
PADANG, forumsumbar —Apa yang dikatakan beberapa seniman menyebutkan bangsa ini sudah darurat budaya, rasanya sangat tepat dan tidak terlalu berlebihan, karena sesungguhnya akibat kerja dan niat yang tak benar dari orang yang semula tak memiliki kecerdasan apa-apa diberi kekuasaan memegang kebijakan yang juga tak dipahaminya.
“Akibatnya dampak dan kerusakan terhadap yang terjadi pada kebudayaan sudah sangat kritis,” ujar Ery Mefri, budayawan Minang, yang merupakan seorang koreografer tari internasional pimpinan Nan Jombang Dance Company, Balai Baru Padang, melalui laman fesbuknya, Senin (13/2/2023).
Dalam skala lokal, menurut Ery Mefri, sesungguhnya daerah ini (Sumbar ; Red) sudah darurat kemanusiaan dengan perilaku kebiadaban yang tak terkendali akibat kesalahan yang disengaja dalam setiap meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
“Memberikan tanggungjawab kebijakan terhadap yang tak mengerti dan memiliki keilmuan di bidangnya hingga diberi keleluasaan melaksanakan kebijakan berdasarkan suka tidak suka,” tegas pria 65 tahun ini, yang berasal dari Saniangbaka Solok.
Lanjut Ery Mefri lagi, kebiadaban dengan segala yang dilakukan bagi penyebar kematian kebudayaan itu jadi lumrah dan tak mengejutkan. “Cuma yang tidak dipahami apabila racun itu diselusupkan melalui penghuninya melewati dapur rumah gadang itu sendiri,” tukas Ery.
Itulah yang terjadi pada dunia kebudayaan di daerah ini dengan segala ulah penentu atau si pengambil kebijakan yang menamakan dan mengangkat diri sebagai Pembina, Pelestari dan pengembangan hingga Pemajuan kebudayaan.
Dimana sesungguhnya mereka itu, sebut Ery Mefri, tak memahami apa itu budaya karena pada dasarnya dari awal memang sudah tak menggambarkan manusia berbudaya selain rasa pongah karena merasa diberi kekuasaan yang membuat mereka semua lupa diri dalam menyiratkan kebencian dan dendam pada kebudayaan dengan sengketa yang terus berlanjut.
“Diberi kekuasaan serta dibiayai mengurus kesenian dan budaya hanya bisa bergaya dengan kemampuan sok serba tahu, sok bersuara pongah dan lantang bicara dari balik meja dalam kantor sendiri tapi tak mau tahu atau tak pernah terlihat hadir dalam peristiwa kebudayaan itu sendiri,” kata Ery, yang sudah mementaskan karyanya di banyak tempat di luar negeri, seperti Singapura, Filipina, Korea, Jepang, Australia, Inggris, Jerman, dan lainnya.
“Mereka ini anti dikritik dan tak mau menerima masukan karena merasa diri hebat dan merasa serba tahu hingga lupa bercermin diri,” pungkas Ery.
(Ika)























