JAKARTA, forumsumbar — Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid mengatakan urgensi literasi digital saat ini menjadi titik fokus utama. Seiring dengan meningkatnya penetrasi internet dan sarana digital di Indonesia, kompetensi masyarakat dalam memanfaatkan media digital secara kritis juga mulai berkembang.
Dalam menghadapi komunikasi saat ini, Meutya menekankan masyarakat harus turut cerdas dan cermat dalam mengolah informasi yang baru saja didapatkan, terutama informasi yang didapatkan dalam pesan singkat seperti pada pesan media sosial yang biasanya akan diteruskan tanpa dicerna terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut.
Alumnus UNSW Sydney Australia ini berujar, kemampuan literasi digital dalam penggunaan atau pemanfaatan teknologi mampu menjadikan manusia sebagai konsumen informasi yang lebih aktif karena mampu menilai apakah informasi yang diaksesnya itu sudah valid atau belum.
“Untuk meningkatkan kemampuan dalam literasi digital, dapat dimulai meningkatkan kesadaran sosial,” kata Meutya
Dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan bagaimana digital menjadi sebuah modal dasar zaman ini. Peradaban saat ini sudah banyak berubah, contohnya hari ini dimana saja kita bisa bertemu berkat ekosistem teknologi
Sadar atau tidak, kata pria yang akrab disapa Andre ini mengungkapkan bahwa terjadi signifikansi dalam penggunaan platform digital. Contohnya salah satu cara menghibur diri yang menjadi pola gaya hidup baru adalah menonton tayangan streaming atau video berlangganan secara online
“Masyarakat untuk sementara waktu mengalihkan kebutuhan hiburan mereka, yang semula datang langsung secara fisik, dengan cara menikmati konten lewat platform digital,” tutur Yuliandre saat menjadi narasumber dalam diskusi berbasis daring yang di selenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta, Rabu (11/11).
Lebih lanjut, Presiden International Broadcasting Regulathory Authority Forum (IBRAF) periode 2017-2018 ini mengungkapkan pengaruh internet kepada generasi milenial tentu tidak serta merta membawa pengaruh positif. Era kebebasan dan keterbukaan informasi seperti ini menuntut para kaum muda agar dapat menjadi insiator dalam memberikan pemahaman dan edukasi yang cukup luas. Saring sebelum sharing, ini menjadi hal inti dalam menyikapi era keterbukaan informasi.
“Artinya dalam upaya memberikan literasi digital harus mempertimbangkan bagaimana persepsi dan sikap individu yang disasar atas teknologi tersebut, karena tidak semua individu memiliki kecepatan adopsi yang sama. Saring sebelum sharing,” katanya
Derasnya arus informasi menjadi faktor selanjutnya, dengan terjadinya transformasi digital tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa semakin banyak juga disinformasi yang beredar.
“Pada saat pandemi, dunia memaksa kita untuk cepat beradaptasi dan menyesuaikan kemampuan diri dengan teknologi. Saat ini untuk menjangkau bagian dunia bisa kita jangkau dalam genggaman tangan,” katanya.
(Syahrul)






















