Oleh : Ilhamsyah Mirman
//forumsumbar//
POTENSI perantau Minang menjadi salah satu ‘legenda’ yang menarik dikaji dan dimaksimalkan peranannya. Dalam berbagai kesempatan sosiolog Muchtar Naim menyebutkan bagaimana perantau menjadi ujung tombak di wilayah ‘terbelakang’ dan terujung di penjuru Tanah Air.
Mulai dari pedalaman Riau, Jambi atau Bengkulu di provinsi tetangga. Pelosok kampung di selatan Jawa, di luasnya hamparan Kalimantan, sampai di ketinggian lima ribuan meter pegunungan tengah Papua. Tidak ada yang tidak diisi oleh perantau Minang.
Mereka membangun daerah tempatnya berpijak dengan keberanian dan keteguhan yang tak terkira. Di tenggara ibukota Jakarta, di Parungpanjang sebagai penyangga yang taraf ekonominya terseok-seok, terdapat kelompok masyarakat Minang yang bertahun-tahun eksis.
Dengan semangatnya yang tinggi meneroka di wilayah enclave, praktis saat ini menjadi salah satu penggerak sekaligus penyumbang sektor ekonomi skala kecil yang signifikan.
Bermodal kemandirian serta keyakinan akan rezeki atas usahanya, menjadikan umumnya para perantau Minang berhasil. Paling tidak dari kacamata pembangunan, dikategorikan sebagai penduduk yang bermata pencaharian wiraswasta.
Jumlah yang amat kecil dan sektor kurang menarik minat bagi sebagian warga tempatan, yang umumnya bercita-cita menjadi pegawai negeri. Di manapun berada, dengan semangat juang dan kemandirian tanpa tergantung pada siapapun, para perantau dengan semangat tinggi terus berkhidmat.
Memang dengan pandemi seperti saat ini mempengaruhi roda ekonomi, yang tentunya sedikit banyak menghambat usaha. Namun bukanlah suatu yang merisaukan, kondisi ini juga terjadi pada seluruh sektor dan lapisan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.
Seiring kian menurunnya tren serta ditemukannya solusi mengatasi wabah ini, diyakini bakal memulihkan kembali kehidupan. Pada kondisi demikian, tentu menarik jika sejenak mengerdip ke ranah.
Sumatera Barat dengan 19
(sembilan belas) daerah kabupaten / kota, relatif memiliki tingkat kehidupan ekonomi dan relasi budaya yang merata. Antar satu daerah dengan daerah lainnya praktis tidak ada perbedaan mencolok.
Namun tunggu dulu. Ternyata ada daerah yang tertinggal, yakni Mentawai. Satu hamparan jejeran nusa yang luasnya tidak bisa diabaikan, potensinya luar biasa. Ya, di jarak seratusan mil dari ibukota provinsi, terdapat gugusan pulau yang luas totalnya lebih enam ribu km2, terluas di antara kabupaten / kota se-Sumatera Barat.
Kontras dengan predikat terluas, pada realitanya daerah berpenghuni tidak sampai seratus ribu jiwa ini justru menempati posisi ‘buncit’ dalam segala hal. Dengan predikat 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal), Mentawai sepertinya sulit bergerak untuk maju. Keadaan yang sudah berbilang tahun terjadi, seakan seperti lingkaran setan yang tak terselesaikan.
Namun demikian, lepas dari
segala faktor negatif atau keterbatasan yang dimilikinya, ada yang masih bisa dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat agar Mentawai bisa di-upgrade. Salah satunya mendorong inisiatif masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan di Bumi Sikerei ini.
Dengan semangat volunteer dan bakat alami meneroka, menarik untuk menjadikan daerah ini sebagai tujuan merantau. Dengan motif ekonomi sebagai salah satu faktor utama, seharusnya tidak menampik rang awak merantau ‘dakek’.
Upaya dan hasilnya mungkin bisa dibandingkan dengan merantau ke Wamena, Papua, misalnya, daerah yang banyak dijadikan target rantau orang Pesisir. Mirip dengan daerah Mentawai, yang banyak di datangi oleh orang Pesisir Selatan, selain orang Pariaman.
Sejauh ini yang cukup dominan menggerakkan ekonomi Mentawai, selain orang Mentawai sendiri adalah saudara kita dari Tapanuli, Nias dan Jawa. Meski dari segi kuantitas cukup banyak orang Minang di Mentawai, namun peran pengungkitnya belum terlalu terlihat.
Keadaan menarik sekiranya bisa dihimbau kepada para perantau untuk ikut menengok sabaliak dapua. Di ufuk pantai kita ada yang menanti ide kreatif dan semangat membangun.
Kembali kepada tradisi merantau dengan segala filosofi yang mendasarinya, maka mendorong para pemuda dan masyarakat Sumatera Barat bahu membahu membangun daerah Mentawai ini bisa dijadikan sebagai gerakan bersama yang menyejahterakan.
Mentawai bukanlah daerah ‘buangan’. Potensi kelautan, perikanan, pariwisata dan pertanian, rasanya tidak kalah dengan keberhasilan yang didapat ketimbang merantau ke daerah lain.
Dengan infrastruktur yang masih terbatas namun memiliki sumber daya melimpah, tentu penting untuk dijadikan agenda bersama bagi pemerintah daerah dan masyarakat di Sumatera Barat.
Semangat berbagi demi kemajuan bersama bisa menjadi alas program. Dengan kekhasan budaya serta pola hidup yang berbeda dengan masyarakat Minang secara keseluruhan tidak menafikan friksi yang mungkin terjadi.
Filosofi merantau dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang sebagai pondasi kebersamaan bisa meminimalisir potensi gesekan di kalangan masyarakat.
Di kandang kambing mengembik, di kandang harimau mangaum. Sejauh ini menjadi adagium yang membuat relasi perantau Minang nyaman, saling menghargai dan tidak menimbulkan masalah di daerah tempatan. Tentu
diperlukan pula sikap terbuka menerima orang yang datang, tanpa memperlihatkan kecurigaan berlebih dari masyarakat.
Sikap inilah hendaknya yang menjadi pegangan bagaimana membangun Mentawai. Bagi pemerintah sendiri tentu diharapkan kesungguhannya mengangkat posisi Mentawai. Dengan sumber daya alam yang ada dan posisi prioritas daerah 3T seharusnya peluang besar memanfaatkan kebijakan pemerintah pusat ini untuk mendorong akselerasi pembangunan.
Sementara kesungguhan
pemerintah daerah Mentawai mempromosikan pembangunan tidak perlu diragukan lagi, termasuk dengan menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan mancanegara. Meski perlu diingatkan juga, dengan 1.400-an km garis pantai, prioritas pada sektor kelautan dan perikanan menjadi kata kunci.
Berikutnya, tentu jajaran pemerintahan provinsi yang diharapkan strategi dan sinergitas untuk bisa merajut seluruh potensi Sumatera Barat secara luas, membersamai upaya ini. Rasanya memungkinkan untuk mendorong perantau by design melintasi laut menuju barat. Termasuk tentunya memberi stimulus kepada masyarakat agar sumber daya manusia yang unggul mau berkarya dan nyaman berbuat untuk
kesejahteraan sanak sakampuang.
Dengan jalinan kerjasama dan pembagian peran ciamik ini diharapkan keterasingan dan ketertinggalan Mentawai menjadi cerita masa lalu yang tidak layak dikenang. Senyum wisatawan yang bertemu wajah ceria nelayan memanggul tuna hasil tangkapan, mirip benar dengan semangat membuncah ASN yang ditugaskan di sana.
Berebut orang untuk berkunjung. Setiap mendengar kata Mentawai maka yang teringat adalah permata biru tempat berselancar, mengabdi dan mencari rezeki serta menikmati samudera dengan kebahagiaan tak terkira. Semoga. *)
Penulis adalah Koordinator Forum Minang Mandiri (FMM) dan Pemerhati Dinamika Ranah-Rantau






















