• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Jumat, Januari 30, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Ketika Pemda Tak Berfungsi Akibat Bencana, Prof Djohermansyah: IPDN Kirim 1.134 Praja Ikut Membantu Memutar Roda Pemerintahan

4 Januari 2026
in Berita
Reading Time: 3min read
Views: 330
Prof Djohermansyah Djohan, pakar otonomi daerah Indonesia, mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, dan Guru Besar IPDN. (Foto : Dok)

JAKARTA, forumsumbar —Bencana banjir besar tidak hanya merobohkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan pemda yang merupakan ujung tombak negara dalam melayani rakyat.

Ketika kantor-kantor pemerintah tertimbun lumpur, administrasi terhenti, dan pelayanan publik terputus, keberadaan pemda memasuki titik ujian paling nyata—apakah ia mampu bangkit dari belitan krisis, atau berlarut-larut absen mengurus masyarakat.

Keputusan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengirim 1.134 Praja dan ASN Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke wilayah terdampak bencana di Aceh—khususnya Aceh Tamiang dan Aceh Utara—bukan sekadar kebijakan teknis. Ia adalah indikator adanya problem struktural dalam desain ketahanan pemerintahan daerah.

Lihat Juga

Taslim: Ada Semangat Baru dengan Kepengurusan DPP IKA Unand Periode 2025-2029

Taslim: Ada Semangat Baru dengan Kepengurusan DPP IKA Unand Periode 2025-2029

30 Januari 2026
38
Tinjau Pasar Serikat C Batusangkar, Menteri PU Dody: Segera Dibangun dengan Dana Pusat

Tinjau Pasar Serikat C Batusangkar, Menteri PU Dody: Segera Dibangun dengan Dana Pusat

29 Januari 2026
63
Baznas Agam Salurkan Dana Zakat Sebanyak Rp95,5 Jt untuk Bantu 57 Mustahik

Baznas Agam Salurkan Dana Zakat Sebanyak Rp95,5 Jt untuk Bantu 57 Mustahik

29 Januari 2026
14

Hal ini ditegaskan oleh Prof Djohermansyah Djohan, pakar otonomi daerah Indonesia, mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, dan Guru Besar IPDN, kepada wartawan, Minggu (4/1/2026).

Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari menghidupkan kembali fungsi pemerintahan lokal sebagai garda terdepan negara.

Ketika Pemda Kehilangan Daya Tahan

Dalam praktiknya, bencana menunjukkan fakta pahit: banyak pemda tidak memiliki kapasitas cadangan (institutional resilience) untuk tetap bekerja dalam kondisi darurat.

Kantor pemerintahan yang tertimbun lumpur hingga satu meter bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bukti rapuhnya sistem manajemen krisis di tingkat lokal.

“Kalau kantor pemerintahan tidak bisa difungsikan, maka pelayanan publik akan terhenti. Padahal, dalam kondisi bencana, negara justru harus hadir paling kuat,” tegas Prof Djohermansyah.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik tidak langsung terhadap praktik penyelenggaraan otonomi daerah (Otda) yang selama ini lebih menekankan desentralisasi kewenangan, tetapi kurang serius membangun ketahanan kelembagaan pemda.

Otonomi sering dipahami sebagai kebebasan mengelola anggaran dan membuat kebijakan, bukan sebagai tanggung jawab untuk tetap bekerja dalam kondisi ekstrem.

Negara Hadir, Tapi Mengapa Harus Selalu Pusat?

Penugasan praja IPDN memperlihatkan satu ironi kebijakan: ketika daerah lumpuh, negara wajib hadir secara sentralistik.

Pemerintah pusat turun tangan langsung untuk memastikan roda pemerintahan daerah kembali berputar—mulai dari pembersihan kantor, aktivasi administrasi, hingga pendataan kependudukan.
Secara normatif, langkah ini wajar dan diperlukan.

Namun secara konseptual, ia menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa otonomi daerah belum mampu membangun sendiri mekanisme pencegahan dan pemulihan dari bencana secara mandiri?

Prof Djohermansyah melihat kebijakan ini sebagai langkah darurat yang tepat, tetapi sekaligus sinyal bahwa desain otonomi daerah perlu dievaluasi. Negara tidak bisa terus-menerus bertindak sebagai “pemadam kebakaran” setiap kali daerah mengalami krisis.

Praja IPDN: Solusi Darurat atas Kelemahan Sistemik

Praja IPDN yang dikirim merupakan praja tingkat akhir, didampingi pengasuh, dan mereka memiliki bekal ilmu pemerintahan, administrasi publik, serta ketahanan fisik dan mental melalui sistem pendidikan semi-militer.

Mereka ditugaskan tidak hanya membersihkan lumpur, tetapi menghidupkan kembali fungsi negara di tingkat lokal.

“Mereka belajar administrasi kependudukan, keuangan daerah, dan pelayanan publik. Dalam kondisi ini, mereka bisa bekerja cepat dan tepat,” jelas Prof Djohermansyah.

Namun di balik efektivitas itu, terdapat kritik implisit: mengapa fungsi-fungsi dasar pemerintahan harus diselamatkan oleh praja yang masih berstatus mahasiswa?

Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada IPDN, melainkan kepada sistem birokrasi daerah yang gagal menyiapkan skema respons krisis yang berkelanjutan.

Administrasi Kependudukan: Akar Masalah Kebijakan Pascabencana

Salah satu tugas krusial praja IPDN adalah mendukung pendataan administrasi kependudukan.

Tanpa data yang valid, kebijakan pembangunan hunian sementara (Huntara), hunian tetap (Huntap), dan penyaluran bantuan berpotensi salah sasaran.

Dalam perspektif kebijakan publik, kegagalan Dukcapil daerah berfungsi optimal saat bencana adalah kegagalan negara dalam menyiapkan sistem data yang tangguh. Padahal, data adalah fondasi keadilan sosial dalam distribusi bantuan.

“Data yang mereka kumpulkan akan menjadi dasar kebijakan lanjutan pemerintah pusat,” ujar Prof Djohermansyah.

Pernyataan ini menegaskan bahwa bencana bukan hanya soal lingkungan hidup, tetapi juga soal kapasitas tata kelola negara.

Kepemimpinan Krisis dan Masa Depan Birokrasi

Bagi Prof Djohermansyah, penugasan ini juga merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk birokrat yang memahami realitas sosial. Praja IPDN belajar kepemimpinan dalam krisis (leadership in crisis)—sebuah kompetensi yang jarang diuji dalam birokrasi yang terlalu nyaman dengan rutinitas.

Namun pelajaran bagi negara jauh lebih besar: reformasi otonomi daerah tidak cukup dengan bagi-bagi wewenang, tetapi harus menyentuh desain ketahanan pemerintahan.

Tanpa itu, setiap bencana akan selalu memaksa pusat turun tangan, dan otonomi daerah hanya menjadi jargon administratif belaka.

Merombak Otonomi Daerah dari Pengalaman Krisis

Kasus Aceh adalah cermin. Ia memperlihatkan bahwa otonomi daerah Indonesia masih rapuh ketika berhadapan dengan krisis. Kehadiran praja IPDN memang membantu, bahkan menyelamatkan fungsi pemerintahan. Tetapi solusi jangka panjangnya bukan sekadar mengirim praja, melainkan mendesain ulang sistem otonomi daerah kita agar tahan terhadap guncangan.

Seperti ditegaskan Prof Djohermansyah, pemerintahan yang matang bukan yang bebas dari bencana, melainkan yang tetap bekerja ketika bencana datang.

Jika pelajaran ini diabaikan, maka setiap krisis akan terus menjadi panggung kegagalan struktural otonomi daerah—dan negara akan selalu datang terlambat.

(R/Wiztian Yoetri)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Walikota Padang Fadly Amran Minta 169 Pejabat yang Baru Dilantik untuk Langsung Berlari

Next Post

Puisi Era Nurza: “Doa di Januari”

BeritaTerkait

Taslim: Ada Semangat Baru dengan Kepengurusan DPP IKA Unand Periode 2025-2029
Berita

Taslim: Ada Semangat Baru dengan Kepengurusan DPP IKA Unand Periode 2025-2029

30 Januari 2026
38
Tinjau Pasar Serikat C Batusangkar, Menteri PU Dody: Segera Dibangun dengan Dana Pusat
Berita

Tinjau Pasar Serikat C Batusangkar, Menteri PU Dody: Segera Dibangun dengan Dana Pusat

29 Januari 2026
63
Baznas Agam Salurkan Dana Zakat Sebanyak Rp95,5 Jt untuk Bantu 57 Mustahik
Berita

Baznas Agam Salurkan Dana Zakat Sebanyak Rp95,5 Jt untuk Bantu 57 Mustahik

29 Januari 2026
14
Bangkitkan Layanan Kesehatan Padang Pariaman, Bupati JKA Usulkan 137,3 Miliar ke Komisi IX DPR RI
Berita

Bangkitkan Layanan Kesehatan Padang Pariaman, Bupati JKA Usulkan 137,3 Miliar ke Komisi IX DPR RI

29 Januari 2026
37
Doktor Yurniwati Siap Memandu Acara Curah Gagasan IKA Unand; Bahas Soal Pemulihan Ekonomi Sumbar Pascabencana
Berita

Doktor Yurniwati Siap Memandu Acara Curah Gagasan IKA Unand; Bahas Soal Pemulihan Ekonomi Sumbar Pascabencana

29 Januari 2026
63
Volunteer Mahardika Mengajar Batch 6 Hidupkan Kembali Aktivitas Masyarakat di Jorong Rantau Limau Kapeh
Berita

Volunteer Mahardika Mengajar Batch 6 Hidupkan Kembali Aktivitas Masyarakat di Jorong Rantau Limau Kapeh

28 Januari 2026
20
Next Post
Puisi Era Nurza: “Doa di Januari”

Puisi Era Nurza: "Doa di Januari"

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (35,968)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,061)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,237)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,204)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (29,207)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (28,643)
  • Tabuik, ‘Perang Karbala’ di Jantung Kota Pariaman (23,557)
  • Sijunjung Jebol, Seluruh Sumbar Zona Merah Covid-19 (22,377)
  • Blaster, Klub Motor Legendaris Kota Padang (22,369)
  • Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa Termasuk 5 Komjen Calon Kapolri yang Diajukan Kompolnas ke Presiden (22,115)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
135
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
308
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
467
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
211
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
107
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
135
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
118
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
178
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
117

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In