PADANG PARIAMAN, forumsumbar —Walaupun libur, di hari Sabtu atau Minggu, apalagi dalam bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid dan surau di Padang Pariaman selalu diramaikan dengan kegiatan ritual sepanjang malam dan siang dalam kegiatan ibadah zikrullah.
“Pada bulan Maulid ini, sulit bagi pak Wakil Bupati Suhatri Bur, SE MM Datuak Putiah untuk menolak hadir. Bahkan sampai larut malam masih berkunjung dari rumah ibadah ke rumah ibadah,” ujar Datuk Wen, ajudan merangkap Sespri Wakil Bupati Padang Pariaman.
Lebih lanjut disampaikan Datuk Wen disela-sela kunjungan Wakil Bupati Padang Pariaman di Masjid Raya Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris, hari Minggu (17/11), Wabup selalu disambut hangat pengurus dan jemaah. Bahkan, terkesan seperti datang ke masjidnya sendiri, karena dari percakapan antara wabup dengan jemaah bagai tak ada sekat.
Perbincangan tidak hanya sekitar Maulid, atau penyempurnaan bangunan masjid, juga tentang isu-isu strategis lain, menyangkut nagari sampai cerita tentang ada warga Kapalo Koto yang tersesat sampai ke Padang.
Menurut Datuk Wen, di setiap masjid dan surau yang dikunjungi Wakil Bupati setiap hari; dari 7 sampai 10 rumah ibadah dalam sehari semalam, selalu dihadiri pucuk pemerintahan nagari, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh wanita dan pemuda. Inilah momen yang sekaligus kesempatan untuk bersilaturahmi antara pimpinan daerah dengan masyarakat.
Menurut Mothia Aziz, anggota DPRD Padang Pariaman, di Padang Pariaman kegiatan Maulid Nabi yang “perayaan” secara ritual berlangsung sampai tiga-empat bulan.
Dalam perayaan yang berlangsung di masing-masing rumah ibadah, juga melibatkan perantau. “Perantau sengaja pulang kampung untuk menghadiri acara Maulid yang telah berlangsung turun temurun itu. Perantau rata-rata ikut badoncek untuk membantu penyempurnaan pembangunan masjid atau suraunya,” jelas Mouthia yang ditemui disela-sela kunjungan Wabup Suhatri di Masjid Raya Lubuk Pandan, Kecamatan Enam Lingkung.
Seperti hari Minggu kemarin lalu, terkumpul dana sumbangan dari perantau dan warga di kampung untuk Masjid Raya Lubuk Pandan lebih dari Rp 100 juta.
Bagi masyarakat Padang Pariaman, perayaan Maulid selain dalam rangka meningkatkan kualitas iman, juga dijadikan bulan beramal ibadah. Bila kita himpun dana yang terkumpul selama pelaksanaan kegiatan Maulid di masjid dan surau di Padang Pariaman sampai milyaran rupiah. “Masyarakat dalam posisi sebagai jemaah seperti berpacu menyumbang,” ungkap Wakil Bupati Suhatri Bur, dalam percakapan terpisah.
Bagi Suhatri, putra Sarang Gagak, mantan Ketua KPU Padang Pariaman dan mantan Ketua Baznas Padang Pariaman, kegiatan Maulid Nabi selama hampir tiga atau empat bulan, bersama dengan Bupati Ali Mukhni menjadi ajang memperkuat silaturahmi dengan masyarakat. “Kita jadi bersemangat dan optimis dalam menjalankan amanah; membangun Padang Pariaman secara fisik sekaligus mewujudkan masyarakat yang religius.
Maka, tak salah, suasana pertemuan pimpinan daerah dengan jemaah surau sekali setahun dalam acara Maulid menjadi sesuatu yang dirindukan. Dalam suasana yang membaur itu; jabatan Wakil Bupati Suhatri seperti lepas di tengah jemaah, panggilan pak Wabup berganti dengan sapaan akrab sang wabup: Aciak Suhatri. Tua muda memanggilnya Aciak!
Itulah refleksi lain dari perayaan ritual Maulid Nabi Muhammad SAW; menyatunya sang pemimpin dengan jemaah. Tak ada lagi sekat. Maka ketika tua muda di Padang Pariaman memanggilnya dengan sebutan Aciak, kita pun boleh menyapa lelaki rendah hati, berusia 49 tahun yang sudah empat tahun mendampingi Bupati Ali Mukhni ini, dengan Aciak Suhatri. (Rel)























