
PADANG, forumsumbar —-Sekjend MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, Dr H Amirsyah Tambunan, MA, mengukuhkan pengurus MUI Sumbar masa khidmat 2026-2031, bertempat di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Jl Sudirman Padang, Rabu (2/9/2026).
Prosesi pengukuhan didahului dengan pembacaan SK MUI Pusat Nomor : Kep-82/DP-MUI/VII/2026 tentang Susunan dan Personalia Dewan Pimpinan dan Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Sumbar Masa Khidmat 2026-2031 yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Pusat KH M Anwar Iskandar dan Sekjend Buya Amirsyah Tambunan.
Pembacaan SK ini disampaikan oleh Wakil Sekjend MUI Pusat, Dr M Ihsan Tanjung, SAg, SH, MH, MSi.
Adapun, Ketua Dewan Pertimbangan, Prof Dr Asasriwarni, MH dan Sekretaris Prof Dr Edi Safri. Kemudian, Ketua Dewan Pimpinan, Dr Zulkarnaini, MAg, Sekretaris Umum, Ki Jal Atri Tanjung, SPd, SH, MH, dan Bendahara Umum, Dr Syamsu Akmal, SAg, MM.
Pengurus lainnya pada Dewan Pimpinan ada 3 Wakil Ketua Umum, 12 Ketua (Bidang), 12 Sekretaris dan 2 Bendahara.
Kemudian pembacaan SK MUI Sumbar untuk Komisi dan Lembaga oleh salah seorang Sekretaris, Hendri Novigator, SPsi.I, MPd.
Ada sebanyak 18 Komisi, dan 2 Lembaga, dengan seratusan lebih pengurus.
SK untuk Komisi dan Lembaga ini ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Sumbar, Dr Zulkarnaini, MAg dan Sekretaris Umum, Ki Jal Atri Tanjung, SPd, SH, MH.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan pengurus MUI Sumbar masa khidmat 2026-2031 oleh Sekjen MUI Pusat Buya Amirsyah Tambunan.

Bersama Membangun MUI Sumbar
Ketua Umum MUI Sumbar Dr Zulkarnaini, MAg dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para formatur yang telah membantu menyusun kepengurusan MUI Sumbar.
“Dalam penyusunan pengurus kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengakomodir seluruh potensi yang ada di MUI Sumbar,” ujarnya.
Disampaikannya bahwa jabatan Ketua Umum MUI Sumbar bukanlah jabatan politis yang harus diperebutkan. Tidak seperti pemilihan kepala daerah, seperti gubernur, bupati/walikota.
Meskipun ada riak-riak, Zulkarnaini mengajak semua pihak untuk bersama-sama ke depan membesarkan MUI Sumbar di dalam membina umat.
“Keberadaan MUI itu, menjadi mitra bagi pemerintah. Merupakan tempat bersandar umat dan menjadi rujukan dalam permasalahan agama,” ujar Zulkarnaini.
Menyitir ucapan Buya Hamka, disebutkan Zulkarnaini, MUI itu ibarat bika. Di atas bara, di bawah api. “MUI berada di tengah-tengah kepentingan. Kepentingan umat dan pemerintah,” tukasnya.

SK MUI Pusat Tidak Ada Persoalan
Sementara itu dalam sambutannya, mewakili Ketua Umum MUI Pusat, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat Dr H Gusrizal Gazahar, Lc, MAg, meyampaikan bahwa tidak ada persoalan dari lahirnya SK MUI Pusat tentang pengukuhan pengurus MUI Sumbar masa khidmat 2026-2031.
“MUI Pusat telah mencermati dinamika yang ada dan semua sudah di dengar. Jadi tidak ada persoalan dari lahirnya SK MUI Pusat terkait kepengurusan MUI Sumbar”, tegasnya.
Dengan adanya dinamika di MUI Sumbar, Gusrizal meminta kedewasaan semua pihak untuk bersikap arif. “Basilang kayu di tungku makonyo api iduik. Sekarang kearifan sudah jarang. Bukan nasi yang masak, tapi dapurnya terbakar,” seloroh Gusrizal.
“Biarlah yang lalu berlalu. Biduak lalu kiambang batauik. Kearifan ulama Minangkabau harus hadir sebagai suluh yang tidak akan pernah padam,” tambah Ketua Umum MUI Sumbar dua periode ini.
Gusrizal juga membuka sejarah MUI, dimana lebih tua MUI Sumbar dari MUI Pusat.
MUI Sumbar terbentuk pada 27 Mei 1968 saat diadakannya Mubes Ulama Sumbar di Masjid Jamik Birugo Bukittinggi. Pada saat itu terpilih sebagai ketua pertama MUI Sumbar, Buya H Mansur Daud Dt Palimo Kayo.
Kemudian ketika MUI Pusat berdiri di tahun 1975 yang diinisiasi oleh Buya Hamka, Buya HMD Dt Palimo Kayo ikut menandatangani pendiriannya dan MUI Sumbar langsung bergabung.
(Ika)






















