
Oleh: Isa Kurniawan
(Koordinator Kapas/Komunitas Pemerhati Sumbar)
AKHIR tahun 2025 lalu, bencana hidrometeorologi akibat badai Monsun terjadi di Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar –mayoritas daerah yang terdampak adalah yang berhadapan dengan Samudera Hindia.
Badai Monsun yang membuat curah hujan tinggi berhari-hari menimbulkan banjir (bandang) yang mengakibatkan hancur/hanyutnya rumah, jembatan dan infrastruktur lainnya di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
Kemudian di daerah-daerah perbukitan yang tidak kuat menahan air hujan, terjadi longsor yang mengakibatkan satu atau dua kampung rata dengan tanah.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per hari Rabu 21Januari 2026, dari ketiga provinsi yang terdampak tersebut, terdapat korban jiwa sebanyak 1200 orang. Kemudian 143 orang masih hilang. Dan jumlah pengungsi 113.903 orang.
****
Dalam pepatah Minang; “sakali aia gadang, sakali tapian barubah”. Aia gadang –banjir bandang– karena debit air sungai yang tinggi telah membuat bentuk/alur/tatanan tapian itu berubah.
Adanya bencana yang mengiringi perubahan tadi, harus dipahami bahwa sebenarnya alam yang sifatnya dinamis itu sedang mencari keseimbangan baru –setelah dirusak di sana-sini.
“Usah tabang sumbarang tabang. Jikok lai takuik datang galodo. Urang kampuang, sawah jo ladang nan taniayo”
“Danga pasan unggeh jo buruang. Tolonglah kami nan lamah nan ko. Rimbo tampek kami balinduang. Jan di tabang juo.” –Pasan Buruang (Nuskan Syarief)
Penebangan kayu di hulu dan sepanjang DAS yang tidak terkendali telah membuat keseimbangan alam itu menjadi goyah. Dengan terjadinya banjir bandang, semua mata terbelalak, karena ribuan batang kayu ikut hanyut yang melanda rumah, dan memenuhi sungai/muara.
****
Bagi masyarakat Minang, tapian itu mempunyai posisi yang strategis, yakni sebagai tempat “pembersihan”. Seperti untuk mandi, mencuci, dan lainnya.
Tidaklah lengkap orang Minang itu kalau tidak ber-tapian. Sebab salah satu syarat sebagai orang Minang itu harus punya tapian. Di samping syarat lainnya, seperti; basuku, barumah gadang, basasok bajarami, basawah baladang dan bapandam kuburan.
Jadi jelas bahwa orang Minang itu harus punya tapian. Dan katanya; “rancak tapian itu dek nan mudo, dan elok nagari dek nan tuo”.
Saling bersinergi di dalam membangun nagari –dan menjaga tapian.
****
Dalam kehidupan sehari-hari, “sakali aia gadang, sakali tapian barubah” kerap didengar ketika ada pergeseran kekuasaan/pemimpin baru. Biasanya akan diiringi dengan terjadinya perubahan tatanan atau stuktur.
Kadang perubahan yang dilakukan itu seenak perut pemimpin baru, dengan melabrak aturan yang ada dan hanya mengedepankan kedekatan semata (nepotisme), atau dengan mencari-cari alasan/aturan yang dianggap benar (cocoklogi).
Saat ini banyak pemimpin itu yang gadang ota, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap mereka menjadi luntur. “Sakali ota gadang, sakali picayo barubah“, demikian.
Di samping itu, berputar-putar saja yang banyak. Seperti hiu berbeleng. Tinjau ke tinjau. Rapat ke rapat. Pidato ke pidato. Peresmian ke peresmian. Banyak seremonial-nya. Semua demi konten.
Persoalan apakah yang dikerjakan itu bermanfaat dan ada gunanya bagi masyarakat, itu soal lain. Yang penting ngonten jalan terus.
Tapi hati-hati saja dengan “aia gadang”, OTT KPK. Yang menyebabkan “tapian barubah“, jabatan menjadi hilang. *)























