
Oleh: Alfayet Arief
TAHUKAH pembaca bahwa banyak sekali kedai-kedai wifi yang sekarang dipenuhi hampir setiap malam oleh para penikmat game online?
Mungkin game bisa diartikan sebagai permainan, pertama tentu kita bahas tentang game online atau Permainan Daring (bahasa Inggris: Online Game); adalah jenis permainan yang memanfaatkan jaringan komputer.
Jaringan yang biasanya digunakan adalah jaringan internet dan yang sejenisnya serta selalu menggunakan teknologi yang ada saat ini, seperti modem dan koneksi kabel.
Sedangkan Permainan tradisional adalah suatu aktivitas bermain yang dilakukan oleh anak-anak sejak zaman dahulu dengan aturan-aturan tertentu guna memperoleh kegembiraan.
Permainan tradisional memiliki kandungan nilai dan manfaat yang tersimpan di dalamnya dan dapat memberikan efek positif bagi siapa saja yang memainkannya.
Mungkin sekarang hal ini terjadi akibat pergeseran-pergeseran nilai budaya serta perkembangan teknologi yang serta merta membuat anak muda di Indonesia sekarang suda lupa bahwa dulu ada sebuah permainan yang lebih mengasyikkan dan tidak terlalu merusak.
Sekarang kita sudah jarang melihat permainan-permainan tradisional, misalnya saja permainan gambar, sipak tekong, kampar, keleren, gangsing ular naga, egrang, kucing-kucingan, engklek, bakiak, congklak, ketapel dan lain-lain.
Sekarang dengan perkembangan teknologi dibarengi dengan keluarnya handphone murah bin canggih, maka anak-anak sekarang sudah tergiur dengan game yang menurut penulis lebih seru ketimbang permainan tradisional yang disebutkan di atas.
Menurut penulis penyebab yang utama game tradisional sudah mulai dilupakan adalah sebagai berikut;
1. Banyak keluar handphone canggih
Menurut penulis tahun 2018 menjadi tolak ukur, dimana banyak handphone canggih yang keluar pada saat itu, boming-nyahandphone ram 2 GB yang keluar pada saat itu dibarengi dengan harga murah membuat anak-anak membeli handphone.
Tuntutan game pada saat itu untuk bermain game agar tidak lagi lagi (tegang-tegang) adalah ram 2 GB, misalnya saja yang penulis rasakan adalah game Moba, Battleroyale dan lain-lain. Akan tetapi hal tersebut membuat handphone harga satu jutaan pada saat itu dengan ram 2 GB sudah banyak beredar.
Maka dengan hal ini membuat pasaran handphone dan game semua sama-sama bergerak ke arah yang berbarengan. Handphone murah game juga laris.
2. Jaringan yang sudah mulai masuk ke pedalaman
Pemerintah selalu menggiatkan tentang hal yang satu ini, yaitu jaringan. Pemerintah selalu berusaha menggiatkan jaringan, baik di perkotaan maupun di pedalaman.
Di tempat penulis misalnya, jaringan dulu selalu E sekarang sudah terdapat 4G. Hal ini mengindikasikan bahwa jaringan sangat berpengaruh disamping handphone yang sudah mulai canggih. Game juga tidak perlu memakai jaringan yang kuat, tetapi stabil aja sudah, developer game online juga cerdik dengan membuat game tersebut memilki kekuatan jaringan seminimal mungkin.
Contohnya saja di kampung penulis, tahun 2018 di tempat penulis belum bisa bermain game online, sekarang dengan game online yang sama sudah bisa dimainkan. Maka sekarang walaupun di pedalaman sudah bisa bermain game online.
3. Kurangnya sosialisasi oleh pemuda yang sudah berumur terhadap game tradisional
Hal ini terjadi karena pemuda yang 20 tahun ke atas sudah bisa dikatakan orang yang sudah bisa mengayomi adik-adiknya. Kurang sosialisasi tentang permainan tradisional ini terjadi karena, pemuda yang sudah mulai berumur ini juga sudah kecanduan bermain game online.
Karena simpel dan mengasyikan, maka pemuda ini juga terjerumus ke dalam game online ini, lebih parahnya lagi, para pemuda ini sudah mulai kecanduan sekali memainkan game ini.
4. Peran orang tua mengantisipasi kecanduan anak terhadap game online
Peran orang tua ini adalah titik yang paling penting dalam mengantisipasi maraknya kecanduan game online terhadap anaknya. Karena hal ini sudah menjadi landasan utama. Misalnya saja anak usia di bawah 15 tahun sekarang sudah memiliki handphone yang canggih yang sudah bisa mengakses apa saja. Orang tua perlu memperhatikan anaknya supaya kelak anak tersebut bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Penulis kira lebih baik kecanduan game tradisional ketimbang game online karena permainan tradisional hanya dilakukan siang hari tetapi game online bisa dilakukan kapan saja.
Hal ini membuat anak sekarang perlu bimbingan orang tua dengan ekstra misalnya orang tua perlu tahu bahwa anak usia di bawah 15 tahun belum bisa berpikir secara maksimal, ini perlu ditekankan pada anak yang notabene orang tua harus mengetahui bahwa si anak adalah harapan terbesar bangsa.
Menurut hemat penulis, semua ini adalah imbas dari perkembangan teknologi apalagi sekarang ditambah dengan pandemi Covid-19, maka anak-anak sekarang yang sudah belajar di rumah tidak boleh keluar tentu menjadi berkah tersendiri baginya untuk mencapai tujuan mereka yaitu sehebat mungkin dalam bermain game.
Sekarang guru-guru sekolah sudah banyak mengeluh terhadap anak-anak, apalagi di tempat penulis tidak semua jaringan yang terjangkau aplikasi mengajar via video, sekolah hanya diganti dengan tugas saja, maka anak-anak ini yang notabene sudah kecanduan game online maka tugas tersebut selalu diabaikan.
Tidak bisa juga kita menyalahkan teknologi karena semakin berkembangnya teknologi, apabila kita lawan arus perkembangan ini maka semakin tertinggal kita.
Untuk ke depannya orang tua perlu mengontorol anak-anak mereka agar tidak kecanduan game online. Karena hal tersebut lebih baik anak ini kembali ke settingan lama yaitu bermain permainan tradisional daripada game online yang notabene membuat anak-anak ini lupa terhadap permainan tradisional mereka.
Permainan tradisional ini sudah bisa dikatakan permainan budaya, karena di setiap daerah selalu ada ciri khas tersendiri bagi permainan ini, setiap daerah tentu memiliki permainan tersendiri dibandingkan permaiman di daerah lain.
Permainan tradisional hendaknya selalu digalakkan daripada tenggelam dan hanya tinggal cerita. Sekarang kita sebagai generasi muda penerus bangsa agar selalu senantiasa menjaga permainan tradisional ini hidup di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini sudah menjadi warning bagi siapapun, baik dia orang tua, pemuda, walikota, bupati, gubernur agar senantiasa selalu menggalakkan aktivitas permainan tradisional.
Menurut penulis permainan ini sudah menjadi budaya yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun di tengah masyarakat. Agar tidak punah tentu kita mengajak seluruh lapisan masyarakat siapapun itu galakkan kembali permainan tradisional karena hal ini berhubungan dengan budaya dan masa depan bangsa Indonesia ke depannya. *)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























