
Oleh: Putri Ayuni
MANUSKRIP Arab di nusantara dalam kesadaran linguistik sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia diperkaya dengan adanya naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab atau ditulis dengan aksara Arab, seperti Pegon atau Jawi, meskipun tidak menggunakan bahasa Arab.
Dalam konteks korpus linguistik, naskah tersebut merupakan bukti eksistensi dan dinamika penggunaan bahasa Arab secara nyata oleh penutur bahasa Indonesia.
Tulisan ini memaparkan beberapa klasifikasi naskah-naskah berbahasa Arab dan urgensinya sebagai bahan data korpus bahasa Arab di Indonesia dalam konteks pengembangan penelitian bahasa Arab multidisiplin.
Selanjutnya, naskah tersebut akan dipetakan berdasarkan tujuh jenis korpus bahasa Arab yang ada di Indonesia. Berdasarkan pemetaan tersebut, diproyeksikan mayoritas naskah berbahasa Arab di Nusantara dikategorikan sebagai korpus karya ilmiah, korpus kajian keislaman, dan korpus karya sastra.
Untuk itu, naskah-naskah tersebut perlu diolah menjadi bahan teks digital untuk dianalisis dengan aplikasi pengolah korpus melalui tiga tahap yaitu: pemindaian gambar, konversi gambar menjadi teks, dan verifikasi teks manual.
Naskah Melayu dalam Bidang Pendidikan Islam: Studi Pendahuluan di Perpustakaan Nasional Malaysia. Mohd Anuar Mamat dalam Jurnal Islam dan Masyarakat Kontemporer, tahun 2017.
Para ulama Islam di Nusantara Melayu memainkan peran penting dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Mereka berkomitmen dalam mengembangkan peradaban Melayu-Islam serta pengetahuan Islam. Kontribusi mereka dibuktikan dengan adanya sekitar 22.000 pertarungan manuskrip di berbagai bidang ilmu.
Oleh karena itu, tulisan ini akan fokus pada kontribusi ulama Islam di Melayu Nusantara dalam pendidikan Islam dengan mempelajari naskah-naskah Melayu.
Fokusnya terutama pada naskah-naskah pendidikan Islam karena kajian-kajian sebelumnya membahas kontribusinya dan kategori naskah-naskah secara umum. Naskah-naskah pendidikan Islam dimasukkan dalam bidang agama.
Data dikumpulkan dari katalog deskriptif yang diterbitkan oleh Pusat Naskah Melayu Nasional, Perpustakaan Nasional Malaysia. Dimana ada sekitar 32 manuskrip yang berkaitan dengan pendidikan Islam, yaitu; 12 manuskrip berjudul ‘Adab’ sebagai istilah risalah pendidikan Islam. Naskah pendidikan yang terpilih akan di-review dan dijelaskan secara detail.
Temuan tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkapkan bahwa ulama Islam di Nusantara Melayu memiliki kontribusi yang signifikan dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, kajian dan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan di bidang pendidikan dalam kaitannya dengan pemikiran pendidikan dan karya-karya klasik ulama Islam awal di Nusantara Melayu.
Nah dari sini sudah mulai paham bahwa perkembangan dalam penentuan manuskrip kuno Melayu ini. Sudah banyak menyebar di bergairah daerah Nusantara, apalagi di daerah Sumatera Barat. Lebih tepatnya di suku Minangkabau.
Para alim ulama juga menjelaskan bahwa orang dahulunya memakai tulisan Melayu kuno ini. Sampai pada pertengahan jaman juga masnyarakat Minang masih memakai tulisan arab yang berbasis Melayu atau bisa disebut tulisan Jawi, bisa juga dikenal dengan Arab melayu. Yang kemudian di gunakan dalam berbagai kegiatan contohnya dalam hal berdagang, surat tanah, peradaban dan kegiatan lainnya.
Akan tetapi pada perubahan zaman yang secara mengglobalisasi pada era perkembangan multiteknologi serta adanya bahan kajian baru yang mengharuskan Arab Melayu itu semakin sedikit di pergunakan oleh masyarakat Minang.
Maka kajian korpus membahas tentang cara mendigitalisasikan kembali naskah-naskah kuno tersebut menjadi baru supaya naskah tersebut bisa dibaca oleh khalayak umum dan dipelajari kembali.
Oleh sebab itu, para alim ulama juga menjelaskan bahwa pemakaian pengdigitalisasian memakai beberapa alat yang berupa mikrofilm atau bisa juga dititipkan atau dikonsumsi korpus dalam Perpustakaan Nasional di dalam daerah masing-masing, termasuk dalam perpustakaan Padang dan museum Adityawarman.
Dalam peninggalan sejarahnya juga ada beberapa manuskrip yang dijadikan bahan ajang penglihatan bagi masyarakat umum. Bahwa manuskrip itu seperti ini yang berkajian tentang Arab bercampur Melayu yang sudah dijelaskan oleh para pakar penelitian sebelumnya, bahwa manuskrip ini untuk diamankan karena manuskrip kuno tersebut adalah peninggalan sejarah dari nenek ke nenek moyang tak jarang pula peneliti juga mengharuskan menelaah kertas apa yang dipakai oleh orang dahulunya.
Apakah kadar asamnya kuat atau tidak atau kertasnya berbeda dari zaman ke zamannya Tak jarang pula kertas yang dipakai oleh orang dahulunya itu sangatlah berbeda dari segi zat yang digunakan.
Dan sedikit sejarah perkembangan manuskrip di daerah Minangkabau. Sejalan dengan masuknya Islam di Nusantara, khususnya masnyarakat Minangkabau, huruf Arab mulai dikenal.
Secara bertahap terjadi proses adaptasi dimana aksara Arab dapat digunakan untuk penulisan bahasa Melayu. Abjad semacam itu kemudian dikenal sebagai abjad Arab Melayu.
Dengan menggunakan abjad Arab Melayu selama berabad-abad para sastrawan Aceh dan juga Asia Tenggara telah menghasilkan ribuan karya yang kini disebut Naskah Arab Melayu.
Masuknya aksara latin yang dibawa oleh masyarakat Barat menyebabkan turunnya popularitas aksara Arab Melayu. Belakangan ini, sebagian besar masyarakat Minang tidak bisa lagi membaca naskah Arab Melayu.
Naskah semacam ini sangat penting untuk dilestarikan dan juga apresiasi masyarakat Minang terhadap naskah tersebut. Artikel ini hendak memaparkan sejarah upaya pelestarian naskah-naskah Arab Melayu.
Setelah penjelasan secara singkat tadi menurut saya penjabaran naskah Arab Melayu ini juga dalam golongan daerah-daerah yang akan dilestarikan menggunakan digitalisasi, yang menggunakan mikrofilm.
Perkembangannya pada saat ini sudah banyak naskah-naskah Melayu yang sudah dilestarikan dan di okumulatif kembali, atau bisa disebut dengan penyelamatan naskah.
Penyelamatan naskah tersendiri sudah dimulai sejak tahun 2011 hingga saat ini termasuk dalam golongan Universitas Andalas sudah banyak menyelamatkan naskah-naskah ke pelosok yang ada di daerah Sijunjung tak lupa masyarakat Sijunjung juga sangat antusias karena naskah-naskah kuno tersebut bisa dapat diselamatkan dengan penggunaan digitalisasi.
Digitalisasi sendiri sudah banyak dilakukan oleh para peneliti, untuk melihat naskah-naskah kuno yang masih bisa diselamatkan atau masih bisa dibaca dalam bentuk tulisan lamanya. Baik penjelasan saya kali ini juga sudah merincikan dalam bentuk sebuah artikel manuskrip Arab Melayu ini.
Kesimpulan yang saya dapat dalam penjelasan artikel singkat ini yaitu kita harus menjaga peninggalan sejarah yang ada di daerah kita termasuk daerah Minangkabau, baik itu peninggalan sejarah berupa benda ataupun non benda. Tak lupa pula kita juga menjaga peninggalan-peninggalan tersebut supaya asri dan atau masih bisa dilestarikan kembali. Dengan menggunakan teknologi pada zaman sekarang, saat ini yang makin canggih dan makin bisa untuk kita memudahkan dalam melestarikan apapun. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas























