PADANG, forumsumbar —Kegundahan hati maestro tari, koreografer internasional dari Ranah Minang, Ery Mefri terhadap masalah seni budaya di negeri ini kembali ditumpahkannya. Melalui tulisan singkat di laman fesbuknya, Kamis (14/5), seniman Ery secara lugas mengekspresikan kegelisahan hatinya.
Gulana hati Ery ditujukan kepada “anak” sekaligus “saudara”, seseorang yang bernama Jimmi Jangkrik, seniman tamatan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang tinggal di Kota Pekanbaru Riau, yang merupakan komposer di Kelompok Musik Anak Muara dan Art Director di Nuansa Citra Melayu.
“Jangan menangis anakku karena sudah terlalu banyak air mata yang tumpah secara sia-sia,” ujar Ery mengawali.
Lebih lanjut disampaikan Ery bahwa masalah seni budaya di Negeri ini memang sudah sangat darurat serta memprihatinkan. “Dan itu sudah terjadi sejak lama karena kita barangkali menganggap ini tidak penting hingga kita sering diam dan tanpa sadar melakukan pembiaran terhadap dirusaknya DNA bangsa ini secara turun temurun,” ucap Ery.
Pada kenyataannya, sebut Ery, kalau kita mau sedikit membaca.
Pohon-pohon budaya selama ini memang tidak boleh terlalu tinggi dari semak belukar yang ada di lingkaran wilayah keluarga dan kerabat Sang Dewa. Di luar itu tak boleh ada yang peduli kalau perlu harus ditutupi.
Kalau kita mau sedikit bermurah hati untuk mengakui bahwa di samping guru keahlian seniman-seniman tradisi kitalah, ucapnya, yang menjadi akar kenapa kita sampai ke tahap ini dan kalau mau jujur maka karena keberadaan mereka di daerahlah maka sebagian kita bisa punya kedudukan.
“Rasanya sudah perlu untuk mulai berkaca agar punya rasa malu di negeri ini,” tegas pimpinan kelompok tari ternama Nan Jombang Dance Company ini.
Membalas Ery, Jimmi Jangkrik pernah menyampaikan bahwa yang merusak sistem pasti adalah orang yang paham dengan sistem itu. Bukan malah tak paham, yang ucuk-ucuk datang lalu merusak. Perusak, pasti datang dari dalam.
“Tak tau porsi, tak tau sekat, tak tau batas. Semua main libas, asal kantong keluarga dan komunitasnya penuh. Celakanya, banyak seniman yang saat ini sudah duduk di birokrasi, tapi … Ya gitu deh,” pungkas Jimmi.
(Ika).






















