
Ruang Sidang Pengadilan Agama
Oleh: Patria Subuh
Siang itu, Hari Rabu pukul setengah dua.
Udara menguar berbau tak sedap.
Peluh pengunjung bercucuran
bercampur baur
dalam hangatnya cuaca
musim panas yang terik
di Bulan Juli.
Dengung suara,
merebak kemana mana.
Memenuhi udara pengap
yang meruap
lembab
namun hangat.
Remang cahaya yang berkilauan
Dari lampu yang bertebaran
di ruang tunggu sidang pengadilan
nyaris menyilaukan penglihatan.
Dengung seperti suara lebah
di ruang tunggu kantor pengadilan agama
sepertinya semakin nyata terdengar
Saat pengunjung antrian
Semakin hingar bingar
bosan menunggu giliran tiba
Kali ini giliran antrian
nomor sebelas
Sudah satu jam
pasangan yang akan cerai itu
berada dalam ruang sidang.
Namun belum ada tanda tanda
akan selesai
Ada apa gerangan?
Pasangan lain yang antri di ruang tunggu
mulai resah menahan gelisah
Hari pun semakin sore
Sebentar lagi jam dinas akan habis
Seorang laki-laki datang menuju petugas dengan mimik harap-harap cemas
“Pak, apakah bisa dipercepat waktu sidangnya? “, tanyanya serius.
“ Kami sudah dari pagi menunggu, dan kami masih punya banyak urusan !”
Sang petugas diam termangu,
Lalu masuk nyelonong ke ruang sidang
Bertanya kepada pak hakim panitera.
Berbisik bisik sambil tertawa
menunjuk-nunjuk
sambil tersenyum-senyum
mengangguk angguk.
Beberapa saat kemudian keluar lagi
dari ruang sidang
menemui pengunjung tadi.
“Maaf, pak, harap sabar. Sebentar lagi kelar”, katanya perlahan.
Tak lama kemudian pasangan antrian
nomor sebelas pun
selesai disidang
Akhirnya pada pukul tiga lewat
sore itu,
tiba giliran antrian pasangan
nomor dua belas.
Ketika dipanggil lewat corong pengeras suara
para pengunjung sidang pun berdengung.
Saling memandang dengan wajah bingung.
Panggilan diulangi berkali-kali.
Tak ada respons!
Para pengunjung sidang di ruang tunggu
saling berpandangan
dengan wajah
berkerut penasaran.
Saling bertanya-tanya
Ini giliran siapa?
Mana orangnya?
Namun tetap tak ada respons!
Seorang petugas pengadilan
datang mendekat
ke ruang tunggu
Sambil berteriak-teriak penasaran,
Mencoba mencari penjelasan
“Apakah ada antrian nomor dua belas?, buk,… pak? “,
lalu pertanyaan diulangi lagi
bahkan sampai tiga kali
Namun
tak ada reaksi,
tak ada sahutan,
tak ada yang mengaku.
Wajah-wajah bingung
menyorot dan menyeruak
di dalam ruang tunggu
sidang pengadilan agama
Pengunjung diam termangu
kesal bercampur ragu
karena pasangan cerai
nomor dua belas, hari itu
ternyata tak pernah hadir
memenuhi panggilannya
Untuk disidang 😉
Payakumbuh, 18 Agustus 2024
Catatan;
Patria Subuh merupakan seorang ASN/PNS di Pemkab Limapuluh Kota yang punya perhatian terhadap permasalahan politik, ekonomi, sosial dan budaya (poleksosbud).
Tamatan Teknik Sipil ITB Bandung kelahiran Padang pada tahun 1967 ini juga sering menulis mengenai masalah kesehatan, dan juga puisi.
























