JAKARTA, forumsumbar —Indonesia saat ini telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Hal itu ditandai dengan meningkatnya digitalisasi di segala bidang, salah satunya di dunia penyiaran. Di Amerika misalnya, regulator penyiarannya atau FCC sudah menyiapkan regulasi TV digital yang memberikan dampak menonton akan lebih clear, lebih jernih, dan tidak perlu pakai antena lagi. Salurannya sudah langsung tertangkap di TV digital.
Hal ini disampaikan Yuliandre Darwis, Komisioner KPI Pusat di Dialog Kepemudaan PPI se-Dunia, Sabtu (8/2), di Gedung A Kemendikbud RI Jakarta. Dan ia juga menambahkan, UU Penyiaran yang baru juga seharusnya bisa cepat diketuk mengingat urgensi revolusi industri sekarang.
Dalam era Revolusi Industri ini, dampak yang ditimbulkan juga cukup banyak. Kreativitas diperlukan untuk bertahan di era yang cukup kompleks ini. “Contoh di Korea. Episode drama paling banyak 16-22 episode, setelah itu diciptakan lagi judul baru. Sedangkan di Indonesia, satu judul sinetron bisa sampai ribuan episode. Kreativitas dalam industri penyiaran juga sangat diperlukan,” jelasnya.

Sementara mantan anggota DPR RI Budiman Sudjatmiko menambahkan, Nadiem Makarim dulu membuat Gojek, juga menggunakan imajinasi. Mencari cara bagaimana kita bisa hanya duduk diam, tapi ojeknya datang sendiri. “Ini memberi contoh bahwa di era artificial intellegent ini, manusia harus bisa berpikir cepat dan berpikir maju ke depan,” ucapnya.
Namun, bagaimana kesiapan Indonesia menghadai era Revolusi Industri 4.0 ini? Reno Rafly, VP dari Kata.ai menyampaikan, workforce Indonesia berada di urutan 60 di readyness skilss. Artinya, dalam dunia kerja, anak muda di Indonesia masih berada pada urutan bawah dalam kesiapan skills digital di dunia kerja.
Kreativitas dan imajinasi, ulas Reno, sangat diperlukan untuk maju di dunia digital ini. Jangan sampai, manusia sekarang kalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang sekarang sudah bisa digantikan oleh artificial intelligent. “The future is now adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan digital saat ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak muda Indonesia harus siap menghadapi hal ini,” pungkasnya. (Rel)






















