PADANG, forumsumbar —Salah satu dari 7 misi Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu adalah bagaimana meningkatkan partisipasi dan kualitas Pemilu melalui sosialisasi dan pendidikan pemilih yang berkelanjutan.
Upaya sosialisasi dan pendidikan bagi pemilih sangat diperlukan agar informasi mengenai Pemilu itu bisa dipahami secara utuh, dan pemilih mendapatkan informasi yang benar, bukan hoaks.
Pada Pemilu 2019 lalu, KPU Sumbar telah melakukan berbagai upaya sosialisasi dan pendidikan pemilih. Untuk mengetahui persepsi atas penyelenggaraan kegiatan tadi, KPU Sumbar melakukan survei pemetaan.
Hasil dari survei yang dilakukan KPU Sumbar dilaporkan oleh Komisioner KPU Sumbar Gebril Daulay kepada media, Minggu (22/12) di Hotel Pangeran Beach, dengan pembanding dari dosen FIS UNP Eka Vidya Putra.
Disampaikan Gebril, diseminasi riset pemetaan persepsi atas penyelenggaraan sosialisasi dan pendidikan pemilih pada Pemilu 2019 yang lalu sangat penting, sebagai evaluasi dalam menghadapi pemilu-pemilu berikutnya.

Didapatkan kesimpulan dari riset yang dilakukan, menurut Gebril, bahwa penyebaran hoaks dan hate speech yang masif tidak memengaruhi rasionalitas pemilih di Sumbar. Kemudian, lanjutnya, mayoritas pemilih masih melihat visi, misi dan program untuk menentukan pilihan.
“Penyelenggaraan Pemilu serentak ternyata mampu mengurangi kejenuhan pemilih. Kemudian, pada pemilih yang tidak sekolah, atau cuma lulusan SD dan SMP, kesamaan agama sangat memengaruhi alasan pemilih untuk memilih pemimpin,” ujar Gebril.
Lebih lanjut ungkap Gebril, pemilih masih melihat hiburan merupakan sarana yang bagus untuk wadah sosialisasi. Sementara, dari sisi materi, baliho, spanduk, leaflet masih diminati para pemilih. (IK)























