Oleh : Bachtul
//forumsumbar//
HAMPIR 2 bulan belakangan, terus menerus tiap hari rakyat Indonesia disuguhi berita dengan segala coraknya dari berbagai media dengan berita kematian Brigadir Joshua.
Betul-betul heboh dan menghebohkan, padahal yang meninggal hanya satu orang.
Sudah betul kehebohan tersebut, dan memang harus demikian. Karena nyawa manusia itu berharga. Dan harus dibuat tetap berharga, sehingga setiap kehilangan nyawa yang tidak biasa harus dihebohkan dan diberi perhatian yang luas
Sebelum itu Indonesia bahkan dunia juga dihebohkan oleh kematian Putra Tercinta Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat yang tenggelam di Sungai Aare Swiss. Tidak hanya heboh tapi juga dapat perhatian, simpati serta empati yang luas dan dilakukan pencarian berminggu Minggu tanpa menghitung biaya yang dikeluarkan agar jenazah Emil, putra tercinta Gubernur Jawa Barat tersebut ditemukan.
Sekali lagi hal tersebut menunjukkan betapa berharga nyawa manusia dalam budaya dan peradaban kita.
Dan sekali lagi memang harus dibuat terus demikian, bahwa nyawa manusia harus dibuat berharga dan bernilai, tidak hanya nyawanya tapi juga jasadnya. Sebagai bentuk penghormatan dan pengharagaan kita kepada manusia dan kemanusiaan.
Banyak kejadian lain yang bisa memperlihatkan betapa kita sangat menghargai nyawa manusia terutama setelah kita kehilangan mereka, ke puncak gunung pun kita cari mereka baik hidup ataupun meninggal. Ke dasar laut pun kita cari mereka, dan juga ke dasar danau pun diselami
Tapi di tengah sangat terpujinya sikap dan peradaban kita terhadap manusia yg meninggal dan menjadi korban kejadian-kejadian tertentu, apakah sikap kita juga demikian terhadap sesama manusia dan rakyat yang masih hidup??? Jawabannya ada pada diri kita masing masing !!!
Lalu apa pula hubungan judul tulisan ini dengan kejadian meninggalnya Brigadir Joshua dan meninggalnya Putra Tercinta kang Emil ??? Menjawab pertanyaan tersebut sidang pembaca dapat menghubungkannya sendiri.
Longsor yang beberapa kali menimbun jalan Sitinjau yang menimbulkan macet berkilo-kilo meter adalah kewenangan pemerintah pusat untuk membereskannya. Karena jalan Sitinjau adalah jalan Nasional, sehingga seluruh penanganannya adalah adalah kementrian PUPR melalui Balai Jalan yang ada di Sumatra Barat sebagai aparat Kementerian yg ditempatkan di daerah.
Jika demikian adanya lalu kenapa pula Gubernur yang diminta mendesak Balai Jalan dan Kementerian PUPR? Jawabnya adalah karena Gubernur adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah. Kemudian pengguna jalannya utamanya adalah rakyat Sumatra Barat. Rakyatnya Gubernur Sumatra Barat.
Longsor tebing jalan di Sitinjau tepatnya di atas pendakian Tunggua di atas Panorama 2 yang terjadi sekarang dan terjadi sejak kurang lebih 3 bulan lalu memang tergolong sangat besar. Jumlah material, baik tanah, karang maupun batu yang lepas dari tanah asli volumenya memang cukup besar. Maka penanganannya tentu juga tidak bisa pula dengan cara biasa.
Saat ini material longsor yang menggantung di lereng bukit volumenya sangat besar, yang setiap saat bisa saja turun menimbun seluruh badan jalan sepanjang sekitar 75 m dan menimbun kendaraan yang melintas maupun terjebak macet di sepanjang ruas 75 m tersebut.
Melintas di ruas tersebut ketika hujan terutama, betul-betul mencekam dan horor. Kalau pak Gubernur ingin merasakan boleh dicoba melintas di sana ketika hujan dengan tanpa pengawalan vooridjer.
Keadaan di sana makin diperparah ketika banyak kendaraan berat yang mogok di sekitar TKP akibat kemacetan, yang kemudian makin memperparah kemacetan itu sendiri.
Karena situasi ini telah berlangsung kurang lebih tiga bulan dan agar tidak berlarut-larut yang akan mengakibatkan jatuh korban, melalui tulisan ini saya minta kepada Gubernur agar meninjau jalan Sitinjau tersebut.
Dan tolong diajak kepala Balai Jalannya sekalian, Karena, jangan-jangan Kepala Balai Jalan-nya belum pernah juga ke lapangan meninjau longsor di Sitinjau tersebut.
Penulis yakin Gubernur bersedia meninjau jalan Sitinjau tersebut, karena untuk meninjau dan menghadiri kegiatan yang tidak berkelas Sumatra Barat saja Gubernur amat rajin, seperti peletakan batu pertama Kantor Walinagari, pembukaan rumah Tahfiz Nagari/jorong dll, masak meninjau longsor yang mengganggu fungsi jalan yang amat penting bagi Sumatra Barat, Gubernur tidak bersedia, tak mungkinlah. Yakin saya Gubernur pasti bersedia.
Tapi kalau memang nanti ditinjau, jangan ramai-ramai pula rombongannya pak Gubernur, nanti menimbulkan macet pula di sana. Cukup pihak-pihak yang berkepentingan langsung saja dan terutama kepala Balai Jalan-nya.
Tapi tentu tak cukup ditinjau saja, yang paling penting yang diharapkan dari Gubernur adalah mendesak agar Balai Jalan dan Kementerian PUPR untuk secepat-cepatnya menuntaskan masalah longsor Sitinjau yang mengancam jiwa pemakai jalan Nasional di Sitinjau tersebut.
Jangan penanganannya seperti yang berlangsung 3 bulan terakhir ini saja, hanya longsoran yang jatuh menutupi badan jalan saja yang dibersihkan sementara material longsoran yang masih menggantung di dinding tebing dibiarkan saja terus mengancam jiwa dan keselamatan pemakai jalan yang menimbulkan suasana horor dan mencekam bagi pemakai jalan yang lewat di sana terutama ketika hujan.
Atau memang Balai Jalan kehabisan akal untuk menangani longsor tersebut, sehingga caranya hanya seperti biasa menunggu saja material longsor tersebut jatuh menutupi jalan, kemudian baru membersihkannya.
Jangan kiranya Gubernur bersedia menerima alasan kepala Balai kalau penagananan longsor Sitinjau lamban karena ketiadaan anggaran atau karena izin dari Kementerian Lingkungan Hidup belum didapatkan.
Jangan percaya kalau tidak ada sama sekali sumber dana yang bisa dimanafaatkan untuk mengatasi permasalahan longsor tersebut pak Gubernur.
Begitu juga kalau alasannya belum ada izin dari Kementerian Lingkungan hidup.
Masak untuk membersihkan material longsor yang mengancam jiwa manusia, izinnya harus berbulan bulan pula !? Sebegitu parahkah birokrasi pemerintah?!
Mengakhiri tulisan ini, Saya mohon kepada pak Gubernur untuk gerak cepat meninjau dan mendesak Balai Jalan dan Kementerian PUPR untuk menuntaskan masalah longsor di Sitinjau dan mengakhiri suasana horor dan mencekam di ruas jalan tersebut.
Jangan tunggu jatuh korban jiwa baru Gubernur dan para pejabat terkait tergopoh-gopoh meninjau lokasi dan mencari korban yang tertimbun siang malam dengan mengerahkan segala peralatan, anggaran dan sumber daya setelah semuanya berubah jadi bencana.
Mari kita tunjukkan penghargaan kepada jiwa dan nyawa rakyat ketika mereka masih hidup, jangan hanya terlihat menghargai jiwa dan nyawa rakyat ketika mereka telah mati atau meninggal setelah mereka jadi korban akibat kelalaian pemimpin dalam mengambil keputusan dan karena kelalaian pemimpin dalam memberi perhatian atas keselamatan rakyat.
Selat Sunda, 28 Agustus 2022
Penulis adalah Mantan Anggota DPRD Sumbar























