• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, September 1, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Di Kediaman Jusuf Kalla, Pakar Pemerintahan Soroti Defisit APBN dan Ancaman Melemahnya Daerah

19 Maret 2026
in Berita
Reading Time: 4min read
Views: 263
Para pakar otonomi daerah bersama Jusuf Kalla. (Foto : Dok)

JAKARTA, forumsumbar –—Sejumlah pakar dan peneliti pemerintahan/ kebijakan publik berkumpul dalam sebuah diskusi kebangsaan di kediaman Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla jelang berbuka puasa.

Pertemuan tersebut membahas secara serius arah kebijakan fiskal nasional di era Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait potensi defisit APBN serta dampaknya terhadap hubungan pusat dan daerah.

Diskusi yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh keseriusan itu menyoroti kecenderungan kebijakan nasional yang dinilai semakin sentralistik, di tengah tekanan fiskal yang kian berat.

Lihat Juga

Pengurus MUI Sumbar Masa Khidmat 2026 – 2031 Dilantik Rabu 2 September 2026 Ini

Pengurus MUI Sumbar Masa Khidmat 2026 – 2031 Dilantik Rabu 2 September 2026 Ini

31 Agustus 2026
63
Pacu Jawi Tanah Datar Juara I Nasional Lomba Video Kreatif Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026

Pacu Jawi Tanah Datar Juara I Nasional Lomba Video Kreatif Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026

31 Agustus 2026
17
KAI Divre II Sumbar Perkuat Keselamatan Perlintasan Melalui Pembekalan Kompetensi bagi 37 PJL Baru

KAI Divre II Sumbar Perkuat Keselamatan Perlintasan Melalui Pembekalan Kompetensi bagi 37 PJL Baru

31 Agustus 2026
16

Fokus Utama: Defisit dan Tekanan terhadap Daerah

Dalam forum tersebut, perhatian utama tertuju pada meningkatnya potensi defisit anggaran negara.

Sejumlah pakar memperkirakan, jika tekanan global terus berlanjut—terutama kenaikan harga energi—defisit APBN 2026 dapat menembus angka Rp1.400 hingga Rp1.500 triliun. Kondisi ini dinilai berimplikasi langsung pada kapasitas fiskal daerah.

Transfer ke daerah (TKD), yang sebelumnya mencapai sekitar 33 persen dari total APBN, kini disebut hanya berada di kisaran 17 persen atau sekitar Rp650 triliun dari total APBN sebesar Rp3.786 triliun.

Dampaknya tidak ringan. Pembangunan infrastruktur dasar di daerah terancam terhenti, bahkan muncul kekhawatiran keterlambatan pembayaran gaji aparatur di sejumlah wilayah.

Pandangan Kunci

Dalam wawancara usai diskusi, Guru Besar IPDN yang merupakan pakar otonomi daerah (otda), Selasa (17/3/2026) menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi saat ini bukan sekadar defisit anggaran, melainkan ketidakseimbangan struktural dalam hubungan pusat dan daerah.

Menurutnya, kebijakan fiskal nasional saat ini menunjukkan gejala kuat resentralisasi yang berpotensi melemahkan otonomi daerah.

“Yang kita hadapi sekarang bukan hanya soal angka defisit, tetapi bagaimana kebijakan itu berdampak pada kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus urusannya sendiri,” ujar Pro Djohermansyah Djohan, saat diwawancara wartawan usai bertemu Jusuf Kalla dikediamannya di Kebayoran Baru.

Ia menjelaskan, dalam prinsip konstitusi, otonomi daerah memberikan ruang bagi daerah untuk mengelola kewenangan, termasuk sumber daya ekonomi dan fiskal. Namun, kondisi saat ini justru menunjukkan penyempitan ruang tersebut.

“Kalau kewenangan ditarik ke pusat, sementara sumber daya keuangan juga dibatasi, lalu apa yang tersisa bagi daerah untuk diatur dan diurus? Tak ada lagi kehormatan jadi kepala daerah, kecuali kalau ada acara, dia duduk di depan”, kata Djohermansyah.

“Bahkan, banyak kepala daerah yang tak berani berjumpa dengan masyarakat karena dia tak dapat memenuhi janji-janji kampanye,” tandasnya.

Resentralisasi dan Risiko Sistemik

Djohermansyah menilai, kecenderungan penarikan kewenangan ke pusat tidak hanya berdampak administratif, tetapi juga berisiko sistemik terhadap stabilitas nasional.

Ia mengingatkan bahwa kekuatan negara justru bertumpu pada kekuatan daerah sebagai subsistem pemerintahan.
“Kalau daerah lemah, maka negara ikut lemah.

Sebaliknya, jika daerah kuat, maka dalam menghadapi tekanan global sekalipun, negara akan tetap kokoh,” ujarnya.

Menurutnya, dalam situasi global yang tidak menentu, pendekatan sentralistik justru memperbesar risiko kegagalan sistemik karena seluruh beban terpusat di pemerintah nasional.

Kritik terhadap Kebijakan Berbasis Insting

Lebih jauh, Prof Djohermansyah juga menyoroti proses perumusan kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berbasis kajian akademik yang matang.

Ia menyebut sejumlah kebijakan strategis cenderung lahir secara cepat tanpa melalui proses evidence-based policy yang memadai.

“Banyak kebijakan dibuat secara instan, tidak melalui prosedur yang baku dan kajian yang komprehensif. Akibatnya, implementasinya seringkali bermasalah,” katanya.

Dalam konteks ini, ia menilai kehadiran forum diskusi seperti yang digelar bersama Jusuf Kalla menjadi penting untuk menjembatani pemikiran akademik dengan pengambilan kebijakan praktis.

Beban Belanja Negara dan Prioritas Anggaran

Dalam diskusi tersebut juga mencuat kritik terhadap komposisi belanja negara.

Sejumlah program nasional serta belanja besar, termasuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan struktur kabinet yang dinilai gemuk, disebut berpotensi memperbesar tekanan fiskal.

Djohermansyah menilai pemerintah perlu melakukan penataan ulang prioritas anggaran secara lebih rasional.

“Dalam kondisi fiskal yang ketat, pemerintah harus mampu membedakan mana program prioritas dan mana yang bisa ditunda,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan yang terlalu ambisius tanpa dukungan fiskal yang kuat justru berpotensi memperdalam defisit.

Ancaman terhadap Pelayanan Publik

Salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan adalah potensi terganggunya layanan dasar publik di daerah.

Dengan berkurangnya transfer ke daerah, sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar berisiko mengalami penurunan kualitas.

“Daerah itu bertanggung jawab terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Kalau anggarannya dipangkas, maka masyarakat yang akan langsung merasakan dampaknya,” kata Prof Djohermansyah.

Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu ketimpangan antar daerah serta menurunkan kualitas pembangunan nasional secara keseluruhan.

Pentingnya Keseimbangan Kebijakan

Selain Djohermansyah, sejumlah pakar lain antara lain Prof Irfan Ridwan Maksum (FIA-UI) dan Armand (KPPOD) dalam forum tersebut juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kebijakan pusat dan daerah.

Mereka mengingatkan bahwa desentralisasi merupakan amanat reformasi yang telah berjalan lebih dari dua dekade, dan tidak seharusnya mengalami kemunduran.

Dalam diskusi itu terungkap pula, pemerintah pusat seharusnya berperan sebagai “orkestrator”, bukan sebagai pihak yang sepenuhnya mengendalikan kebijakan secara top-down di negara kepulauan yang amat luas.

Sementara itu, Jusuf Kalla dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa daerah merupakan fondasi utama negara.

Ia menekankan bahwa penurunan porsi anggaran daerah dapat berdampak serius terhadap stabilitas pembangunan.

Rekomendasi dan Jalan Keluar

Dari diskusi tersebut, muncul sejumlah rekomendasi yang dinilai mendesak, antara lain:

Pertama, Evaluasi kebijakan fiskal nasional, khususnya terkait defisit dan prioritas belanja.

Kedua, Penguatan kembali desentralisasi dan otonomi daerah.

Ketiga, Peninjauan ulang kebijakan yang dinilai tidak prioritas dalam kondisi fiskal terbatas

Keempat, Peningkatan kualitas perumusan kebijakan berbasis riset dan data.

Prof Djohermansyah menegaskan bahwa evaluasi kebijakan bukanlah bentuk kelemahan pemerintah, melainkan bagian dari proses perbaikan. “Evaluasi itu hal yang wajar dalam pemerintahan. Yang penting adalah keberanian untuk memperbaiki,” ujarnya.

Alarm bagi Pemerintahan

Diskusi di kediaman Jusuf Kalla tersebut menjadi semacam alarm bagi arah kebijakan fiskal dan tata kelola pemerintahan ke depan.

Para pakar sepakat bahwa tanpa perbaikan segera, kombinasi antara defisit anggaran, resentralisasi kebijakan, dan melemahnya kapasitas daerah berpotensi menimbulkan risiko serius bagi relasi pemerintah nasional dan pemerintahan lokal.

Dalam konteks itu, suara akademisi seperti Prof Djohermansyah Djohan dan kawan-kawan pakar lainnya menjadi penting sebagai penyeimbang, sekaligus pengingat bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh pusat kekuasaan, tetapi juga oleh daya hidup daerah-daerahnya.

(R/Wiztian Yoetri)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Pastikan Masyarakat Terlayani dengan Baik, Bupati Agam Inspeksi Perumda Tirta Antokan

Next Post

Bupati JKA Terima Niniak Mamak Tapakih, Bicarakan Pemanfaatan Lahan Terlantar untuk Tanaman Jagung

BeritaTerkait

Pengurus MUI Sumbar Masa Khidmat 2026 – 2031 Dilantik Rabu 2 September 2026 Ini
Berita

Pengurus MUI Sumbar Masa Khidmat 2026 – 2031 Dilantik Rabu 2 September 2026 Ini

31 Agustus 2026
63
Pacu Jawi Tanah Datar Juara I Nasional Lomba Video Kreatif Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026
Berita

Pacu Jawi Tanah Datar Juara I Nasional Lomba Video Kreatif Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026

31 Agustus 2026
17
KAI Divre II Sumbar Perkuat Keselamatan Perlintasan Melalui Pembekalan Kompetensi bagi 37 PJL Baru
Berita

KAI Divre II Sumbar Perkuat Keselamatan Perlintasan Melalui Pembekalan Kompetensi bagi 37 PJL Baru

31 Agustus 2026
16
Jelang Musda IX, 7 Bacalon Ketua LKAAM Padang Mengapung.
Berita

Jelang Musda IX, 7 Bacalon Ketua LKAAM Padang Mengapung.

30 Agustus 2026
57
Perhatian Besar Andre Rosiade untuk Kota Pariaman
Berita

Perhatian Besar Andre Rosiade untuk Kota Pariaman

29 Agustus 2026
19
Pererat Silaturahmi dengan Perantau, Bupati Agam Bertemu LUAS di Sawahlunto
Berita

Pererat Silaturahmi dengan Perantau, Bupati Agam Bertemu LUAS di Sawahlunto

29 Agustus 2026
13
Next Post
Bupati JKA Terima Niniak Mamak Tapakih, Bicarakan Pemanfaatan Lahan Terlantar untuk Tanaman Jagung

Bupati JKA Terima Niniak Mamak Tapakih, Bicarakan Pemanfaatan Lahan Terlantar untuk Tanaman Jagung

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,902)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,818)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (36,103)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,793)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (35,262)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,725)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (34,671)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (33,199)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,496)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,572)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
198
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
397
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
513
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
257
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
133
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
173
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
145
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
211
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
147

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In