Kerasnya kehidupan di pantai Pangandaran Jawa Barat telah mengajarinya bagaimana menjalani hidup. Melawan kefakiran dengan tegar sambil menari meniti buih dan bercengkerama dengan ombak dan badai. Semua itu telah membawanya menjadi pribadi yang tangguh, otentik dan tanpa basa-basi.
Itulah Susi Pujiastuti, seorang pengusaha sukses di bidang perikanan (eksportir) dan penerbangan (Susi Air) yang kebetulan sejak tahun 2014 menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Karena bekerja sesuai dengan bidangnya, maka kebijakan yang dilakukan Susi memberi manfaat besar bagi negara, di antaranya memberantas mafia perikanan (laut), dan pencurian ikan oleh negara lain.
Susi yang lahir pada tahun 1965 itu menjadi matang secara otodidak. Alam terkembang dijadikannya guru. Mentornya adalah kehidupan itu sendiri. Sekolahnya “cuma” tamat SMP, kemudian baru-baru ini ambil Paket C. Dengan berbagai prestasi kerja yang selama ini ada, Susi mendapatkan penghargaan gelar doktor Honoris Causa (HC) dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.
Sebagai perempuan, ia tidak lupa kodratnya. Tapi, terkadang ia keluar dari pakem yang selama ini ada mengenai apa dan bagaimana seorang perempuan Timur bersikap. Ia cuek bebek, kadang maskulin, tampil natural tanpa bersandiwara, tapi pencapaian kehidupan / kerjanya di atas orang yang gelar akademisinya bejibun.
Kita pernah melihat orang seperti Susi, sebagai pengusaha sukses yang cuek, ya Bob Sadino. Pengusaha yang selalu memakai celana pendek, walau ke istana sekalipun. Benang merahnya dari cerita ini, “don’t judge the book from the cover”, jangan banyak cincong. Semoga ibu Susi selalu diberi kesehatan dan terus “tenggelamkan” orang-orang yang syirik dan banyak omong.
ISA KURNIAWAN
Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)























