• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, Agustus 25, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Pakar Otda Prof Djohermansyah: Negara Ini Perlu Turun Mesin, Perbaiki Total Sistem Pemilihan dan Pengawasan

13 November 2025
in Berita
Reading Time: 3min read
Views: 478
    Prof Dr Djohermansyah Djohan, MA, Guru Besar IPDN, yang juga pakar otonomi daerah (Otda). (Foto : Dok)

JAKARTA, forumsumbar–— Ketika pejabat publik tersandung kasus korupsi, publik sering menyalahkan individu. Padahal, di balik perilaku buruk seorang pejabat, berdiri sistem yang cacat sejak awal — mulai dari proses pemilihan hingga lemahnya pengawasan.

Pakar pemerintahan dan otonomi daerah (Otda), Prof Dr Djohermansyah Djohan, MA, yang merupakan Guru Besar IPDN, menyebut realitas itu sebagai “garbage in, garbage out” — bila sistem menerima sampah, maka hasil yang keluar pun tetap sampah.

Garbage In, Garbage Out: Sistem Pemilu yang Mahal, Hasilnya Murahan

Lihat Juga

Bukan Sekadar Event Lari, Bela Negara Fun Run 2026 Lintasi Jejak Sejarah PDRI 1948

Bukan Sekadar Event Lari, Bela Negara Fun Run 2026 Lintasi Jejak Sejarah PDRI 1948

25 Agustus 2026
6
Padang Pariaman Mauluik Gadang Dimulai, Lantunan Kasidah Menggema di IKK

Padang Pariaman Mauluik Gadang Dimulai, Lantunan Kasidah Menggema di IKK

24 Agustus 2026
77
Zara Dynamite Milik Edi Lamun Ombak Juara Indonesia Horse Racing Merdeka Cup 2026

Zara Dynamite Milik Edi Lamun Ombak Juara Indonesia Horse Racing Merdeka Cup 2026

24 Agustus 2026
99

Prof Djohermansyah menegaskan bahwa akar persoalan kepemimpinan daerah di Indonesia bukan terletak pada kurangnya orang berintegritas, melainkan pada sistem pemilihan kepala daerah yang “mahal dan tidak sehat”.

“Kalau sistemnya buruk, orang baik pun bisa ikut rusak. Ini yang disebut garbage in, garbage out. Sistem pilkada kita masih berbiaya tinggi, dan yang bisa menang biasanya orang yang punya uang, bukan yang punya moral,” ujar Prof Djohermansyah, di Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, perilaku pemilih turut memperparah keadaan. Banyak masyarakat masih melihat pemilu sebagai transaksi ekonomi, bukan tanggung jawab moral.

“Pemilih kita banyak yang masih lemah secara ekonomi dan pendidikan. Kalau tidak dikasih uang, mereka memilih untuk tidak datang ke TPS. Rata-rata pendidikan nasional kita baru setara kelas dua SMP. Jadi, kesadaran politik masih rendah,” jelasnya.

Akibatnya, yang lahir bukan pemimpin berintegritas, melainkan pejabat yang sejak awal sudah berpikir untuk “mengembalikan modal”.

“Begitu menang, mereka sibuk jual-beli jabatan, main proyek, pengadaan barang, perizinan — semua demi balik modal. Inilah lingkaran setan yang belum bisa diputus,” tambahnya.

Pengawasan yang Mandul: Jeruk Makan Jeruk

Selain sistem pemilihan yang mahal, Prof Djohermansyah juga menyoroti lemahnya fungsi pengawasan di pemerintahan daerah — baik internal maupun eksternal.

Ia menyebut pengawasan internal seperti inspektorat daerah sering kali tidak efektif karena tumpang tindih kepentingan.

“Bagaimana mungkin inspektorat bisa mengawasi kepala daerah, kalau ia di bawah kendali kepala daerah juga? Itu seperti jeruk makan jeruk,” katanya.

Sementara itu, lembaga pengawas eksternal seperti BPK dan BPKP pun tak lepas dari persoalan integritas dan keterbatasan kewenangan.

“BPK itu seharusnya tajam, tapi dalam praktiknya sering tumpul ke atas, tajam ke bawah. Audit bisa diatur. Jadi, baik pengawasan internal maupun eksternal sama-sama kurang bergigi,” ujarnya kritis.

Kondisi ini, lanjutnya, membuat Operasi Tangkap Tangan (OTT) terus berulang dengan modus yang sama — dari jual beli jabatan hingga pengadaan barang.

“Saya cemas. Ini hanya soal waktu. Yakin saya, sebentar lagi ada lagi kepala daerah kena OTT. Data saya, sudah ada 462 kepala daerah terjerat kasus hukum,” ungkapnya.

Pemilu Mahal, Pejabat Murahan

Prof Djohermansyah mengungkapkan bahwa rekrutmen politik yang berbiaya tinggi tidak hanya terjadi di tingkat kepala daerah, tetapi juga di legislatif.

“Mau jadi calon legislatif sekarang butuh miliaran rupiah. Jadi DPRD, DPR, semua butuh ongkos politik yang mahal. Akibatnya, begitu duduk, mereka berpikir mengembalikan modal, bukan memperjuangkan rakyat,” tegasnya.

Ia menilai, akar masalah ini hanya bisa diputus dengan reformasi total sistem politik dan pemerintahan, bukan sekadar menambal undang-undang.

“Negara ini perlu turun mesin. Reformasi bukan slogan, tapi kerja nyata memperbaiki sistem pemilihan dan pengawasan,” katanya.

Solusi Asimetris: Tak Semua Daerah Siap Pilkada Langsung

Menanggapi usulan perbaikan sistem, Prof Djohermansyah mengajukan solusi yang realistis: tidak semua daerah harus menjalani pilkada langsung.

“Daerah seperti Jakarta, dengan pendidikan dan ekonomi yang lebih baik, bisa tetap pilkada langsung. Tapi untuk daerah-daerah yang PAD-nya kecil dan tingkat pendidikan rendah, lebih baik pemilihannya lewat DPRD saja,” usulnya.

Ia menyebut sistem asimetris ini dapat menghemat biaya politik sekaligus mengurangi risiko korupsi.

“Kalau PAD cuma tiga persen dari APBD, bagaimana bisa mereka biayai pilkada langsung tanpa korupsi? Jadi jangan seragam, kita harus cerdas dalam desain sistem politik daerah,” tambahnya.

Reformasi Pilkada Mendesak

Prof Djohermansyah mendesak agar pemerintah dan DPR segera merevisi Undang-Undang Pilkada Nomor 10 Tahun 2016 dan UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017, sebelum pelaksanaan pemilu berikutnya.

“Jangan tunggu sampai 2029 atau 2031 dengan sistem yang sama. Harus diperbaiki dari sekarang, agar rekrutmen kepala daerah dan legislatif ke depan lebih bermoral dan berkualitas,” ujarnya.

Baginya, inti persoalan bukan hanya pada siapa yang terpilih, tetapi bagaimana sistem melahirkan mereka dengan benar.

“Kalau mesin politik kita tetap memproduksi dari bahan baku kotor, jangan berharap hasilnya bersih,” tegasnya menutup wawancara.

Refleksi: Ketika Politik Kehilangan Moral

Dari yang disampaikan Prof Djohermansyah, paling mudah dicerna namun paling sulit dijalankan: politik harus kembali pada moral.

Karena tanpa moralitas, birokrasi akan kehilangan profesionalitas, rakyat tak akan dapat pelayanan publik yang adil, dan pembangunan tak akan dapat dipercepat.

Dan selama sistem politik masih menganggap uang lebih penting dari amanah, bangsa ini akan terus melahirkan pemimpin yang transaksional— bukan pemimpin yang transformasional.

(R/Wiztian Yoetri)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Pemko Pariaman akan Gelar “Car Free Night”, Ada Stand UMKM dan Penampilan Musik

Next Post

130 Orang Pegiat Lingkungan Ikut Sosialisasi Pembentukan Bank Sampah di Pariaman

BeritaTerkait

Bukan Sekadar Event Lari, Bela Negara Fun Run 2026 Lintasi Jejak Sejarah PDRI 1948
Berita

Bukan Sekadar Event Lari, Bela Negara Fun Run 2026 Lintasi Jejak Sejarah PDRI 1948

25 Agustus 2026
6
Padang Pariaman Mauluik Gadang Dimulai, Lantunan Kasidah Menggema di IKK
Berita

Padang Pariaman Mauluik Gadang Dimulai, Lantunan Kasidah Menggema di IKK

24 Agustus 2026
77
Zara Dynamite Milik Edi Lamun Ombak Juara Indonesia Horse Racing Merdeka Cup 2026
Berita

Zara Dynamite Milik Edi Lamun Ombak Juara Indonesia Horse Racing Merdeka Cup 2026

24 Agustus 2026
99
Fahira Idris: Bang Japar Teguhkan Komitmen Jaga Jakarta
Berita

Fahira Idris: Bang Japar Teguhkan Komitmen Jaga Jakarta

22 Agustus 2026
14
Perkuat Langkah Pembentukan BUMD, Bupati JKA Konsultasi ke Kemendagri
Berita

Perkuat Langkah Pembentukan BUMD, Bupati JKA Konsultasi ke Kemendagri

22 Agustus 2026
108
Inovasi Digital Pemkab Dharmasraya SIDIK TERNAK, Percepat dan Akuratkan Data Peternakan
Berita

Inovasi Digital Pemkab Dharmasraya SIDIK TERNAK, Percepat dan Akuratkan Data Peternakan

22 Agustus 2026
29
Next Post
130 Orang Pegiat Lingkungan Ikut Sosialisasi Pembentukan Bank Sampah di Pariaman

130 Orang Pegiat Lingkungan Ikut Sosialisasi Pembentukan Bank Sampah di Pariaman

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,866)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,789)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (36,075)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,757)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (35,225)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,684)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (34,546)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (33,156)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,451)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,539)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
195
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
394
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
508
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
255
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
132
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
173
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
141
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
208
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
146

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In