Oleh : Ilhamsyah Mirman
//forumsumbar//
MENYAKSIKAN Valerina Daniel (jangan rancu dengan Chantal Della Concetta ) dari huniannya di Singapura menghantar Vicon Curah Pendapat dan Dialog Internasional bertema “Padusi Minang, Dulu, Sekarang dan Masa Yang Akan Datang”, seakan melihat sesuatu yang menakjubkan. Tidak pernah tampak pada berbagai kegiatan Minang, tampilan anggun presenter senior yang telah malang melintang di jagat pertelevisian Indonesia membawa angin segar bagi masyarakat Minang ditengah pandemi Covid-19 ini. Ditutup oleh padusi milenial global dari negeri Paman Sam, Alya Sarah Lawindo yang dengan cengkok ‘minanglish’ fasih berpepatah petitih di sore itu (pukul 02.00 subuh waktu Amerika), menyiratkan pesan Minang tidaklah di Tepi Jurang.
Sedangkan produser dan sineas Sri Intan Kieflie yang mewarisi keahlian keluarga berbisnis rumah makan Minang di Melboune bercerita sebagai penyaji aneka rendang. Paling tidak ada 6 (enam) warisan rendang sang nenek yang menjadi ciri khasnya. Aktivitas standar perantau Minang untuk mencari rezeki di perantauan. Yang membedakan, kalau alur ini dilakoni oleh perantau asal Kapau yang bermukim di Tanah Abang tentu bukan hal yang baru. Tetapi ini oleh diaspora yang lahir dan besar di Jakarta lalu merantau ke Australia. Sesuatu banget.
Tampilnya nama-nama besar yang sangat dikenal kiprahnya sebagai pelaku usaha atau profesional kelas dunia, seperti Nila Moeloek, Nurhayati Subakat, Dewi Fortuna Anwar, Elza Syarief, Shanti Poesposoetjipto menambah semarak webinar ini. Mereka tampil bersama deretan nama anyar lainnya. Bersanding dengan bundo kanduang dan padusi yang kiprah keminangannya tidak perlu dipertanyakan. Emma Yohana, Puti Reno Raudha Thaib, Elly Kasim adalah deretan yang tidak pernah absen di forum berminang ria. Elly Kasim bahkan sudah lebih setengah abad menjadi corong seniman Minang di pentas nasional.
Mencermati fenomena ini tentu tidak lepas dari aktor di belakang layar, yang secara normatif tertera Minang Diaspora Network – Global (MDN-G) bekerjasama dengan Universitas YARSI sebagai pelaksana. Meski secara formal tidak termasuk pengurus teras MDN-G, namun untuk gawe kelas berat ini tidak bisa dipungkiri peran strategis Fasli Jalal. Suntikan semangat tinggi, yang mampu memotivasi tim, dengan sentuhan profesionalisme namun dibungkus keikhlasan menggamit para pamuncak untuk berbicara tentang budaya leluhur. Mirip dengan proses me’minang’kan tokoh pendidikan Indra Jati Sidi di awal tahun 2000an. Siapa pula yang sanggup mengkombinasikan kemampuan itu menjadi satu suguhan ciamik dengan durasi mendalam. Untuk kesekian kalinya kepiawaian Fasli menelisik bibit unggul yang terserak dibelahan rantau meracik jadi suplemen unggul sungguh tak terbantahkan.
Tentu, bagi sebagian orang pembahasan topik padusi Minang ini sangat menarik dan bisa jadi ada nuansa merasa ditinggalkan kenapa bukan dia yang di ajak bicara. Menjadi narasumber di forum terhormat seperti ini bisa menjadi ajang unjuk gigi menampilkan kefasihan. Sekalipun ada menampilkan para pakar dan tokoh Minang sekelas Bu Upik atau Muthia Hatta, namun apapun alasannya tetap akan menimbulkan sarengeh dari para kritikus. Bukannya tidak mungkin akan muncul flyer webinar padusi minang marginal. Itulah nikmatnya menjadi orang Minang, bak candu, tau bakal ‘membahayakan’ namun karena keenakan ya dikerjakan juga. Fakta yang secara tersurat disampaikan pada forum itu oleh Astri Asgani. “Jangan berharap ucapan terima kasih atau pujian, bahkan kita berbuat baikpun belum tentu orang menerima dengan baik pula, namun kecintaan kepada kampung halaman dan keikhlasanlah landasan berbuat untuk ranah”, ucap penggiat sosial ini.
Dengan serangkaian webinar berkelas yang digelar, termasuk menghadirkan isteri Gubernur Mahyeldi di episode padusi Minang, tentu pertanyaan berikutnya yang menggelitik, mau diapakan paparan panjang pengalaman dan jejaring para pamuncak ini. Pelaku Usaha, Diplomat, Politisi, Pendidik dan aneka sektor yang digeluti orang Minang telah tersaji lengkap dan dapat diakses di media sosial. Namun sebagaimana yang kerap dikritisi, bahwa orang Minang lemah dalam tindak lanjut. Banyak organisasi dengan program yang muluk-muluk namun tidak bisa dijadikan modal untuk melompat maju, karena kurang konsisten. Tentu tidak ini yang diinginkan, semangat menggebu diawal lalu terseok saat implementasi. Rugi rasanya kalau cuma sampai diplatform media sosial saja ide besar yang dilontarkan para mutiara ini. MDN-G bisa mengajak pemangku kepentingan lainnya, termasuk jajaran pemerintah untuk duduk bersama merespon layar yang telah dikembangkan. Jangan lagi melakukan kesalahan berulang.
Kejadian dua dasawarsa lalu bukannya tidak mungkin bakal dialami oleh organisasi yang menghimpun para diaspora ini. Sentuhan ‘midas’ Fasli tertera pada berbagai organisasi besar dan berpengaruh pada eranya, sebut saja diantaranya Gebu Minang (GM) dan IKA Unand. Bagaimana menggairahkan organisasi sehingga mampu memberi nilai tambah kepada setiap komponen serta menjadikan GM mencapai torehan prestasi membanggakan. Namun pasca pergantian kepemimpinan, tampuk oleng karena kegamangan pengurus yang sudah nyaman dengan irama organisasi dan capaian yang digapai, selain pada batas tertentu perbandingan kapasitas pengganti tidak sedinamis sebelumnya. Karena memang mengelola organisasi sosial, terlebih beranggotakan urang awak, perlu ekstra kesabaran dan berlebih keikhlasan.
Angin buritan sedang berpihak. Diisi oleh orang muda dengan pengalaman lintas benua dan fasih membahas isu terkini dan berbagai fenomena mutakhir, tentu menjadi tantangan bagaimana mengaplikasikannya untuk didedikasikan ke kampung halaman. Sebagaimana dulu Bung Karno meminta pemuda untuk mengguncangkan dunia, maka rintisan Rektor YARSI bersama orang muda MDN G bisa menjadi contoh nyata bagaimana mereka ‘mengguncang’ ranah. Terbayang oleh kita ratusan atau mungkin seribuan lebih perantau dari berbagai sudut negeri dan mancanegara tumplek bleg ke jorong-jorong, menghuni rumah gadang, meramaikan kampung, menyuntikkan semangat dengan seabreg program kolaborasi, Sungguh indah.
Maka tidak ada salahnya tertumpang harapan besar menyambut berita gembira ‘Untuk Kedjajaan Minang’, yang kian mencuat menampakkan wujud. Jalan sudah diteroka, jalinan sudah dirajut, silahkan generasi pengganti untuk mengambil tempat. Tidak perlu merasa kurang enak atau sungkan dari posisi center back untuk siap-siap mengambil komando, agar Fasli’s style tidak menguap begitu saja. Di usia menjelang 68 tahun, tentu urusan teknis yang sudah diteroka tidak seluruhnya digantungkan ke bahu beliau. Tantangan yang harus direspon dengan langkah nyata Dino Patti Djalal, dkk.
Cukup sudah kebaikan, keseriusan, profesionalisme dan keikhlasan Sang Dokter Rantau batarak membangun semangat. Maka kinilah saatnya sang sekondan, Burmailis dan kawan-kawan tampil lebih piawai mengiring. Ayo MDN-G ingatkan Valeria Daniel, Intan Keflie dan Alya Lawindo untuk pulang kampung menikmati ranah Minang nan merindu, sambil leyeh leyeh di Pondok Nawawi. Bukan begitu Bu Shanti….
Penulis adalah Koordinator FMM (Forum Minang Mandiri) Founder RRC (Ranah Rantau Circle) Institute























