
SOLOK SELATAN, forumsumbar— Lebih 10 hari tim Field Indonesia mengunjungi petani penggiat Basawah Pokok Murah di Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan.
Dikoordinir Suhatril Isra, selaku Project Officer Field Indonesia Sumbar, bersama enam jurnalis merancah sawah yang memakai pola tanam Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT).
“Mengaktualisasikan pola tanam padi dengan MTOT merupakan bagian dari program Udara Bersih Indonesia yang digagas Field Indonesia, satu cara menekan polusi udara itu adalah tidak membakar jerami,” ujar Suhatril Isra, melalui keterangan persnya, Kamis (9/11/2023).
Disampaikan Suhatril bahwa MTOT banyak untungnya dan hasilnya pun lebih unggul dari menanam sawah secara konvensial yang dilakukan petani selama ini.
Seperti mulai membajak, menyemai, menanam, merawat dengan pupuk dan mengawasi serangan hama binatang dan banyak lagi. Petani habis karena rutinitas itu, hasil pun tak seberapa dari modal yang dikeluarkan
Tapi, lanjut Suhatril, dengan metode MTOT tanah sawah makin kokoh, padi juga tahan hama, tidak perlu mesin bajak, tak perlu pestisida, panennya pun melimpah.
Tim Field Indonesia terbelalak ketika ada seorang petani di Sungai Pagu tersebut, Fenti namanya yang hanya tamatan SMP, mengelola dua piring sawah yang mengaku tidak ada uang sepeser pun keluar.
“Sawah ini sampai sebulan sebelum panen, hanya modal tenaga saja, tak ada uang sepeser pun karena memang saya tidak punya uang,” ujar Fenti yang sekarang sendiri menghidupi keluarganya.
Bahkan Fenti bikin PPL di daerah itu tidak percaya dengan yang disampaikan. “Awal saya ragu dan tidak percaya ibu Fenti tanpa modal menanam padi yang sekarang potensi panennya luar biasa,” ujar Yoviandri, seorang PPL tamatan Unand.
Tapi setelah memantau, PPL ini pun yakin Fenti menerapkan MTOT, tanpa mencampur dengan pupuk kimia.
“Ya murni MTOT, ibu Fenti hanya menambah Bio Saka yang diracik tangan sendiri oleh ibu Fenti. Mungkin ini inovasi alamiah dari Basawah Pokok Murah, ibu Fenti menjadikan Basawah Tanpa Pokok,” ujar Yoviandri lagi.
Menurut PPL dan Fenti, sawah dengan pola tanam MTOT ini Insya Allah akan panen kurang lebih satu bulan lagi
“Insya Allah sawah yang diolah ibu Fenti ini panen sebulan lagi. Diprediksi hasilkan bisa 10-12 karung padi, uang Rp3-5 juta sudah mendekat ke ibu Fenti,” ujar Yoviandri lagi.
Menurut Suhatril Isra, Bio Saka tidak pupuk, tapi pupuk di sawah Fenti itu aktualnya dari jerami yang otomatis pupuk organik.
“Ibu Fenti tanpa modal bersawah ini surprise bagi kami, Field Indonesia selama ini kampanye tidak bakar jerami dengan Basawah Pokok Murah lewat MTOT, sama ibu Fenti dia tak keluarkan uang sepersen pun mengolah tanah murni mengandalkan tenaganya saja,” ujar Isra.
Fenti tidak alumni sekolah lapangan Field Indonesia. Fenti mendengar sosialisasi dari pionir alumni Field Indonesia Solok Selatan Yurnita. Tapi mampu berinovasi dan menerapkan sendiri di sawah yang diolahnya.
Kini sawah siap panen itu serabutnya banyak bulir padinya dan tahan hama penyakit pula.
Ketua Jaringan Pemred Sumbar Adrian Tuswandi salut kepada Fenti yang mampu berinovasi di segala keterbatasannya.
“Sawah itu ladang rezeki, ada banyak kehidupan yang bermula dari sawah itu. Ibu Fenti mampu membaca dan menerapkannya, basawah indak paralu modal lai doh, pak tani dan ibu tani Sumbar bisa menerapkan di sawahnya. Bangga Jadi Petani,” ujar Adrian Tuswandi.
“Potensi bersawah dengan model MTOT, menurut Adrian belum didukung pemerintah. Saya heran dan bertanya kok dinas pertanian gak respek dengan MTOT ini ya?. Sehingga saya curiga, jangan-jangan (semoga tidak) karena bersawah konvensional selama ini menguntungkan oknum di Dinas Pertanian dari banyak vendor yang mendrop kebutuhan sawah konvensional selama ini,” imbuh Adrian.
(Rel/adr)























