PADANG, forumsumbar—Ketua DPD HNSI Sumbar Syaharman Zanhar, SSos, mengatakan, nelayan resah, terutama bagi nelayan pukat tepi, yang memukat dengan cara menarik jaring dari pinggir pantai, dimana dalam sehari itu nelayan ada yg tidak mendapatkan tangkapan ikan, sementara yang masuk ke dalam jaring itu justru sampah. Ikannya tidak ada. Itu kerap terjadi.
“Sampah yang paling dominan adalah sampah plastik, kaleng botol minuman, botol dan gelas minuman kemasan plastik. Sampah-sampah tersebut yang diproduksi oleh rumah tangga,” ujar Zanhar di Padang, Minggu (10/10).
Menurut Zanhar, keadaan sekarang bertambah parah, karena tidak ada kesadaran masyarakat memikirkan akibatnya. Air sungai kotor menyebakan laut juga kotor. Selain meresahkan nelayan juga memperburuk dan merusak lokasi objek wisata Pantai Padang.
“Pembinaan sangat kurang dari pemerintah kepada masyarakat yang berdomisili atau bermukim di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai). Pertanyaannya, apo dan manga sajo Dinas Lingkungan Hidup Hidup tu karajonyo?,” ujarnya
Selaku Ketua DPD HNSI Sumbar, pihaknya mengimbau Gubernur sumbar dan Walikota Padang segera mengantisipasi tumpukan sampah yang ada dalam laut akan merusak ekosistem laut.

Ikan akan menjauh dari sampah yang dihanyutkan ke laut. Bagi sampah yang mengapung akan didorong oleh ombak kembali ke pinggir pantai. Tapi ada sampah yg terbenam di dasar laut.
“Ini bisa menjadi serius. Pemprov Sumbar dan Pemko Padang tidak boleh abai,” ujarnya.
Ini sampah yang berasal dari daratan, dibuang masyarakat yang berdomisili di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke laut.
“Jumlahnya setiap hari belasan ton. Lokasi di sepanjang pantai, terutama yang dekat dengan muara sungai. Di Padang ada beberapa muara antara lain, Muara Batang Arau, Muara Banda Bakali di Purus, Muara Batang Kuranji di Air Tawar, Muara penjalinan, dan Muara Batang Anai,” ujarnya.
(Rel/Nov)























