SOLOK, forumsumbar—Permasalahan cukup krusial menerpa para petani Kanagarian Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, yaitu sekitar 60% petani alami gejala neurotoksik. Dimana penggunaan insektisida sintetik yang dinilai praktis oleh para petani untuk meminimalisir serangan hama, ternyata membawa dampak negatif yang sangat besar bagi kesehatan dan lingkungan.
Mencermati itu, beberapa orang staf pengajar di Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Unand, di antaranya Nugraha Ramadhan, Fitri Ekawati, Doni Hariadi, Obel, Rachmad Hersi Martinsyah dan Ifan Suliansyah, melakukan pengabdian kepada masyarakat di Alahan Panjang, untuk membantu petani Alahan Panjang keluar dari masalah neurotoksik.
“Mengingat akibat sampingan yang besar atau bahkan menyebabkan rusaknya lingkungan, maka penggunaan pestisida sintetik sudah harus dipikirkan untuk mulai dikurangi atau diaplikasikan secara lebih bijaksana,” ujar Nugraha Senin (18/11).
Lebih lanjut Nugraha menyampaikan, adanya beberapa anggota kelompok tani yang mulai resah dengan hasil panen selama ini yang kurang sehat karena banyak mengandung residu kimia. “Lahan pertanian juga mulai menurunkan kualitasnya, dan lebih penting lagi, mahalnya pestisida kimia yang di jual di pasaran,” sebut Nugraha.
Tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian Unand kemudian memberikan solusi kepada kelompok tani Harapan Baru Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti untuk menekan penggunaan pestisida kimia sintetik dengan beralih ke pestisida nabati dengan pemanfaatan ekstrak dari daun pepaya.

Kelompok tani menyetujui akan solusi yang ditawarkan sehingga keberlanjutannya dibuatlah suatu kegiatan antara Fakultas Pertanian Unand sebagai pembina bersama kelompok tani Harapan Baru. “Adapun kegiatan pengabdian ini didanai dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Unand dalam rangka pengabdian Ipteks Berbasis Dosen dan Masyarakat (IBDM),” ucapnya.
Belum banyak diketahui, ungkap Nugraha, bahwa getah pepaya mengandung kelompok enzim sistein protease seperti papain dan kimopapain, serta menghasilkan senyawa-senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino yang sangat beracun bagi serangga pemakan tumbuhan.

Senyawa-senyawa tersebut juga mampu membuat gerakan dan perkembangan hama seperti ulat dan kutu menjadi semakin lambat serta aktivitas makannya semakin berkurang. “Dari hasil kegiatan ini telah diformulasi produk pestisida nabati berbahan dasar ekstrak daun pepaya yang memiliki keunggulan dalam meminimalisir tingkat serangan hama pada tanaman hortikultura,” tukuk Nugraha.
Beberapa organisme pengganggu tanaman yang dapat dikendalikan dengan pengaplikasian pestisida ini ialah ulat daun, ulat grayak, kutu daun, kutu kebul, thrips serta penyakit yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. (Rel)






















