PADANG, forumsumbar —Dalam sebuah tulisannya, Masduki Duryat, Dewan Pakar Pergunu Kabupaten Indramayu, dan dosen pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, mengutip sambutan mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Irman Gusman dalam menyikapi perayaan Kemerdekaan RI. Tulisan itu berjudul, Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita (Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-74) yang dimuat di laman ltnnujabar.or.id, Jumat (16/8).
Irman Gusman menyampaikan, saat itu, bahwa kita perlu mengingat kembali apa yang pernah dikatakan salah satu Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Indonesia, Bung Hatta: “Indonesia merdeka bukanlah tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk mencapai kebahagian dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita”.
Perkataan Bung Hatta yang dikutip Irman Gusman dalam sambutannya itu mendapat perhatian serius dari Masduki Duryat. Timbul tanyanya, “Apa sih yang telah dicapai Indonesia dalam usianya yang ke-74 ini? Apakah kebahagian dan kemakmuran rakyat itu sudah tercapai?”
Kegelisahan Masduki, mungkin sama dengan kegelisahan Irman Gusman saat mengutip perkataan Bung Hatta itu. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika mencerna substansi perayaan Kemerdekaan RI, dan melihat kondisi kekinian setelah berpuluh tahun merdeka.
Menurut Masduki, saat ini, perayaan kemerdekaan hanya dirasakan dalam konteks individual. Konsepsi kemerdekaan disederhanakan hanya sekedar ekspresionisme, sehingga lebih mementingkan individual.
Di saat elite merdeka dengan privelesenya, sebut Masduki, sementara itu pula pada saat yang sama banyak warga masyarakat yang belum merasakan kemerdekaan. “Banyak rakyat masih menderita dalam kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial menganga dimana-mana,” ungkapnya.
Harus diakui pula, memang banyak kemajuan telah dicapai Indonesia, salah satunya di bidang ekonomi. Namun “kue” ekonomi yang kian membesar itu belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata. “Inilah tantangan kita dan tugas para pemimpin yang diamanahi rakyat untuk mengawal negeri ini,” sebutnya.
Masduki kemudian memberikan saran agar dalam mengisi kemerdekaan ini, penegasian atas kelompok yang berbeda dan penguatan distingsi antara “kami” versus “mereka”, bagi semua anak bangsa dari beragam suku dan latar belakang sejarah, selama dalam bingkai Republik ini, harus diperkenalkan dalam paradigma “kita”, untuk dibantu, disejahterakan, dan diadilkan untuk menikmati “kue” pembangunan di 74 tahun Indonesia merdeka. (Isa)
















