PADANG, forumsumbar —Membangun Sumbar itu harus realistis, karena dihadapkan dengan faktor geografis, alamnya, dan faktor demografis, orangnya. Secara geografis, letak Sumbar itu jauh dari jalur pertumbuhan ekonomi yang bertumpu di Pantai Timur Sumatera. Sementara secara demografis, banyak kendala yang berasal dari kultur yang ada, termasuk masalah etos kerja dan kepemilikan lahan.
Hal itu disampaikan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat menerima Jaringan Pemred Sumbar (JPS), Kamis (13/2), di kediaman resmi Gubernur Sumbar Jl. Sudirman Padang, dimana JPS yang baru terbentuk beberapa bulan lalu itu bersilaturahmi dan sekaligus memperkenalkan diri ke Gubernur Irwan Prayitno.
Lebih lanjut Irwan menyampaikan, jangan berpikir Sumbar itu bisa menjadi daerah industri, karena di samping persoalan geografis, juga demografis tadi. “Pertama persoalan tenaga kerja, kemudian kita itu jauh dari raw material (bahan mentah). Terus, karena letak kita di Pantai Barat Sumatera, maka biaya trasportasi menjadi tinggi. Jadi dengan memroduksi barang yang sama, di tempat lain harganya bisa kompetitif, atau murah,” ujarnya.
Untuk itu, jelasnya, Sumbar harus memrioritaskan sektor pariwisata dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai sokoguru perekonomian di samping pertanian, serta kelautan dan perikanan. “Di sektor pariwisata pun kadang kita terkendala dengan tenaga kerjanya, sebab karakter orang kita itu biasanya bukan pekerja, tapi cenderung ke pemberi kerja. Jangan heran, kadang banyak pekerja itu di datangkan dari luar Sumbar,” tuturnya.
Walaupun daerah tersebut merupakan daerah industri dan kaya sumber daya alam, tapi tidak menjamin tingkat kemiskinannya menurun, bahkan cenderung naik. Umpamanya saja, sebut Irwan, daerah-daerah tetangga Sumbar, seperti Aceh, Riau, dan lainnya. “Tingkat masyarakat miskinnya lebih tinggi dari Sumbar. Hal itu karena yang menikmati hasilnya hanya segelintir orang saja, pemilik usaha dan pabrik-pabrik yang ada,” ucap Irwan.
Dengan pertumbuhan ekonomi 5,16% di 2019, Sumbar sudah berada di atas rata-rata nasional. Ketika ada yang menyampaikan, bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi Sumbar itu mencapai 7%, Irwan sedikit bertanya. “Dulu saat gempa 30 September 2009, dengan turunnya dana rehab dan rekon yang triliun jumlahnya, pas di tahun 2010 sempat pertumbuhan ekonomi Sumbar mencapai 7%. Jadi, kalau ingin 7%, ya ada gempa dulu baru bisa,” ujar Irwan berseloroh.
Mengenai itu, menurut Irwan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, salah satunya harus ada masuknya investasi, baik pemerintah maupun swasta dalam jumlah besar, sehingganya bisa menggerakkan perekonomian. “Sementara di kita masih banyak yang harus dibenahi, termasuk persoalan demografis, yang menyangkut kultur,” ungkapnya.
Kemudian Irwan menekankan bahwa tidak ada pilihan lain bagi Sumbar, sektor pariwisata lah yang harus menjadi andalan. Dimana pun di daerah pariwisata, ungkap Irwan, tingkat kemiskinannya pasti rendah. Sebab, multiflier effect dari pariwisata itu sangat banyak, dan menyentuh masyarakat lapis bawah, seperti usaha kuliner, pernak-pernik atau cendera mata, transportasi, akomodasi, dan lainnya. Semuanya adalah sektor riil yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Saat bersilaturahmi dengan Gubernur Irwan, rombongan JPS dipimpin oleh Koordinator Heri Sugiarto, Pemred padek.co, dan turut hadir Nofal Wiska (prokabar.com), Adrian Tuswandi (tribunsumbar.com), Almudazir (mimbarsumbar.id), Saribulih (spiritsumbar.com), Delfi Neski (detaksumbar.com), Jadwal Jalal (Padang FM) dan lainnya. (IK)






















