Tatanan Baru, Norma Baru dan Normal Baru. #Covid19Indonesia

Oleh : Patrianef Darwis

// forumsumbar //

BELAJAR dari sejarah dimana epidemi dan pandemi-pandemi di dunia sebelum ini rata-rata berlangsung selama 2 tahun dengan kematian yang banyak dan berakhir sendiri karena sebagian besar masyarakat mendapatkan “herd immunity” alami akibat terpapar virus penyebabnya. Kemungkinan wabah Covid-19 ini juga akan begitu.

Sepanjang belum ditemukan obat dan vaksinnya maka virus ini akan menyebar terus, yang bisa dilakukan hanya memperlambat penyebarannya sehingga jumlah pasien yang terinfeksi akan dapat ditampung oleh fasilitas kesehatan. Diperkirakan vaksinnya baru akan didapatkan tahun depan dan baru dapat diproduksi massal dalam 2 tahun ke depan.

Obat yang diakui FDA, Remdesivir sampai sekarang dalam pengujian RCT di China oleh YenMing Wang yang dimuat di The Lancet pada tanggal 29 April 2020 memperlihatkan hasilnya tidak berbeda bermakna antara kontrol dan perlakuan pada kasus kasus berat. Sehingga sebetulnya hasilnya masih kontroversial, walaupun FDA sendiri sudah memberikan “approved” nya.

Selama 2 tahun ke depan, akan terbentuk tatanan baru dan aturan aturan baru yang terbentuk sendirinya dengan tujuan memperlambat penyebaran penyakit ini.

Penggunaan masker akan berlanjut terus baik pada masyarakat awam maupun pada petugas kesehatan. Penggunaan masker yang menutupi sebagian wajah, yang membuat wajah kurang begitu di kenali akan menjadi kebiasaan baru dan norma baru yang akan diterima dan ditoleransi oleh masyarakat. Mungkin saja penggunaan masker ditempat umum dan transportasi umum akan menjadi suatu keharusan ke depannya, bukan lagi suatu anjuran.

Social distancing dan physical distancing akan menjadi suatu aturan baru. Kotak-kotak penjual di pasar tradisional akan semakin berjarak. Antrian akan semakin memanjang. Pembatasan orang berbelanja di super market akan berlanjut terus. Semakin kecil super marketnya akan semakin ketat pembatasannya.

Pembatasan-pembatasan kegiatan berskala besar akan berlanjut terus. Kegiatan-kegiatan seperti simposium dan seminar yang mengumpulkan massa dalam jumlah besar akan susah diterima oleh masyarakat. Masyarakat khawatir bahwa menghadiri kegiatan seperti itu akan berisiko terpapar Covid-19.

Pernikahan dan pesta perkawinan mungkin akan menjadi acara keluarga dan dihadiri oleh hanya keluarga dekat dan akan menjadi acara yang bersifat privat. Mungkin saja nanti undangan kehadirannya dalam bentuk online dan jika ingin memberikan sesuatu kepada pengantin juga dalam bentuk online.

Gedung gedung besar seperti “Convention Center” selama dua tahun ini mungkin akan mati suri, dan mungkin saja ke depannya juga tidak akan berguna. Hotel-hotel yang mempunyai ruang pertemuan besar juga akan banyak menganggur.

Acara-acara seperti konser, acara olah raga mungkin akan menjadi acara berbayar dalam bentuk tiket online. Nonton bersama yang selama ini diadakan di tempat-tempat tertentu dalam skala kecil dengan sekitar 10 sampai 20 orang mungkin akan lebih diterima.

Menonton film di bioskop akan berubah menjadi menonton di rumah dengan keluarga-keluarga dekat. Penjualan elektronik untuk pembuatan “home theatre“ akan meningkat pesat.

Aturan aturan berlalu lintas yang selama ini mempersyaratkan kelengkapan SIM, STNK, kemungkinan akan di rubah dalam bentuk aturan baru seperti kelengkapan masker, “hand sanitizer” dan aturan duduk berjarak. Terutama pada angkutan umum. Aturan aturan yang sekarang berlaku semasa PSBB mungkin akan berlanjut terus.

Di bagian depan rumah yang selama ini tidak menyediakan tempat cuci tangan dan cuci kaki kemungkinan akan berubah. Akan semakin banyak yang menyediakan di beranda depan rumahnya tempat cuci tangan dan cuci kaki lengkap dengan sabunnya.

Bertamu ke rumah tetangga yang selama ini merupakan bagian dari kegiatan bersosialisasi mungkin akan dianggap sebagai kegiatan yang kurang sopan, tanpa pemberitahuan lebih dahulu kepada tuan rumah.

Kafetaria, pub, diskotik dan tempat tempat ngopi mungkin bukan dianggap lagi sebagai suatu kekinian dan trendi, ngopi bersama keluarga mungkin akan lebih disukai dan menjadi tren ke depannya.

Pariwisata dalam dua tahun ke depan belum akan berkembang, kekhawatiran orang akan menonjol. Bukan hanya khawatir terkena virus di perjalanan atau di negeri orang. Yang lebih mengkhawatirkan orang adalah jika sakit demam saat berada di negeri orang tidak akan bisa balik pulang ke negara asal, karena syarat transportasi akan semakin ketat bagi orang yang sakit atau terlihat sakit.

Di sisi kesehatan akan sangat banyak perubahan, pembiayaan kesehatan akan semakin besar, rumah sakit dan klinik akan membelanjakan biaya yang lebih besar untuk keselamatan dokter, tenaga kesehatan dan karyawannya. Ujung-ujung pembiayaan itu akan dibebankan kepada pembayar biaya kesehatan, baik asuransi, perusahaan, ataupun orang pribadi.

Pengangguran akan semakin banyak. Perubahan pola pekerjaan menjadi online akan mengurangi tenaga kerja yang diperlukan. Tidak usah jauh jauh. Perubahan pembayaran biaya tol dari tunai menjadi sistem elektronik, menyebabkan keperluan tenaga kerja berkurang di jalan tol. Gardu tol yang biasa diisi oleh beberapa orang menjadi hanya satu orang, apalagi jika semakin banyak pekerjaan online. Akan semakin banyak pengangguran yang akan meningkatkan masalah-masalah sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.

Itulah sebagian aturan-aturan baru yang mungkin akan menjadi suatu yang normal baru di tengah masyarakat.

Mudah mudahan wabah Covid-19 ini cepat berlalu dan kita bisa beraktivitas seperti biasa kembali. *)

Penulis adalah :
Dokter Spesialis-Subspesialis
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI)