
PADANG, forumsumbar —Pantai yang biasanya menjadi ruang napas bagi warga Air Tawar kini tampil dalam wajah yang berbeda. Hamparan pasir lembut yang sehari-hari diakrabi para pengunjung mendadak lenyap tertutup gelondongan kayu berbagai ukuran.
Dari Pantai Parkit Air Tawar hingga Pantai Muara Panjalinan, garis pesisir berubah menjadi lautan kayu. Sebuah pemandangan yang dramatis, sekaligus memantik keprihatinan mendalam pasca banjir bandang yang melanda wilayah hulu beberapa hari terakhir.
Gelombang banjir yang membawa lumpur dan material dari perbukitan tidak hanya menyapu permukiman serta lahan pertanian, tetapi juga menggiring kayu-kayu besar dari dalam rimba.
Kini, seluruh bibir pantai dipenuhi potongan batang dan dahan kayu dalam jumlah masif. Banyak yang berukuran kecil, tetapi tidak sedikit pula yang mengejutkan: kayu-kayu raksasa sebesar pangkuan orang dewasa terdampar begitu saja, seolah dihempaskan oleh kekuatan alam yang tak terukur.
Warga yang datang meninjau kondisi pantai tampak tertegun. Beberapa mengabadikan pemandangan langka itu dengan kamera ponsel, sementara yang lain hanya berdiri memandang tanpa kata, seakan belum sepenuhnya memahami betapa besar tenaga yang telah membawa semua material itu sampai ke laut dan kembali lagi ke pantai.
“Biasanya pantai di sini bersih. Tapi sekarang seperti hutan tumbang yang dipindah ke tepi laut,” ujar seorang warga, yang sejak pagi membantu membersihkan sebagian area.
Ia mengaku belum pernah melihat kondisi pesisir seterpenuhi ini. “Kayu-kayunya besar-besar. Ada yang panjangnya empat sampai lima meter, bahkan ada yang setebal badan orang dewasa,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Mencermati hal ini, pemerintah harus bergerak cepat melakukan pendataan dan memulai langkah awal pembersihan. Namun, tantangannya tidak kecil. Volume material kayu yang menumpuk sangat besar, memanjang hampir sepanjang pesisir dan beberapa bagian menimbun jalur akses warga.

Alat berat direncanakan dikerahkan, namun kondisi pantai yang masih labil membuat pengerjaan harus dilakukan hati-hati untuk menghindari kerusakan tambahan.
Tim relawan dan komunitas pecinta lingkungan juga mulai berdatangan. Bagi mereka, tumpukan kayu ini bukan sekadar sampah alam; ia adalah sinyal kuat tentang betapa rentannya ekosistem hulu dan hilir ketika bentang alam terganggu oleh cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan.
“Banjir bandang adalah puncak dari banyak masalah. Kalau kayu sebanyak ini sampai ke pantai, itu artinya ada yang rusak jauh di atas sana,” kata salah satu relawan yang terlibat dalam pemetaan dampak.
Selain mengganggu aktivitas wisata dan ekonomi pesisir, kondisi ini juga dikhawatirkan dapat mempengaruhi biota laut dan pola arus. Tumpukan kayu yang terbawa pasang-surut bisa menjadi ancaman bagi nelayan dan kapal kecil yang melintas di sekitar perairan.
Meski demikian, warga tetap menunjukkan semangat gotong royong. Mereka sadar bahwa pemulihan pantai tidak bisa menunggu. Dalam beberapa hari ke depan, proses pembersihan akan terus dilakukan secara bertahap, sambil menunggu surutnya air dan stabilnya cuaca.
Pantai Parkit Air Tawar hingga Muara Panjalinan kini menyimpan cerita tentang kekuatan alam yang mengubah lanskap dalam sekejap. Dari lautan kayu yang memenuhi garis pantai, masyarakat kembali diingatkan bahwa peristiwa alam bukan hanya soal bencana, tetapi juga panggilan untuk lebih menjaga hulu, dataran, dan setiap jengkal ruang hidup yang saling terhubung.
(Edrawati)























