BUKITTINGGI, forumsumbar —Peran jurnalis sangat strategis dalam masalah kebencanaan. Pemberitaan yang akurat, berimbang dan jelas, akan menjadi sitawa bagi para korban bencana, keluarga dan masyarakat banyak.
Begitu juga dengan peran jurnalis untuk membangun optimisme dan solidaritas sosial pascabencana, sehingganya masyarakat korban bencana dapat bangkit kembali seperti sediakala dengan cepat.
Demikian disampaikan Anggota Dewan Pers Jamalul Ihsan saat menjadi narasumber di acara bimbingan teknis Kajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu Pasna), bagi jurnalis media informasi cetak, elektronik dan online yang ada di Sumbar, Sabtu (2/11), di Bukittinggi.
Kadang, menurut Jamalul, pemberitaan jurnalis hanya saat kejadian bencana, tapi sudah itu tidak ada lagi liputan. “Jangan pakai gaya hit and run, pukul dan lari. Hal ini tidak bagus lagi, karena ada hal-hal yang sangat perlu diliput, atau dilaporkan pascabencana. Jadi harus sampai tuntas,” katanya.

Tetapi sekira pascabencana ingin menampilkan data, maka penting bagi jurnalis untuk memverikasinya ke pihak yang berwenang. “Akurasi pemberitaan harus terukur, agar pemberitaan jurnalis tidak salah, dan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat,” ucapnya.
Disamping itu, pemberitaan para jurnalis harus mengacu kepada aturan yang berlaku, yakni UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, untuk tidak ditampilkan atau diberitakan dari sisi kemanusiaan.
“Tapi perlu juga diperhatikan oleh para jurnalis, di samping memiliki pemahaman yang utuh mengenai kebencanaan, juga harus memperhatikan safety, keselamatan saat melakukan liputan,” imbuhnya.
Bimtek Jitu Pasna dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar, diikuti 90 orang jurnalis media cetak, elektronik dan onlie, serta utusan BPBD kabupaten / kota se-Sumbar, berlangsung dari tanggal 30 Oktober sampai 2 November 2019. (Isa)























