
Oleh: Mela Putri
MINANGKABAU memiliki berbagai pepatah petitih yang digunakan untuk mengatur berjalannya kehidupan dalam bermasyarakat dan dapat di jadikan sebagai nasehat untuk diri sendiri dalam menjalani kehidupan.
Pengertian pepatah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah peribahasa yang mengandung nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (biasanya dipakai atau diucapkan untuk mematahkan lawan bicara).
Pepatah petitih juga dapat diartikan pepatah (kata-kata yang mengandung patokan hukum norma, petitih (aturan yang mengandung pelaksanaan adat dengan seksama).
Suatu pepatah petitih kadang-kadang mengandung kata yang bersayap yang memiliki arti sangat luar biasa. Ia berisi kiasan, sindiran, perumpamaan, lecutan atau ajaran suri teladan yang ditujukan pada seseorang.
Tidak hanya pepatah petitih yang digunakan sebagai patokan dalam berkehidupan, di Minangkabau juga ada filosofi yang disebut juga filsafat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat atau dasar segala yang ada.
Sebab, asal dan hukumnya; terhadap adat Minangkabau yang merupakan pandangan hidup orang Minang dari dulu sampai sekarang ditampilkan kepada alam sehingga akan mempunyai konsekuensi logis bahwa sepanjang adanya alam ini akan ada terus adat Minangkabau yang dilambangkan dengan ungkapan kata adat : “Indak lapuak dek hujan indak lakang dek paneh” (tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas).
Maknanya tidak lekang artinya tidak luntur atau tidak rusak, meskipun disinari matahari terus-menerus.
Biasanya suatu benda yang terus-menerus terkena sinar matahari atau panas akan rusak dan lapuk bila selalu ditimpa hujan.
Dalam hal ini adat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak berubah sampai akhir zaman karena filosofi hidupnya sesuai alam dan bersifat alamiah bukan bertentangan dengan alam.
Seperti anak dekat dan dipelihara oleh ibu, pepatah di atas menjelaskan sesuatu yang bersumber dan tidak bertentangan dengan alam akan abadi selamanya alam itu masih ada inilah kerja kejadian adat Minang yang mendasarkan semua ajaran pada alam sehingga timbul ungkapan alam takambang jadi guru.
Pepatah petitih di Minangkabau dapat digunakan dalam berbagai situasi keadaan dan waktu yang berbeda karena setiap keadaan telah ada pepatah petitihnya di Minangkabau.
Seperti dalam ajaran adat terdapat berbagai macam pepatah petitih mulai dari: “Adaik diisi, limbago dituang” (adat diisi, lembaga dituang). Maknanya adat merupakan aturan kehidupan, sedangkan limbago adalah aturan yang dibuat bersama guna untuk mengatur keharmonisan setiap anggota masyarakat.
Maka dengan adanya adat yang selalu diisi dan dituang oleh limbago maka kehidupan dalam bermasyarakat akan harmoni.
“Adat dipakai baru, kain dipakai usang”, maknanya bila kita selalu berpijak pada ketentuan adat itu akan selalu baru dan berkembang sedangkan benda atau kain bila dipakai akan lusuh atau usang. Pepatah ini menjelaskan bahwa bila adat Minang selalu dilaksanakan akan terjadi penyempurnaan dan perbaikan tata cara adat itu bila sebaliknya terjadi ketentuan adat itu akan mati sebab tidak ada yang melaksanakannya.
Ini salah satu pepatah petitih dalam ajaran adat sedangkan jika dalam kegelisahan maka akan terdapat pepatah petitih sebagai berikut: “Alun diayun lah tataruang” (belum melangkah sudah tertarung). Maknanya tujuan melangkahkan kaki tentu ada yang akan dicapai namun bila sudah bertarung di awal terlangka han merupakan tanda tanda bahwa tujuan yang diinginkan itu tidak akan tercapai.
Pepatah ini merupakan kias orang Minangkabau bahwa baru saja suatu niat yang masih dalam rencana sudah mendapat hambatan karena itu kita harus lebih berhati-hati untuk memulai suatu pekerjaan.
Bagi orang yang selalu optimis bertarung pada langkah pertama seperti tidak akan menyurutkan keberaniannya untuk terus maju ke depan.
Pepatah lain mengatakan “Bak cando ayam tamakan di abuik” (bagai ayam termakan pada rambut). Maknanya seker ayam yang kebetulan termakan kotoran rambut akan menyebabkan ayam itu sangat menderita cepat tai ini disiarkan pada seseorang yang selalu batu dan sesak napas sehingga menimbulkan kecurigaan atau sesuatu yang tidak beres dalam kerongkongan nya dalam kondisi ini pun jelas bahwa yang bersangkutan tidak secara penuh melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Inilah beberapa pepatah petitih dilihat dari dua kondisi dalam hidup di Minangkabau yaitu dalam ajaran adat dan kondisi diri dalam kegelisahan agar pepatah petitih dalam penyampaian tepat makna dan mengena maka suatu pepatah petitih harus dilontarkan tepat sasaran, bergantung pada situasi dan kondisi yang tengah dihadapi.*)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas























