
PADANG, forumsumbar –— Di tengah semilir angin pagi di parkiran selatan GOR H Agus Salim, Padang, syair-syair kemanusiaan menggema, menembus langit. Air mata jatuh tak tertahankan dari pipi Dianita Maulin Vasko, istri Wakil Gubernur Sumbar, saat lantunan puisi tentang Gaza dibacakan oleh penyair kawakan Andria C Tamsin—puisi yang bukan hanya dibaca, tapi dirasakan, dihayati, dan dihidupkan.
Acara bertajuk “Love Gaza, Safe Gaza: Baca Puisi untuk Gaza” ini digagas oleh World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang diketuai Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpihak pada perdamaian dan kemanusiaan.

Kegiatan ini menjadi panggung solidaritas dari Ranah Minang untuk Palestina, dimana kata-kata menjelma nyala nurani. Didukung oleh berbagai komunitas seperti HWK Sumbar, SatuPena Sumbar, Sumbar Talenta Indonesia, Asosiasi Siti Manggopoh, PPIM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), PPIC (Poetry-Pen International Community), WCLC (World Children’s Literature Community), FKPPI Padang, Kebaikan Ummat, dan sejumlah komunitas literasi lainnya, acara ini menyatukan tokoh masyarakat, tokoh agama, seniman, sastrawan, budayawan, mahasiswa, hingga masyarakat umum dalam satu seruan bersama: kemanusiaan tak boleh dibungkam.
Dianita: “Kami Tak Punya Senjata, Tapi Kami Punya Suara”
Duduk berdampingan dengan Sekda Sumbar definitif Arry Yuswandi, mantan Pj Sekda Yozarwardi, dan Ketua WPM Sastri Bakry, Dianita tampak hanyut dalam gelombang empati yang melingkupi suasana.
“Dalam dunia yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri, hari ini kita berhimpun bukan karena harta atau kuasa, tapi karena nurani yang masih hidup,” ucapnya dengan suara bergetar, disambut hening haru oleh ratusan hadirin.
“Sebagai urang awak, saya merasa ini adalah tanggung jawab kita bersama—menyuarakan kebenaran, menyampaikan cinta kepada saudara-saudara kita di Gaza”, tambahnya.
Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa meskipun kita jauh secara geografis, kedekatan hati tak mengenal jarak. “Kata-kata bisa menghancurkan dunia, tapi kata-kata juga bisa membangunnya kembali,” ujar Dianita penuh keyakinan.

Sebuah Aksi Damai yang Menggetarkan
Ketua panitia, Eka Fitriyah Fauzar, menyampaikan rasa syukurnya atas antusiasme yang melampaui ekspektasi. “Kami para mahasiswa bahkan memasang tenda hingga pukul 4 pagi, dan kembali lagi pukul 6. Tapi semua lelah terbayar ketika melihat puisi dibacakan dengan jiwa—terutama oleh Ibu Dianita yang multi talenta: orasi, membaca puisi, bahkan menyanyi”, ujarnya.
Acara ini menghadirkan momen langka: Sekda Sumbar Arry Yuswandi, yang baru kembali dari Tiongkok, langsung hadir dan membaca puisi menyentuh hati. Disusul oleh Yozarwardi Utama Putra, Fauzul El Nurca, Yenny Ibrahim, dan puluhan penyair lainnya—setiap bait menjadi peluru empati yang menembus dinding keacuhan.
Pentas puisi dibingkai indah oleh MC kenamaan Malin Tirih dan Sigit, yang piawai membawa audiens menyelami lautan emosi: tertawa, lalu diam, lalu menangis.
Penampilan Nasyid Al-Fajr yang menyayat, serta tausiah dari Ustaz Muhammad Yugi menambah kedalaman spiritual.
Puisi dari Era Yunus, Marniyeti, Fauriza, Nofie G. Winata, Ranti Arastri, Rhein Eka Triana, Tyo Kurniawan, Armaidi Tanjung, Hesti, dan Sri Juwita Dewi juga menyuarakan luka dan harapan untuk Gaza. Leni Marlina yang tidak bisa hadir offline, telah mengirimkan video pembacaan puisinya kepada pantia sebagai bentuk dukungan pada acara ini yang dapat diakses publik melalui channel YouTube.
Ke depan recananya dokumentasi berupa rekaman video pembacaan puisi lainnya yang offline akan juga dipublikasikan melalui YouTube.

Puisi dari Hati: Dianita Maulin Vasko untuk Gaza
Salah satu puncak acara adalah saat Dianita Maulin Vasko membacakan orasi dan puisinya sendiri, berjudul: “Inilah Suara dari Ranah Minang, untuk Gaza yang Luka”. Berikut puisi Deta (Dianita Maulin Vasko, yang dibuat dengan hati dan dibacakan sepenuh hati sebagai urang Minang.
Inilah suara dari Ranah Minang, untuk Gaza yang luka
Puisi Karya Dianita Maulin Vasko
Dari lereng Singgalang berbisik angin,
menyusuri sawah hijau berlarik doa.
Langit Minang bertanya lirih:
“Apa kabar anak Gaza?”
Kami di sini makan nasi dengan aman,
kalian di sana menelan debu reruntuhan.
Kami tidur di ranjang hangat,
kalian terlelap di bawah dentuman senjata.
Tapi wahai Gaza, jangan kau sangka sendiri.
Dari surau kecil kami lantunkan ayat suci,
dari lumbung hati kami kirimkan empati,
dan dari lubuk jiwa kami,
cinta tak pernah mati.
Gaza, engkau luka kami.
Engkau perih yang kami rasai.
Kami mungkin jauh di mata,
tapi dalam doa, engkau tak pernah terlupa.
Kami tak punya senjata,
tapi kami punya pena dan suara.
Kami tak bisa bertempur,
tapi kami bisa bersatu dan mengatur langkah.
Dari Padang ke Gaza
Kami kirim cinta dan keberanian.
Semoga damai datang sebagai kenyataan.
Save Gaza, Love Gaza.
Karena cinta tak butuh alasan.
Padang, 22 Juni 2025
Puisi ini bukan sekadar bait; ia adalah jeritan jiwa dari seorang tokoh perempuan, ibu, istri, dan putri Minangkabau yang menolak diam atas penderitaan umat manusia.

Doa dari Sumatera Barat untuk Dunia
Menutup acara, Eka Fitriyah berkata, “Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi bagian dari amal yang Allah catat. Karena meski tak bisa ke Gaza, kita bisa kirim cinta dari sini,” katanya.
Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk, acara ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tak pernah ketinggalan zaman. Ranah Minang hari ini menyalakan lentera dari timur matahari, mengirimkan cahaya ke bumi Gaza yang masih diselimuti gelap.
Karena puisi bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk memperjuangkan yang tak bisa lagi bersuara.
(Leni Marlina)
Silahkan simak berita terkait sebelumnya::
“Love & Safe Gaza”, Uniting Voices for Humanity Through Poetry and Solidarity in West Sumatra
Salah satu video dukungan untuk acara ”Save & Love Gaza” dapat dilihat di link ini:
Video highlights:
Kegiatan WPM-Indonesia di Padang, Sumbar dapat dilihat di kanal YouTube berikut.
Dalam video ini, para penyair, seniman, aktivis, ketua komunitas, dosen, guru, mahasiswa, tokoh perempuan, birokrat , wartawan, bersuara untuk Gaza. Mereka membagi kekuatan kata-kata untuk menggugah nurani kita.























