
Oleh: Monica Milda Fitriani
NASKAH kuno merupakan satu hasil dari peninggalan sejarah, dan salah satu tempat untuk menyimpan naskah kuno tersebut adalah surau. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan naskah, surau juga dijadikan sebagai tempat untuk menyalin naskah yang ada di sana.
Naskah sangat penting dalam kehidupan. Tidak hanya berisi tentang sejarah, naskah juga berisi tentang pendidikan agama, pengobatan tradisional dan masih banyak lagi.
Iluminasi naskah bisa juga dijadikan sebagai salah satu motif batik. Iluminasi naskah adalah ukiran yang terdapat di dalam naskah.
Zaman dulu bagaimana pentingnya naskah kuno ini bagi masyarakat. Dalam naskah terdapat banyak sekali ilmu yang bisa diambil. Naskah merupakan barang berharga yang harus terus dijaga agar tidak rusak. Jika naskah rusak maka isi yang ada di dalamnya tidak dapat di lihat lagi.
Naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad sejarah ditulisnya naskah ini berhubungan dengan terbentuknya tarekat Syattariyah dan banyaknya pengaruh Hindu Buddha yang masuk ke Aceh tepatnya kisaran abad ke 14-19.
Tarmizi A Hamid mencatat itu semua sebagai masa periode peralihan. Pada periode itu pengaruh Hindu Buddha masuk di kehidupan umat muslim yang ada di Aceh. Maka dari itulah ditulis naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad sebagai landasan terbentuknya tarekat Syattariyah.
Penulis naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad ini adalah Shaikh Daud bin Ismail bin Mustafa Rumi. Orang-orang biasa memanggil beliau dengan nama Baba Dawud. Ayah dari Baba Dawud merupakan seorang prajurit yang diutus dari negara Turki atas permintaan pemerintahan Aceh.
Naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad merujuk kepada sejarah perkembangan Islam di Nusantara abad ke 16 yang ditulis oleh Baba Dawud. Sejarah mengenai Shaikh Daud bin Ismail bin Mustafa Rumi. Tidak hanya merupakan anak dari seorang prajurit Baba Dawud juga merupakan salah satu murid kesayangan Abdul Rauf As-Sinkili.
Beliau merupakan salah satu tokoh agama yang sangat popular di Aceh. Beliau juga penggerak tarekat Syattariyah di Aceh. Naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad menjadi penghubung dan landasan yang kokoh mengenai model pembelajaran tarekat di Aceh.
Baba Dawud merupakan salah satu murid kesayangan Abdul Rauf karena dia memiliki tulisan yang indah dan dia juga sangat dekat dengan Abdul Rauf dan merupakan salah satu pendiri dari sekolah tarekat Syattariyah. Ilmu agama yang dimiliki oleh Abdul Rauf itu juga dimiliki oleh Baba Dawud.
Karena Baba Dawud mempunyai kemampuan membuat tulisan yang indah maka dia dipercaya untuk menyalin karya-karya yang telah di buat oleh Abdul Rauf. Contoh saja seperti naskah Tarjuman Al Mustafid.
Baba Dawud juga merupakan pendiri dari lembaga pendidikan tradisional Aceh yang bernama dayah. Dayah ini juga merupakan lembaga pertama pengembang tarekat Syattariyah.
Shaikh Burhanuddin beliau berasal dari Ulakan daerah Pariaman Sumatera Barat. Burhanuddin adalah salah satu murid yang nama gurunya selalu dikaitkan pada namanya. Nama guru dari Burhanuddin adalah Abdul Rauf yang juga merupakan penggerak dari tarekat sayattariyah di Aceh.
Burhanuddin juga salah satu pengembang tarekat Syattariah. Baba Dawud sepertinya membuat naskah ini untuk menyampaikan surat agar mendalami ilmu tasawuf. Selain Baba Dawud adalah salah satu guru dari dayah. Beliau juga merupakan ulama ternama di Aceh.
Setelah penulis menjelaskan sejarah dari naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad, kita membahas mengenai isi dari naskah Masa’il Al-Mubtadi li Ikhwan Al-Mubtad.
Secara garis besar naskah ini menjelaskan tentang ajaran agama Islam yang digambarkan melalui lima aspek yang menjelaskan secara detail mengenai iman – islam – ihsan – tauhid dan ma’rifah. Kelima komponen ini harus dimiliki oleh umat Islam agar menjadi manusia yang ideal.
Sebagai manusia kita harus memiliki pendirian yang kuat. Apapun rintangan yang kita hadapi saat menjalankan apa yang telah diputuskan maka tetap lah jalani dan jangan berhenti ataupun berpaling dari tujuan yang telah dibuat.
Islam mengajarkan kita disiplin, teguh pada pendirian, dan sabar menghadapi semua tantangan dan cobaan yang sedang di alami. Sholat itu tiang agama fondasi bagi agama jika kita tidak sholat maka kita tidak memiliki fondasi.
Belajar agama itu wajib agar semua ajaran Islam harus kita ketahui agar tidak terjadi kesalahan pahaman apa lagi kehilangan pendirian terhadap agama.
Orang yang ikut pengajian tarekat biasanya puasanya terlambat dari yang tidak mengikuti pengajian tarekat. Saat ingin memasuki bulan suci Ramadhan mereka melihat bulan dulu dan kemudian menghitung hari setelah sesuai maka barulah mulai puasa dan lebarannya pun juga lebih lama dari yang biasanya.
Meskipun teknologi telah berkembang, masyarakat yang ikut dalam pengajian tarekat biasanya tetap menggunakan cara yang lama dalam menentukan kapan hari mereka berpuasa dan Hari Raya Idul Fitri.
Saat hari besar agama Islam mereka lebih sering membuat acara besar untuk memperingatinya kalau di kampung penulis biasanya mereka menyembelih kambing atau sapi sebagai wujud rasa syukur pada Allah.
Perbedaan inilah yang membuat pengajian tarekat lebih unik. Saat ini orang banyak yang tidak ikut dalam pembelajaran tarekat dibandingkan dengan dulu masyarakat banyak yang ikut. Karena perubahan zaman dan perkembangan membuat orang jarang yang mengikuti pembelajaran tarekat bukan berarti saat ini orang yang mengikuti pengajian tarikat itu tidak ada, mereka ada tetapi tidak banyak.
Saat salah satu dari anggota pengajian tarekat meninggal, ketika jenazahnya ingin dibawa ke kuburan untuk dimakamkan, seluruh anggota bersolawat dari rumah duka sampai ke pemakaman. Semua yang menghantarkan jenazah itu bersolawat sampai jenazah selesai dimakamkan dan setelah itu baru berdo’a bersama-sama.
Beda halnya dengan orang yang tidak mengikuti pengajian tarekat, jenazah saat ingin dibawa ke kuburan terlebih dahulu ustad menyampaikan pasambahan mengenai almarhum, baik itu berupa hutang piutang ataupun perbuatan yang tidak sengaja dilakukan mohon di maafkan. Barulah jenazah dibawa ke makam untuk di kuburkan tanpa membaca sholawat.
Setelah di kuburkan barulah melakukan do’a bersama, baik itu di kuburan, setelah itu baru berdo’a bersama di rumah dan pada malam harinya baru melakukan acara baratik.
Semua perbedaan ini sudah biasa terjadi di kampung penulis, jadi saat melihat perbedaan ini jangan merasa terkejut karena hal ini sudah lama terjadi dan tidak ada pertentangan mengenai hal ini.
Orang yang mengikuti pengajian tarikek mereka lebih mendalami ilmu agama di bandingkan dengan masyarakat umum. Orang pengajian pada umumnya mereka lebih mengenal dan mendalami ilmu Al-Qur’an. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Buday (FIB) Universitas Andalas (Unand)























