PADANG, forumsumbar —Seniman besar Ranah Minang, koreografer internasional Ery Mefri mengungkapkan kegelisahannya terhadap kebijakan berkesenian di Sumbar.
“Buah dari segala pencitraan berakibat entah kapan kita punya tokoh untuk lahirnya karya besar yang menandai negeri ini memang ada,” tulis Ery Mefri di laman fesbuknya, Senin (20/4).
Kalimat itu ditulisnya di akhir tulisan dengan memakai huruf besar semua. Sepertinya penekanan itu menandakan betapa “remuk” hati seniman besar ini pada keadaan berkesenian di Sumbar.
Di samping “remuk”-nya hati seniman besar ini, di tulisan dengan judul “Buah dari Segala Pencitraan” (Sujud Bumi) itu tidak dapat disembunyikan bahwa Ery juga sedang “meradang”. Ia mengkritisi pihak-pihak yang tidak mampu mengurus kesenian. Tapi sebagai seniman, ambilnya tetap sayatnya tipis-tipis.
Tidak berpedoman terlalu jauh ke belakang, katanya, cukup kita mulai dari kebijakan fasilitasi fisik untuk pekerja seni yang begitu mahal dan terkesan penuh perhatian.
Kesalahan itu, lanjutnya, bisa jadi sebuah kesengajaan untuk dibuat jadi keliru dalam memberi pupuk yang berakibat setiap buah pada pohon itu jadi membusuk tanpa dikonsumsi apalagi berharap kualitas yang mungkin perlu buat vitamin bangsa ini.
“Percuma diberi studio yang mewah dengan gedung pertunjukan yang serba lengkap kalau yang lahir hanyalah produksi karya asal jadi atau bisa saja tidak lagi berkarya sama sekali, karena imaji mereka selalu terhambat ketika produksi perlu biaya,” ujar pimpinan Nan Jombang Dance Company ini.
Kebutuhan karya, sebutnya, terpaksa dialihkan atau tidak dihadirkan karena kendala dana yang tidak ada dan jelas tidak bisa ditutupi oleh kelengkapan studio yang disediakan.
Karya besar tidak lahir dari tempat mewah dan hasil Diskriminasi serta Pelemahan terhadap potensi di sekelingnya. “Seniman perlu biaya untuk berkarya, sedangkan fasilitas akan muncul ketika seniman melahirkan karya yang mampu jadi tuntunan sekaligus berkontribusi estetika,” tutur Ery yang telah melanglang buana ke beberapa negara untuk pementasan karyanya.
Berlanjut pada sertifikasi untuk seniman dan sekarang pengumpulan data untuk bantuan bencana dampak corona. Ery Mefri mempertanyakan, kenapa masyarakat seni selalu dikondisikan terus menerus berstatus bawahan guna memenuhi syarat sebagai orang yang pantas menerima belas kasihan serta dididik jadi pengemis dari pada sedikit mau bermurah hati menjadikan mereka partner tanpa merasa malu mengaku kalau selama ini memang belum terlalu peduli dan tidak mengikuti langkah seni mereka hingga tak pernah terbaca kualitas dan kecerdasan rakyat sendiri.
“Mestinya bukan bertanya dan minta data apa yang telah dan sedang mereka kerjakan, tapi melihat apa yang sedang dan yang akan mereka lakukan,” ujarnya.
Sebagai orang yang diamanahkan mengurus Kebudayaan, tegas Ery, berhentilah berlagak Budayawan atau sebagai orang yang mengurus pelaku kesenian berhentilah menganggap diri seniman pula apalagi sampai-sampai menanamkan sikap takut kalah pamor serta merasa tersaingi.
“Apakah pengambil keputusan sebagai petugas negara tidak mampu atau malas melakukan monitor yang tidak begitu sulit?” tanya Ery.
Disebutkannya, seniman adalah publik figur yang gampang dikenali serta mudah terlihat dan terbaca sepak terjangnya karena pada dasarnya merekapun juga tidaklah seberapa kalau dibandingkan dengan orang-orang yang diamanahkan untuk mengurusmya di negeri ini. Rasanya database ada dan sangat nyata kalau mau membantu.
Kemudian tanya Ery lagi, kalau tidak lalu apa saja yang Anda kerjakan atau ada maksud terselubung dari kebijakan ini?
“Seperti keseragaman berpura-pura di atas keragaman yang dimiliki bangsa ini atau sedang menyebarkan wabah pembunuh potensi agar sebangsa Rumput Hilalang dapat menonjol di tengah hamparan hutan yang sengaja dibakar?” pungkas pria 61 tahun ini.
(Ika)























