JAKARTA, forumsumbar — Anggota Komisi I DPR RI Kresna Dewanata mengungkapkan, era digital telah membawa suasana baru yang sangat berbeda dengan era sebelumnya. Perubahan dan pengaruh era digital dirasakan pada semua bidang kehidupan, secara positif maupun negatif.
Kresna mengatakan bahwa kemajuan teknologi saat ini harus di barengi dengan edukasi teknologi yang saat ini harus dibuat menjadi suatu peluang yang dapat memudahkan sekaligus menguntungkan.
“DPR ingin ada regulasi yang baik dengan pemagar dapat melindungi hak kewajiban masyarakat dengan kemajuan teknologi. DPR juga sedang mambahas tentang RUU Perlindungan Data Pribadi sehingga masyarakat nantinya tidak perlu gusar lagi dengan keamanan identitasnya,” kata Kresna.
Melihat kepada aspek anak-anak yang kini mulai belajar di rumah dengan metode daring, Kresna memandang perlunya literasi digital dimulai dari keluarga, dimana tanggung jawab orangtua terhadap anak sangat besar. Jika orangtua tidak dapat menerapkan litarasi digital bagi anaknya, maka si anak akan terkena dampak buruk dari digital.
“Jika kita tidak bisa meminimalisir dampak negatif ini, maka akan berpengaruh signifikan terhadap anak. Lantas apa yang harus dilakukan orangtua terhadap anaknya, agar anaknya tidak terkena dampak negatif dari era serba digital ini,” ungkap Kresna.
Dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis mengungkapkan, memasuki era digitalisasi sekarang ini kebutuhan pokok masyarakat yang hidup di kawasan perkotaan mulai bertambah. Peningkatan infrastruktur digital saat ini menjadi hal dengan skala prioritas.
Pemerintah melalui Kemenkominfo serta Badan Aksebilitas Telokumunikasi dan Informasi (Bakti) meningkatkan infrastruktur di daerah-daerah kecil yang belum ada infrastruktur telekomunikasi. Daerah-daerah kecil yang dimaksud lebih dikenal dengan sebutan 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), jadi 3T ini merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk wilayah-wilayah yang berada terpencil maupun perbatasan.
“Peran strategis BAKTI lebih memfokuskan pada pengembangan daerah-daerah pinggiran yang belum tersentuh” ungkap Yuliandre Darwis saat menjadi pemateri dalam diskusi berbasis daring yang diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Informasi Komunikasi oleh Masyarakat sebagai Media Edukasi dan Bisnis”, di Jakarta, Minggu (15/11).
Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017-2018 ini mengatakan, peran media internet tentu saja media komputer yang menjadi perangkat utamanya semakin meningkat pesat dari waktu ke waktu. Maka diperkirakan mesin jenius ini akan menjadi kebutuhan dominan yang tak terlupakan dalam kehidupan manusia pada masa-masa mendatang. Tak hanya internet, saat pandemi covid 19 terjadi peningkatan penjualan alat olahraga, misalnya sepeda.
“Pola kehidupan masyarakat saat ini yang meminimalisir aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain kini mulai beralih ke olahraga yang bersifat pribadi,” kata pria yang akrab disapa Andre ini.
Lebih jauh, Andre menilai pembelajaran digital yang digadang-gadang bisa memfasilitasi pertemuan antara guru dan murid di kelas maya, ternyata tak selamanya bisa berjalan mulus. Metoda belajar online sebagai bagian dari e-learning membutuhkan daya upaya dan biaya yang tidak sedikit. Untuk dapat melakukan pembelajaran jarak jauh, tentunya siswa harus memiliki gadget.
Selain itu, untuk dapat mengakses internet setiap saat, orang tua harus menyediakan dana untuk membeli kuota data, namun ada juga subsidi bantuan dari pemerintah terkait kuota internet bagi para siswa. perlu di ketahui bahwa bedasarkan data statista.com menunjukan tekah terjadi peningkatan unduhan platform zoom sebanyak 3,2 juta unduhan di seluruh dunia.
“Bagaimana zoom menjadi wadah komunikasi saat ini. Dengan teknologi memudahkan dan juga menunjang aktivitas manusia untuk dapat tetap berkomunikasi,” pungkas Yuliandre.
(Syahrul)























