin 23 koran harian, 5 portal, 5 televisi, satu radio siar, dan satu provider jaringan maya; tersebar di Sumatra bagian tengah dan utara, dengan pusat kendali di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
Selain itu, aktif di Yayasan Sagang, yang sejak 1997, setiap tahun memberi penghargaan untuk budayawan/seniman, karya, lembaga budaya, dan peliputan budaya, khususnya kebudayaan Melayu. Para penerima anugerah ini adalah pribadi dan lembaga yang dipandang berperan penting dalam pengayaan kebudayaan dan peradaban Melayu dalam lingkup luas alam Melayu, termasuk dari negara-negara serumpun. Tahun 2011, Majalah Sagang menandatangani kesepakatan kerja sama dengan majalah sastra Korea Selatan, Sipyung.
Yayasan Sagang juga mendirikan Majalah Sagang, satu-satunya majalah budaya Indonesia. Sejak tahun 2010, yayasan yang dipimpinnya ini juga mengelola Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), atas keinginan pengelola sebelumnya yakni Yayasan Pusaka Riau. Akademi ini sekarang berproses menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau.
Begitulah, perjalanan dan pemikiran seseorang, siapapun itu, selalu menarik dibaca. Begitu banyak pelajaran yang bisa dipungut sebagai pengetahuan untuk digunakan di masa mendatang. Menjadi wartawan, sastrawan, budayawan, ilmuwan, merupakan profesi yang tak pernah berhenti belajar. Ini profesi yang termasuk wilayah intelektualitas. Kemanapun dihadapkan, bila seseorang terus menyadari pentingnya belajar, maka ia akan terus menggali ilmu pengetahuan. Pak Bos punya dua sekaligus, punya pengalaman dan pemikiran yang sangat berharga. Pesan-pesannya selalu kuat dan mengiang hingga kini. Menjadi ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang mau memungutnya.
Penulis adalah Wartawan Senior
Catatan :
Tulisan yang sama sudah dimuat di TERAS UTAMA Harian Padang Ekspres terbit hari Jumat, 20 Desember 2019























